Siang itu, Simposium Satu Abad Pramoedya Ananta Toer, Sastra Masuk Sekolah digelar di aula lantai 2 Insitut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) PGRI Bojonegoro, Selasa (4/2/2025). Di acara yang digelar Bojonegoro Raya tersebut ada tagline menarik “Siswa-Mahaiswa Patut Membaca Karya Sastra”
Nanang Fahrudin, seorang penulis dan penggerak literasi, salah satu narasumber menyampaikan betapa pentingnya belajar sastra. Diantaranya dengan menilik kiprah Pramoedya Ananta Toer. Pram menulis sastra dan sejarah.
Menurut dia, jika saja Pram tidak menulis secara detail tentang Tirto Adhi Soerjo dalam Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) yang disebutnya dengan tokoh Minke, maka generasi saat ini tentu tidak akan tahu bagaimana hidup Bapak Pers Indonesia tersebut. Yang ternyata, Tirto adalah cucu Bupati Bojonegoro Tirtonoto II.
Selain bisa mengetahui sejarah, membaca sastra juga bisa mengasah rasa empati manusia. Dengan sastra bisa menjadikan manusia bisa lebih memanusiakan manusia.
“Membaca sastra itu membaca kehidupan. Lewat sastra, kitab isa mempelajari manusia, jika mempelajari manusia, maka kita akan memanusiakan manusia,” ucap Nanang.

Menyongsong sastra masuk kurikulum sekolah, Nanang merekomendasikan beberapa cara agar aktivitas membaca sastra dekat dengan para siswa. Diantaranya ada perpustakan yang nyaman, ada grup-grup kecil diskusi sastra antar siswa, ada kegiatan me-review buku sastra, dan lain-lain.
“Yang pasti setiap bangsa akan maju dengan aktivitas membaca,” ungkapnya.
Anis Fatul Cholis, narasumber kedua yang merupakan pengawas Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur wilayah Bojonegoro-Tuban menyampaikan bahwa panduan sastra masuk kurikulum sudah menyebar di sekolah-sekolah dan sudah diterapkan dari jenjang SD hingga SMA. Buku-buku Pramoedya yang sebelumnya dilarang dibaca, dibakar, dan disita, kini menurut dia sudah aman bertengger di perpustakaan sekolah dan menjadi bahan bacaan siswa.
Hal tersebut didukung dengan penyampaian sekretaris Dinas Perpustkaan dan Kearsipan Bojonegoro Muhammad Cholil. Menurut dia, ada 500 ribu buku-buku yang disediakan untuk para siswa termasuk karya-karya sastra.
“Anggaran dari pemerintah untuk Dinas Perpustkaan dan Kearsipan Bojonegoro pada tahun 2025 ini mencapai angka Rp 16 miliar. Manakala ada kegiatan sastra atau budaya bisa koordinasi ke kami. Kami akan memfasilitasinya,” ucapnya.
Sementara Masnuatul Hawa dari program studi (prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP PGRI Bojonegoro, menuturkan bahwa pengajaran, pembacaan, maupun pembahasan sastra, sudah cukup intens di kampus. Hanya saja tetap perlu ditingkatkan.
“Terutama bagaimana mengimplementasikan sastra di dalam kehidupan masyarakat. Kami butuh kolaborasi dengan banyak pihak untuk itu. Salah satunya, Pemkab Bojonegoro,” jelasnya.
Satu abad Pramoedya ini merupakan kegiatan menandai 100 tahun Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan kelahiran Blora-Jawa Tengah tersebut lahir pada 6 Februari 1925 dan meninggal pada 30 April 2006. Pram banyak menghabiskan waktunya di penjara. Paling lama berada di pulau Buru menjadi tahanan politik semasa Orde Baru. Pram baru dibebaskan pada 1979.









