Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Bisnis

Dari Warisan Keluarga, Kerupuk Klenteng Bojonegoro jadi Warisan Budaya Tak Benda

Parto Sasmito
23/05/2026
Dari Warisan Keluarga, Kerupuk Klenteng Bojonegoro jadi Warisan Budaya Tak Benda

Sekitar dua tahun lalu, tepatnya bulan Mei 2024, pemilik usaha Kerupuk Klenteng Bojonegoro Anton Indarno dengan ramah menyambut tim dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro yang datang bersama mitra tim dokumentasi. Tim ini membuat video profil sehubungan dengan akan diberikannya anugerah Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) kepada Kerupuk Klenteng tersebut.

Pada pertengahan bulan Mei 2026, seperti dejavu, sambutan yang sama-sama hangat kembali diberikan Anton, saat Mastumapel menggelar Jurnalistik Trip mengunjungi tempat produksi Kerupuk Klenteng yang ada di Jalan Jaksa Agung Suprapto nomor 132 Bojonegoro.

Tempatnya berada di timur perempatan lampu traffic light Klenteng Hok Swie Bio. Dari pinggir jalan tampak baliho besar bertuliskan Warisan Budaya Tak Benda Kerupuk Abang Ijo Bojonegoro, Kerupuk Klenteng Rasa Asli d/h Tan Tjian Liem. Halamannya cukup luas untuk parkir kendaraan roda 2 dan 4. Rumahnya model klasik, bangunannya diperkirakan lebih dari 100 tahun.

Anton mengajak kami, para peserta Jurnalistik Trip, berjalan lewat lorong samping rumah di sebelah timur, tampak banyak karangan bunga ucapan selamat atas penghargaan WBTB terpampang di sepanjang pinggir lorong. Sebelum tour di tempat produksi Kerupuk, Anton mengajak duduk di bawah pohon besar yang rindang, tepat di belakang rumah induk.

“Tahun 2024, Kerupuk Klenteng Abang Ijo Bojonegoro diakui secara nasional sebagai Warisan Budaya Tak Benda karena rasa asli dari resep turun-temurun dan metode pembuatannya yang mempertahankan keaslian,” ujar Anton.

Peserta Jurnalistik Trip #5 Mastumapel saat melakukan wawancara dengan Anton Indarno/Foto: Nisa

Cikal bakal Kerupuk Klenteng, kata Anton, bermula dari pasangan Tan Tjian Liem dan Oei Hay Nio yang sempat membuka toko kelontong di sekitar Pasar Kota Bojonegoro. Namun usaha tersebut tidak bertahan lama. Tan kemudian mencoba peruntungan baru bersama dua rekannya dengan merantau ke Sidoarjo untuk membangun bisnis kerupuk. Lagi-lagi usaha itu kandas di tengah jalan.

“Dua temannya pulang, tetapi Tan memilih tetap bertahan di Sidoarjo,” ujar Anton yang mengenakan kaos merah.

Di kota itu, Tan kembali mencoba bangkit dengan membuka usaha kain batik. Namun nasib serupa kembali terjadi. Usaha tersebut juga akhirnya tutup. Meski berkali-kali gagal, Tan tidak menyerah. Ia memilih kembali ke Bojonegoro dan memulai usaha baru yang kelak justru melegenda.

Sekitar Maret 1929, Tan mulai memproduksi kerupuk di kawasan Jalan Jaksa Agung Suprapto, yang lokasinya hingga kini masih menjadi sentra produksi. Awalnya, kerupuk yang dibuat hanya berwarna putih. “Namun dirasa tampilannya kurang menarik perhatian pembeli, akhirnya dibuat warna merah, kuning, dan hijau,” kata Anton.

Keunikan warna-warni kerupuk itu kemudian cepat dikenal masyarakat. Letak tempat produksinya yang berada dekat klenteng membuat warga menyebutnya sebagai “Kerupuk Klenteng”. Sebagian masyarakat juga mengenalnya dengan sebutan “kerupuk abang ijo” karena dominasi warna merah dan hijau pada produknya.

Anton merupakan generasi ke-4 dari dari keluarga Tan Tjian Liem. Pria yang berlatarbelakang fotografer itu mulai memegang usaha keluarga sejak tahun 2010. Kala itu, dirinya masih di Surabaya, sering pulang ke Bojonegoro karena mengurus mendiang ayahnya saat itu yang sedang sakit.  Karena kondisi tersebut, akhirnya Anton harus fokus dan menetap di Bojonegoro, mengurusi usaha Kerupuk Klenteng tersebut.

Sepeninggalan ayahnya, Anton memegang penuh usaha Kerupuk Klenteng dengan mempertahankan rasa asli sejak tahun 1929. “Sebagai quality control,  saya masih dibantu ibu untuk memastikan rasanya tetap autentik dengan resep asli dari keluarga,” tuturnya.

Konsistensi pada proses dan mempertahankan rasa asli, akhirnya pada 2024, Kerupuk Klenteng diganjar menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Prosesnya juga cukup panjang mulai dari penulisan sejarah dan perjalanan kerupuk klenteng menjadi buku, dokumen-dokumen, hingga video profil.

Gelar WBTB tentunya menjadi nilai yang penting, karena tidak sembarang masuk dalam kategori tersebut.  Anugerah tersebut akhirnya menjadi ikon bagi Kerupuk Klenteng dalam branding.  Mulai dari papan nama, hingga kemasan kerupuk kini terdapat cap kebanggaan tersebut.

Saat ini, Kerupuk Klenteng memiliki tiga jenis kemasan yang seluruhnya sudah menggunakan standar food grade demi menjaga keamanan produk. Untuk kemasan reguler, kerupuk dibungkus menggunakan kresek putih yang diikat tali rafia dan dijual mulai ukuran seperempat kilogram dengan harga Rp15 ribu. Meski terlihat sederhana, Anton memastikan bahan plastik food grade yang digunakan sudah melalui uji laboratorium.

Tak hanya itu, kemasan reguler kini juga dilengkapi label produk agar tampil lebih modern dan mudah dikenali konsumen. Naik satu tingkat, terdapat varian Top Cemerlang yang menggunakan kerupuk hasil penyortiran satu kali untuk menghasilkan kualitas lebih baik dibanding kemasan reguler. Produk ini dikemas menggunakan aluminium foil dan dibalut totebag hijau, sehingga mampu menjaga kerenyahan kerupuk hingga 90 hari. Karena daya tahannya lebih lama, kemasan ini banyak diburu untuk oleh-oleh luar pulau.

Sementara kualitas terbaik hadir dalam kemasan Top Premium. Kerupuk yang masuk kategori ini melewati proses sortir dua kali sebelum dikemas. Kemasan premium tersebut mampu menjaga kualitas produk hingga 30 hari dan banyak dipilih pembeli luar kota.

Tags: BojonegoroKerupuk KlentengKuliner
Previous Post

Warna Warni Rasa Kerupuk Klenteng

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Jurnalistik Trip #5: Cerita Jejak Rasa Kerupuk Klenteng Bojonegoro

Jurnalistik Trip #5: Cerita Jejak Rasa Kerupuk Klenteng Bojonegoro

17/05/2026
Baca SERUNI, Suguhan Terbaru Perpustakaan dan UKMP Griya Cendekia Unugiri  

Baca SERUNI, Suguhan Terbaru Perpustakaan dan UKMP Griya Cendekia Unugiri  

16/05/2026
JFX Hoery: Umurku Lagi Wolung Puluh Siji

JFX Hoery: Umurku Lagi Wolung Puluh Siji

28/04/2026

4 Tips Produktif Menulis Ala JFX Hoery, Sang Maestro Sastra Jawa Bojonegoro

29/04/2026
Cerita Strategi Anton Indarno Merawat Bisnis Kerupuk Klenteng, Warisan Keluarga Sejak 1929

Cerita Strategi Anton Indarno Merawat Bisnis Kerupuk Klenteng, Warisan Keluarga Sejak 1929

19/05/2026
Warna Warni Rasa Kerupuk Klenteng

Warna Warni Rasa Kerupuk Klenteng

21/05/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023