Bulan puasa di tahun 2026 jatuh pada bulan kedua. Sebagai warga yang hidup di desa, penduduk selalu antusias menyambut bulan puasa dalam bentuk megengan.
Megengan merupakan tradisi penyambutan bulan puasa yang juga sebagai upacara doa-doa untuk keluarga yang sudah berpulang. Ada dua cara melakukan megengan. Pertama, tiap rumah membawa besek atau berkat atau seperangkat nasi dan lauk ke mushola atau masjid, lalu warga akan doa bersama dan saling bertukar berkat.
Cara kedua, megengan dilakukan per keluarga. Setiap rumah akan membuat berkat tergantung jumlah tetangga dan sanak saudara yang akan dibagikan. Ada yang puluhan bahkan ratusan. Tidak ada penjadwalan atau piket, siapapun bebas megengan kapapun. Tidak heran jika sehari bisa dapat berkat sampai lima kali.
Kue Tradisional Apem Khas Megengan
Tidak ada syarat lauk-pauk atau jananan untuk megengan. Namun, umumnya masyarakat selalu membuat apem sebagai simbol dari megengan.
Menurut orang-orang tua, apem berasal dari kata ampun yang memiliki makna meminta pengampunan, baik untuk diri sendiri, keluarga maupun leluhur yang sudah tiada. Oleh karena itu, megengan juga disebut kirim nduwo atau kirim doa.
Sumber lain, dilansir dari unesa.ac.id, apem berasal dari Bahasa Arab afwun atau afuwwun yang berarti ‘maaf’ atau ‘ampunan’. Pengaruh tersebut bisa jadi masuk ke Nusantara pada masa penyebaran Islam di abad 15.
Apem sendiri memiliki tekstur empuk, sedikit kenyal, manis, gurih dari parutan kelapa, wangi dari Kis maupun irisan nangka yang menjadi topingnya.
Cara Membuat Apem
Sebagai kaula muda, saat megengan tentu kami hanya membantu yang mudah-mudah saja sambil mempelajari trik-trik memasak dari para orang tua pada Jumat (6/2/2026).
Mula-mula emak melarutkan pengembang merk Kis ke dalam segelas air. Jika ada buih-buih atau busa di air, tandanya pengembang masih aktif dan bisa digunakan membuat apem.
Kami ditugasi memarut kelapa tua satu buah yang sudah dikupas bersih putih. Setelah itu emak menyampurkan 1,5kg tepung beras, 1,5kg tepung terigu, 500gr gula pasir dan pengembang yang sudah larut ke dalam bak besar. Hasil parutan kami juga ikut dicampur bersama air sedikit demi sedikit sampai adonan menjadi kental mirip adonan martabak manis atau terang bulan.

Setelah tercampur rata, nangka yang dipotong kecil-kecil ikut dicampurkan sebagai toping opsional, boleh diberi boleh tidak. Bahkan saat mengadon, harum apem sudah menguar membuat produksi saliva makin besar. Usai semua tercampur, adonan bisa dicicipi sedikit untuk memastikan tingkat kemanisannya. Jika sudah pas, adonan didiamkan minimal 1 jam agar mengembang.
Setelah mengembang, kami memanaskan kukusan dan mengolesi cetakan apem berdiameter 6,5cm dengan minyak goreng agar adonan nantinya tidak lengket sehingga mudah dikeluarkan. Kami memasukkan adonan ke cetakan kira-kira 3/4nya.

Setelah kukusan panas, apem-apem dalam cetakan dimasukkan dan dikukus kurang lebih 15-20menit. Saat apem itu keluar dari kukusan, kami segera mencicipinya panas-panas. Wah, benar-benar nikmat dan wangi.
Adonan tersebut menghasilkan kue apem sekitar 80 biji. Sisa adonan yang tinggal sedikit kami jadikan eksperiman apem panggang dan jadi 6 biji. Mula-mula kami memanaskan cetakan wingko di atas kompor yang diberi seng.

Kami beri sedikit minyak di tiap lubang. Saat sudah panas, adonan kami tuang. Jika sudah agak kering, adonan kami balik dan tunggu hingga matang. Aroma apem yang dipanggang lebih kuat dari pada yang dikukus. Dari segi rasa, apem panggang lebih legit dan gurih. Tekstur luarnya garing tapi tetap lembut di dalam.

Apem bagi kami bukan sekadar kue tradisional. Apem adalah simbol penghormatan pada sesama, simbol doa-doa dan tradisi yang terus lestari.








