Senja merangkak, memulas langit Bojonegoro dengan warna orange kemerahan. Surup atau sandeolo, begitu masyarakat Jawa menyebutnya. Yakni waktu peralihan siang menuju malam.
Ketika itu angin berembus dingin, saya dan lima kawan tiba di Dusun Ngelo Desa Tambakromo Kecamatan Malo Kabupaten Bojonegoro. Waktu itu kami dalam perjalanan sepulang dari Festival Samin di Dusun Jepang Desa/Kecamatan Margomulyo, Sabtu (5/72025).
Kami disambut hangat oleh pasangan suami istri, Koriyah dan suaminya, yang tak lain orangtua teman kami. Sambil selonjoran merenggangkan otot, 6 cup berisi bubur sumsum terhidang di hadapan.
Bubur itu berwarna hijau, berkuah gula merah dan santan. Wangi pandan menyeruak ketika bubur dijunjung untuk dimakan. “Ini namanya Bubur Suro,” ujar Koriah menjelaskan.
Saat sesendok bubur itu mendarat di lidah, ada rasa gurih dari tekstur bubur yang lembut, manis dari gula merah, gurih dari santan kelapa, berpadu sempurna dengan aroma harum daun pandan. Teksturnya yang lembut meluncur mulus di kerongkongan, menyisakan kehangatan yang menjalar ke seluruh perut. Nyaman. Bubur itu tandas tak bersisa dalam sekejap.
Bubur Suro Warisan Leluhur Pengikat Persaudaraan
Menemani kami duduk, Koriah lantas menuturkan, Bubur Suro ini bukan sekadar hidangan biasa. Ia adalah tradisi yang tak pernah alpa dilaksanakan oleh warga Ngelo setiap tanggal 10 Suro atau 10 Muharram. Koriah tak tahu sejak kapan tradisi itu ada. Karena sejak ia kecil, tradisi itu sudah diwarisi orangtuanya. “Tradisi Suronan ini sudah ada sejak saya kecil,” kenang Koriah yang saat ini berusia 47 tahun.
Dahulu, Bubur Suro terbuat dari beras, lengkap dengan toping kacang-kacangan dan parutan kelapa. Namun, seiring waktu, bubur beras ini dirasa terlalu mengenyangkan dan kurang diminati.
Sekitar empat tahun lalu, masyarakat Ngelo bersepakat, bubur beras diganti dengan bubur sumsum atau bubur tepung yang lebih ringan, tapi tetap kaya rasa.
Setiap 10 Suro, kesibukan di Ngelo terasa berbeda. Warga di rumah masing-masing membuat Bubur Suro. Bubur yang sudah jadi, dibungkus dalam plastik. Setiap rumah bebas membawa berapa pun bungkus bubur, seikhlasnya, semampunya.
Malam harinya, bubur-bubur itu beramai-ramai dibawa ke Masjid Jamius Shodiqin. Warga tumpah memenuhi masjid tersebut.
Sebelum menyantap bubur bersama, masyarakat malaksanakan Shalat Tasbih terlebih dahulu, dilanjutkan dengan doa bersama. Sebuah momen sakral yang mengikat erat tali persaudaraan.
Bubur Suro: Syukur, Tolak Bala, dan Keakraban

Tradisi Bubur Suro ini menyimpan makna yang dalam. Ia adalah ungkapan rasa syukur atas segala nikmat sehat, kebahagiaan, dan kelimpahan yang telah dirasakan.
Para leluhur, menurut Koriah, mengajarkan bahwa tanggal 10 Muharram adalah hari yang istimewa. Konon, pada tanggal inilah perahu Nabi Nuh diselamatkan.
Selain itu, Bubur Suro juga menjadi simbol pengharapan. Dahulu, kawasan Ngelo seringkali dilanda banjir, atau yang oleh warga setempat disebut sangkraek (bala/bencana). Bubur suro ini seolah menjadi jimat, permohonan agar masyarakat Ngelo terhindar dari berbagai macam musibah.
“Kita kan menganut leluhur-leluhur. Jadi ya apa yang dilakukan, tetap kita lakukan sampai sekarang,” tutur Koriah.
Tak kalah penting, sesi bercengkerama dengan para tetangga sambil menikmati bubur yang gurih, ditambah kuah yang harum, manis juga gurih, menjadi ajang mempererat hubungan.
Di sana, orang-orang saling mencicipi bubur buatan tetangga masing-masing. Jika ada bubur yang berlebih, tak sungkan untuk dibagikan kembali ke tetangga lainnya. Hangatnya kebersamaan, lezatnya bubur suro, semua melebur menjadi satu.
Resep Bubur Suro
Pembuatan bubur suro ini rupanya cukup sederhana. Tepung beras dicampur dengan air hingga teksturnya menyerupai adonan rempeyek. Setelah tercampur rata, bubur dimasak dan terus diaduk hingga air menyusut dan tekstur bubur menjadi lembut.
Untuk kuahnya, santan dan gula merah atau gula aren dicampur jadi satu. Tak lupa, selembar daun pandan ikut direbus bersama agar aroma kuah semakin harum.
Warna bubur ini tidak selalu hijau. Tak ada ketentuan paten soal warna bubur ini. Tergantung selera masing-masing pembuatnya, bisa berwarna apa saja, atau bahkan dibiarkan tetap putih alami.
Di Ngelo, Bubur Suro bukan sekadar makanan. Ia adalah rasa syukur, pengharapan, dan kebersamaan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Sebuah tradisi yang tak lekang oleh waktu, menghangatkan tak hanya perut, tetapi juga jiwa.









