Dulu, masyarakat Bojonegoro akrab dengan kosakata gendul, jengklong, kemul, kapal mabur, dan lain sebagainya. Kosakata itu dipakai dalam percakapan keseharian. Akan tetapi, kini kosakata-kosakata serupa itu telah banyak hilang. Generasi z hampir tak mengenal kosakata tersebut. Minimal baru mendengar pertama kalinya Ketika ditanya.
Lalu, bagaimana memandang fenomena ini? Akankah Bahasa jawa akan hilang tergantikan dengan bahasa Indonesia dan Bahasa asing?
Menurut Nono Warnono, sastrawan jawa Ketua Pamarsudi Sastra Jawa Bojonegoro (PSJB), bahasa yang digunakan masyarakat bersifat dinamis. Jadi, bahasa akan berkembang seiring perkembangan kebudayaan manusia. “Bahasa itu dinamis dan terus berkembang, ada masanya kosakata tertentu jarang terpakai namun kosakata yang lain intensitas pemakaiaannya tinggi,” tuturnya kepada mastumapel.com, Senin (2/12/2024).
Nono yang meraih penghargaan Rancage tahun 2014 tersebut berkeyakinan bahasa jawa tak akan mati. Ia mengutip George Quinn, peneliti dan pemerhati bahasa sastra Jawa dari Universitas Canbera, Australia, bahwa bahasa dan sastra jawa justru lebih berkembang di era digital, dibanding bahasa daerah/bahasa ibu negara lain di dunia. Hal itu disampaikan George Quinn saat temu sastrawan Jawa di Blitar pada Oktober 2024.
Meski demikian, harus diakui bahwa ada fenomena menyusutnya penutur dialek Bojonegaran (atau Jonegoroan) pada kosakata tertentu. Namun, bagi Nono itu bukan sebuah persoalan, karena hal itu tak terjadi merata. “Lebih banyak di wilayah perkotaan terutama generasi muda,” tuturnya.
Menurut dia, pada era digital saat ini, di mana setiap orang mempunyai akun media sosial, maka justru bahasa dan sastra Jawa tetap eksis. Salah satunya bisa dilihat dengan banyaknya konten di berbagai platform media sosial yang semakin digemari. Diantaranya memvisualkan karya sastra jawa alaming lelembut yang masif.
“Meski pasang surut bahasa Jawa tetap hidup di tengan penuturnya. Terlebih pemerintah selama ini menyediakan lembaga pelestari untuk ngopeni: balai bahasa (provinsi), badan bahasa (pusat). Adanya nomenklatur Kementerian Kebudayaan, di mana bahasa masuk di dalamnya, ada harapan baru bahasa dan sastra daerah kopen,” terang Nono.[n]









