Jika Anda selalu melihat dunia ini dengan negatif, memandang orang-orang sekitar tak memiliki kepedulian lagi pada diri kita, lalu kita merasa sendiri dan berputus asa di dunia ini, maka bacalah buku ini. Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna. Mungkin hidup Anda akan berubah.
Buku ini saya beli di lapak kecil yang dibuka Gramedia di Pendopo Malowopati Bojonegoro di akhir 2025, sebagai etalase di sebuah acara. Tak ada diskon, tak ada apa-apa. Seingat saya, harganya 93.000. Mulai membacanya, buku ini terasa dekat, meski tak semua yang ada di alur cerita sama dengan yang kualami. Entahlah. Mungkin lantaran bahasa yang digunakan sederhana, mudah ditangkap pembaca.
“Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” berkisah tentang Ale (tokoh utama), pekerja di Jakarta, memiliki tubuh besar seperti kingkong, menjadi bahan olok-olok karena bau badan, kulit hitam, dan aneka ciri “orang jelek” ada padanya. Ale putus asa. Ia melihat dunia ini gelap baginya, segelap kulitnya. Tak ada yang peduli dengannya. Orang-orang hanya menertawakannya saja. Seakan-akan ia bukanlah manusia normal. Tapi manusia sampah. Manusia bau.
Ale pergi ke psikolog. Mencari obat agar hidupnya bisa bahagia. Tapi, ternyata kebahagiaan tak juga diperolehnya. Satu tujuannya kini: bunuh diri.
Tapi sebelum bunuh diri, ia ingin merasakan seporsi mie ayam langganannya. Penjual mie ayam, Pak No, adalah penjual yang baik. Ia adalah satu di antara sedikit orang yang memanusiakan Ale. Menyapanya dengan “Mas Ale” bukan si bau atau si kingkong. Sayang, gerobak mie ayam sudah tak ada. Pak No meninggal dunia.
Singkat cerita, Ale ikut prosesi pemakaman Pak No, bertemu keluarganya. Lalu berjalan dengan gontai hendak pulang. Di tengah perjalanan ia jadi korban salah tangkap polisi, dimasukkan sel, disiksa, dan bertemu bandar narkoba.
Di tengah keinginan mati, Ale masuk ke dunia hitam, menjadi bagian bisnis narkoba. Dia lantas heran, di dunia hitam ini ia malah merasa menjadi manusia. Karena bareng bos narkoba, orang-orang hormat sekali dengannya. Namanya berubah dan ditakuti: Si Black.
Kebenciannya pada dunia mulai berubah ketika bertemu dengan office boy di kantornya yang miskin namun selalu bahagia. Pertemuan itu malah terjadi di rumah pelacuran. OB itu siang kerja di kantor, malam bersih-bersih di rumah pelacuran. Dari sinilah ia mengubah cara pandang akan hidup. Ia mulai berpikir positif, meninggalkan cara pandang negatif. Bahwa banyak orang menyayanginya, banyak orang merindukannya, termasuk seorang ibu tua yang telah menganggapnya seperti anak sendiri.
Ale yang putus asa, lalu masuk ke jurang hitam, tapi kemudian bangkit menjadi Ale yang baru penuh semangat, penuh harapan, dan penuh kasih sayang. Lewat cerita ini, Ale mengajarkan banyak hal. Namun pada intinya harapan menjadi lebih baik adalah nyala semangat yang mengubah hidup. Dan satu pelajaran penting: hidup ditentukan cara pandang. Tergantung kita memilih terjebak pada kacamata negatif yang melahirkan keputusasaan, atau kacamata positif yang melahirkan semangat menjadi lebih baik.
Selamat Membaca!







