Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Bojonegoro Kota

Jejak Pati di Gandari 15; Suarakan Isu Traumatik dan Praktik Dukun atau Ustadz Sesat

Dari pentas teater Lintanggiri Unugiri Bojonegoro

Mukaromatun Nisa
27/05/2025
Jejak Pati di Gandari 15; Suarakan Isu Traumatik dan Praktik Dukun atau Ustadz Sesat

Pentas teater Lintanggiri di kampus Unugiri/ Foto: Nisa

Mastumapel.com – Dua ruang kelas yang menyatu di lantai tiga Fakultas Tarbiyah Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro sedikit berbeda. Ruang dipenuhi penonton. Mereka menyaksikan pertunjukan teater dalam Gelar Pentas Perdana Lintanggiri (Gandari) ke-15, Sabtu (24/5/2025).

Gelap hampir menyelimuti salah satu ruang. Cahaya hanya menyorot ruang yang dijadikan panggung. Ada kain hitam menutupi dinding dan di atasnya terpasang logo Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Lintanggiri. Mata 152 penonton tertuju pada satu titik: panggung yang disorot lampu. Mereka tidak bisa melihat siapa penonton yang baru masuk atau siapa orang di depannya sebab semua serba hitam dan gulita, bak berada di ruang bioskop.

Pukul 20.45 WIB, pentas teater dari Lintanggiri mulai. Ranti, gadis desa usia 19 tahun yang tumbuh dan besar dengan trauma yang mendalam bercerita pada seorang jurnalis bernama Rara. Ia membuka jahitan luka yang masih basah. Ranti bercerita dengan berat. Ia hidup tanpa ibu sejak usianya 9 tahun, dan tanpa mengetahui siapa ayahnya.

Seperti adegan film yang diputar ulang, Ranti kembali menyetel kaset lamanya. “Ibuku diperkosa tujuh orang ketika ia bekerja sebagai asisten rumah tangga di kota,” kisahnya pilu parau.

Majikan beserta koleganya yang berdasi dan bekerja di kantoran itu, cerita dia, menyerbu tubuh Hesty, sang ibu tanpa koma. Trauma itu menimbulkan luka mendalam dan mengakar kuat di dada Hesty, sang ibu, yang membuatnya enggan menikah meski ia sudah kepala tiga. Membesarkan Ranti, putri semata wayangnya dengan kasih tanpa kurang sudah lebih cukup baginya.

Namun, tidak begitu dengan Srining, ibu Hesty. Sebagai ibu yang tinggal di desa dan acapkali mendengar cibiran tetangga, ia tidak betah melihat Hesty melajang dengan satu anak. Penolakan putri tunggalnya kepada setiap laki-laki dianggap karena diguna-diguna atau diikuti sosok halus, meski sejatinya Hesty menolak sebab menyimpan trauma terhadap laki-laki.

Demi menyembuhkan anaknya, Srining sesekali pergi ke dukun terkenal di desanya. Siapa orang tua tak ingin anaknya bahagia. Mengenakan daster motif bunga-bunga dan kerudung hijau tosca, Srining yang bertubuh bongsor agak kesulitan duduk dan bersimpuh di damping dipan dukun tua yang dipanggil Mbah Sarjo. Di antara dipan itu, kelopak-kelopak maar bertebaran seperti di atas gundukan kuburan.

Dukun yang mengenakan baju motif garis hitam dan cokelat serta blangkon itu menyalakan dupa yang aromanya menyeruak. Menenangkan yang mistis. Sarjo menangkupkan kedua tangannya yang memegang dupa, memutarnya perlahan di atas sajen yang tumpah-ruah di tampah. Ia meletakkan dupa, lalu menyembah kerisnya seraya berdoa entah apa dan kepada siapa.

“Anak kulo mboten remen kaleh lare jaler, Mbah. Umure sakniki tiga puluh tahun,” curhat Srining mengenai Hesty yang tidak suka pada lelaki bahkan ketika umurnya sudah 30 tahun.

Sarjo yang sudah mengira bahwa Srining akan datang kembali, memintanya membawa Hesty memasuki ruangan praktik perdukunannya. “Aku emoh, Buk. Wis bosen, gak onok faedahe,” tolak Hesty yang sangat bosan dengan praktik-praktik penyembuhan ala dukun yang sering dilakukan ibunya.

Hesty yang awalnya meronta pada akhirnya ikut duduk bersimpuh di samping ibunya. “Namine Hesty, Mbah. Ngapunten, larene isinan,” ucap Srining.

Sarjo dengan tanggap melihat kalender 2015 di dinding belakang, menghitung weton Hesty: Rabu Pon. Sebatang kretek ia nyalakan dan hisap pelan-pelan. Ia memberi solusi, “Jika ingin anakmu sembuh, maka biarkan aku merawatnya. Biarkan aku menjadi suaminya,” tawar Sarjo yang lalu pamit ke belakang.

Sarjo pun menghilang dari panggung pentas. Hesty cepat memberikan penolakan yang disampaikan kepada ibunya. “Sik to, Nduk, rungokno Ibu, sik. Ibu wis kesel, sampek nggadekno sawah mung demi kowe mari,” curhatnya.

“Iki wis tua, Bu. Ra nduwe untu!” tolak Hesty yang langsung keluar panggung.

Sarjo yang bungkuk kembali masuk ruangan dengan langkah yang tak lagi gagah, bahkan tangannya sedikit gemetar memegang ramuan warna kuning-kecoklatan di botol kaca yang tertutup rapat. Ramuan untuk Hesty yang akan membuatnya tidak sadarkan diri selama beberapa saat.

Sarjo yang kadung nafsu setengah mati dengan Hesty, menawarkan uang dua puluh lima juta kepada Srining, dengan syarat, Srining mampu membawa Hesty kembali ke rumah dukun itu saat tidak sadar usai meneguk ramuan. Ekonomi yang begitu korat-karit, membuat Srining menyetujui transaksi tersebut.

Ia pun menyeret anak satu-satunya yang pingsan menuju dipan di kamar Dukun Sarjo. Di belakangnya kursi-kursi rusak bertumpuk tidak beraturan. Ia meninggalkan Hesty sendirian dan pulang menikmati uang yang tidak seberapa itu.

Pulang dari mageri (istilah untuk memberikan pagar perlindungan dengan sesuatu yang tak kasat mata) rumah salah satu tetangga, Sarjo begitu bahagia membawa sebungkus nasi yang berisi jampi-jampi agar Hesty mau merelakan tubuhnya untuk digauli dengan senang hati.

Sebelum Hesty membuka mata, Sarjo terlebih dulu mengikat kakinya dengan rantai seperti monyet di pertunjukan jalanan. Begitu Hesty sadar, ia membawakannya selembar lingerie warna merah yang langsung dibuang oleh Hesty.

Dengan cekatan, Dukun Sarjo memungut baju itu dan juga nasi yang dilempar Hesty saat pertama kali ia siuman. Ingin romantis seperti pengantin baru yang makan sepiring berdua, Sarjo pun ingin melakukan hal yang sama, tapi Hesty dengan kasar menampis sendok berisi nasi yang dilayangkan ke mulutnya.

Geram sebab menerima penolakan beberapa kali, Sarjo memunguti nasi yang berceceran itu, menjejalkannya ke mulut Hesty beberapa kali. Isak tangis dan raungan Hesty menggema. Ia berontak, tapi tubuh kecilnya begitu ringkih melawan Sarjo. Ia mengalami banyak kekerasan dan diperlakukan bak binatang. Diseret, dipukuli, dilempar ke lantai, dicekik dan akhirnya terbaring tak berdaya di atas dipan.

Sarjo yang membabi buta dengan nafsunya naik di atas dipan. Tawanya menggema, juga muncul suara-suara tawa yang malah berseru agar Sarjo melakukan aksi bejatnya. Bak fenomena di sekitar kita kini, ketika perempuan hanyalah objek lelucon, dan adegan kesengsarannya di ranjang sebagai hiburan banyak mata.

Dukun Sarjo melepas kancing bajunya satu per satu, dengan tawa yang masih menggema. Sedang Hesty terkulai tak berdaya dengan keringat dan bulir-bulir air mata yang tidak pernah kering menganak sungai di pipinya. Dada Sarjo yang tinggal tulang dan kulit itu tampak mengkilat disorot lampu kekuningan.

Namun, tiba-tiba datang tiga pemuda yang dengan cepat menyeretnya, memukulinya. Bersamaan dengan itu, Srining dan Ranti yang datang dengan air mata bercucuran. Nenek dan cucu itu memeluk Hesty yang sudah tak beryawa dengan penuh penyesalan. Air mata yang tak lagi bisa menghidupkan Hesty yang malang.

Riuh tepuk tangan terdengar, entah puas karena kemesuman Sarjo atau karena benar-benar drama tersebut epik disajikan.

Anti Nabila, salah satu penonton perempuan berkomentar, ia sangat menaruh iba pada tokoh Hesty, apalagi saat adegan kekerasan fisik yang dilakukan Sarjo. “Tapi ini hanya drama,” ucapnya.

Meski demikian, ia mengambil pesan, bahwa sebagai perempuan, harus senantiasa hati-hati, utamanya di kota asing. Ia juga memberi masukan agar tim teater selalu kompak, mengingat saat drama mulai tirai sedikit telat dibuka.

Bagi Cindy, pemeran sosok Hesty, karakter itu meninggalkan kesan mendalam baginya secara pribadi. Ia menyadari bahwa trauma tidak bisa dianggap sepele, dan waktu bukan satu-satunya penyembuh. “Butuh dukungan serius, baik dari psikolog, psikiater, keluarga, dan lingkungan. Tokoh Hesty mengajarkan bahwa orang yang punya trauma tidak selalu ingin mati. Justru ada tekad kuat untuk bertahan, meski dunia seolah menolaknya,” ucapnya penuh empati.

Bagi Cindy, memerankan sosok Hesty bukanlah perkara mudah. Karakter ini begitu kompleks: seorang perempuan yang peka terhadap urusan keluarga, penuh kasih sayang kepada anaknya, namun menyimpan luka dalam yang tak pernah benar-benar sembuh. “Hesty adalah ibu yang baik, tapi dihantui trauma sepanjang hidupnya,” ujar Cindy.

Trauma itu tak hanya menghancurkan kepercayaannya pada laki-laki, tetapi juga menyisakan luka yang termanifestasi dalam kehidupan sehari-harinya sebagai ibu dari Ranti, anak yang lahir dari tragedi pemerkosaan yang dialaminya.

Cindy mengaku, untuk memahami kedalaman rasa dan ketegangan batin Hesty, ia memerlukan proses yang tidak sebentar. “Selama hampir satu bulan setengah saya mendalami karakter ini,” ungkapnya.

Tantangan terbesarnya justru datang dari kenyataan bahwa ia tak menemukan sosok serupa di sekelilingnya. “Saya baru benar-benar menangkap esensi Hesty dua minggu sebelum pementasan, setelah menonton film 27 Steps of May. Di situ saya menemukan fragmen-fragmen emosi yang terasa senapas dengan Hesty,” tambahnya.

 

Proses Kreatif Menulis Naskah Jejak Pati; Terinspirasi dari Fenomena Nyata di Sekitar

Salah satu adegan dalam pentas teater di Gandari 15/Foto: Nisa

Riris Wijayanti, anggota Teater Lintanggiri, penulis naskah Jejak Pati, menuturkan bahwa proses kreatifnya berlangsung panjang dan penuh revisi. Naskah pertama yang ia tulis pada akhir Januari 2025 bercorak semi-surealis: ada alien, televisi, dan tokoh penerjemah bahasa isyarat. Namun, naskah itu dinilai terlalu absurd oleh rekan sesama tim. Ia pun merombak ulang.

Versi kedua ia tulis di Februari dengan pendekatan yang lebih mencekam. Naskah itu penuh unsur horor: pesugihan, penumbalan, dan tokoh-tokoh yang mengalami gangguan psikis. Namun lagi-lagi, Riris mendapat kritik: isu yang ingin disampaikan terlampau banyak hingga pesan naskah jadi kabur.

“Intinya aku ingin menunjukkan bahwa praktik perdukunan itu bukan hal yang patut dipercaya, karena banyak yang menyalahgunakannya untuk hal-hal bejat,” ujarnya.

Setelah beberapa kali revisi besar, pada April, ia bertemu Diki, yang membantunya memplot ulang cerita: ekonomi, seksualitas, dan trauma sebagai tiga poros utama. Dari sanalah struktur naskah menjadi lebih fokus.

Naskah final rampung setelah hampir empat bulan proses: dari Januari hingga akhir April. Meski jika dihitung waktu menulis aktif, hanya dua minggu ia tuntaskan inti naskah. Rintangan terbesarnya justru ada pada manajemen waktu, karena bersamaan dengan kegiatan kampus seperti Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) dan micro teaching.

Inspirasi naskahnya datang dari berbagai sumber nyata. Salah satunya pengalaman personal warga desanya yang masih banyak yang percaya pada praktik perdukunan atau ustadz yang bisa melakukan sesuatu hanya dengan ritual atau doa. Di setiap persimpangan jalan, lazim ditemui bunga-bunga berceceran atau di dalam kendi.

“Dukun atau ustadz yang dianggap pintar itu sebenarnya, mohon maaf, justru bodoh. Karena mereka menggunakan itu sebagai alat untuk mengeruk ekonomi dan nafsu,” terang Riris.

Bahkan, ia pernah mendengar cerita, orang dibawa ke dukun dan dimandikan dengan kembang, di bilik-bilik yang hanya tertutup tirai. “Itu kan sudah melenceng dari moral,” ucapnya.

Adapun kisah trauma tokoh Hesty juga diangkat dari pengalaman temannya yang pernah mengalami kekerasan seksual sejak kecil. Teman tersebut, yang ia temui di Pare-Kediri tahun 2021, mengalami trauma mendalam dan berubah drastis dalam berpakaian serta perilaku. “Dia pakaiannya itu kalau enggak salah ada lima lapis, celananya ada dua, terus jubahnya ada tiga, terus dia pakai cadar, kerudungnya benar-benar panjang banget kayak makena gitu. Jika di kelas terus ada laki-laki, dia akan menghindar sampai duduk paling pojok,” paparnya.

Teman itu, ketika usia 4 tahun, saat bermain didatangi dua sosok laki-laki yang memperlihatkan video adegan dewasa. Ia yang kurang literasi terhadap pendidikan seks, merasa itu semacam permainan yang biasa. Di hari berikutnya, dua sosok itu datang kembali dan menyetubuhinya. Merasa tidak ada yang keliru karena ketidaktahuan batas perempuan dan laki-laki, ia menganggap hal itu wajar hingga para pelaku terus melakukannya sampai bertahun-tahun kemudian.

“Saat umur empat belas tahun, dia baru tahu kalau yang selama ini dialaminya adalah salah. Sejak saat itu ia mengalami trauma yang begitu besar. Orang-orang mencibirnya tidak suci, tidak perawan,” terang Riris.

Lingkungan toxic yang justru tidak berpihak kepada para korban pelecehan seksual, membuat trauma itu semakin besar dan mengakar. Lingkungan yang seharusnya menjadi tempat penyembuh, justru menjadi jeruk nipis yang semakin memberikan rasa perih di luka yang menganga. Cerita itu membekas dan menjadi fondasi untuk menciptakan karakter Hesty yang kompleks.

Sementara tokoh Srining terinspirasi dari fenomena perjodohan karena alasan ekonomi, dan Ranti berfungsi sebagai penutur, menyampaikan kilas balik dan fragmen memori antar tokoh. “Jejak Pati adalah tentang kenangan dari orang yang telah meninggal,” kata Riris, “Jejak artinya langkah yang tertinggal, sedangkan Pati berarti kematian. Jadi ini tentang jejak-jejak yang menyakitkan tapi tak bisa dilupakan.”

 

Gandari 15: Ruang Berekspresi Anggota Baru Teater Lintanggiri

Jejak Pati di Gandari 15; Suarakan Isu Traumatik dan Praktik Dukun atau Ustadz Sesat/Foto: nisa

Gandari 15 merupakan gelaran tahunan UKM Teater Lintanggiri yang bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-15 UKM yang lahir dari gabungan Teater Giri dan Lingso yang kini bersatu dalam naungan Unugiri.

Menurut Elis, selaku ketua pelaksana, Gandari 15 menjadi panggung perdana bagi para anggota baru UKM Teater Lintanggiri. “Tujuannya jelas, kami ingin memberikan ruang ekspresi bagi teman-teman baru. Ini bukan sekadar tampil, tapi juga unjuk hasil dari proses panjang mereka selama latihan,” ujarnya.

Elis menekankan bahwa Gandari juga menjadi ajang promosi seni pertunjukan sekaligus upaya membangkitkan apresiasi seni teater di kalangan mahasiswa, dosen, hingga masyarakat sekitar kampus.

Antusiasme terasa sejak masa persiapan yang dimulai sejak Februari hingga Mei. “Prosesnya sekitar empat bulan, dan semuanya terlibat. Dari latihan, produksi, hingga panggung,” jelas Elis. Acara sendiri berlangsung dari pukul 19.00 hingga 23.20 WIB, dengan jumlah penonton mencapai 152 orang. Tiket presale dijual seharga Rp5.000, sementara harga on-the-spot Rp8.000, dengan total tiket terjual sebanyak 80 lembar.

Gandari 15 juga menjadi ajang temu lintas generasi. Para seniman Bojonegoro, komunitas teater dari Lamongan, Tuban, Surabaya, Rembang, hingga Madura, teater pelajar Bojonegoro, Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Unugiri, komunitas seni lokal, alumni, media partner, hingga sponsorship turut menyemarakkan malam itu.

“Yang bikin saya terharu, Gandari ini bisa jadi ajang kumpul keluarga besar Teater Lintanggiri. Yang baru, yang lama, alumni, semua datang dan saling dukung,” kata Elis.

Baginya, teater bukan sekadar panggung, melainkan juga rumah. “Saya pengin teman-teman baru ngerasa bahwa ini ruang pertama mereka, tempat mereka nunjukin versi terbaik diri mereka lewat seni,” pungkasnya.[kaj]

Tags: MahasiswaPertunjukanSeni BojonegoroTeaterUNUGIRI
Previous Post

Bacalah Buku Cerita Anak, Meski Anda Dewasa

Next Post

Kita Butuh Ruang Ketiga untuk Melambat

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Sunan Gunung Jati dan Benang Merah Sejarah Demak, Cirebon, dan Banten

Sunan Gunung Jati dan Benang Merah Sejarah Demak, Cirebon, dan Banten

08/02/2026
Makna Jajan Pasar di Tradisi Wetonan atau Tironan

Makna Jajan Pasar di Tradisi Wetonan atau Tironan

02/03/2026
Boleh Gaya Asal Suka Baca Bareng Lapak Buku dan Baca Mastumapel di CFD Bojonegoro

Boleh Gaya Asal Suka Baca Bareng Lapak Buku dan Baca Mastumapel di CFD Bojonegoro

11/02/2026
Oprak Sahur Kepungkur Lan Sakiki

Oprak Sahur Kepungkur Lan Sakiki

21/02/2026
Tiba di Jawa Usia 20 Tahun, Raden Rahmat Jadi Wali Keramat di Ampel Denta

Tiba di Jawa Usia 20 Tahun, Raden Rahmat Jadi Wali Keramat di Ampel Denta

10/02/2026
29 Kosakata Jawa Paling Populer di Bojonegoro Masa Lalu, Bagaimana Kini?

29 Kosakata Jawa Paling Populer di Bojonegoro Masa Lalu, Bagaimana Kini?

09/02/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023