Bagus Dwi Danto atau yang sebelumnya memperkenalkan diri sebagai Sisir Tanah kembali menyapa Bojonegoro di Loopmintu Space pada Senin (6/4/2026).
Acara tersebut diinisiasi oleh Vakansi di Rumah, penyelenggara yang sama saat konser intimate Panji Sakti dan Banda Neira di Bojonegoro tempo hari.
Panggung disetting sederhana dengan alas karpet dan tv tua sebagai pemercantik dengan kesan etnik. Danto mulai menyapa penonton yang duduk santai di kursi tanpa berdesakan di halaman kafe.
Lewat lagu-lagunya yang tajam tapi bermelodi pelan, dalam dan menggugah, Danto yang mengenakan topi warna cokelat mulai bernyanyi dan memainkan gitar sendiri seperti yang sudah-sudah.
Konser gratis dan intimate terbatas untuk 100 orang saja itulah yang membikin suasana malam di Bojonegoro itu berbeda. Semua penonton duduk di kursinya dengan khusyuk, menikmati lirik-lirik lagu Danto dan meresapinya. Sesekali mereka menyeruput kopi pahit atau minuman kopi kekinian khas Loopmintu.
Danto yang seringnya menyanyi dengan terpejam, membuat penonton pun ikut merasuk ke dalam lagu-lagunya, dibawa lirik menuju penerungan batin, seperti apakah maksudnya? Semestinya manusia bagaimana? Bagaimana alam memberi hidup seperti air susu ibu?
“Jika bumi adalah Ibu, kita manusia memperkosa Ibunya. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik. Ada tak ada manusia mestinya, pohon-pohon itu tetap tumbuh. Ada tak ada manusia mestinya terumbu karang itu tetap utuh.”
Alunan gitar, merdu nyanyian, gestur serta mimik Danto seakan saling bergandengan, selaras dan menyatu untuk memberikan rasa damai atas perenungan-perenungan yang lahir malam itu.
Lagu Danto jika didengar seringnya mengabarkan soal alam semesta, manusia, kehidupan dan bagaimana semestinya bahagia dan duka saling berkesinambungan. Seperti lirik “Yang wajib dari hujan adalah basah. Yang wajib dari basah adalah tanah. Yang wajib dari tanah adalah hutan. Yang wajib dari hutan adalah tanam.” Lantas di akhir setelah yang wajib-wajib itu ada yang tidak wajib, “Yang tak wajib dari rasa adalah luka.”
“Adalah luka, adalah luka, adalah luka. Adalah luka, adalah luka, adalah luka.” Penonton pun ikut bernyanyi dengan suara pelan dan melodi yang mengalun tenang.

Konser intimate yang didesain santai ini mengajak para penonton berduet dengan Danto. Ada yang maju ke panggung dan ada yang malu-malu bernyanyi di tempat duduk. Lalu pentas Danto ditemani tim Mono Music, salah satu band dari Bojonegoro agar bisa bernyanyi menggunakan format kelompok untuk pertama kalinya.
Ada Justin Andreansyah yang memainkan bass, Wagiman memainkan saxo, Hendry Yoseph memainkan key, Dwi Novaberlinanto memainkan gitar, dan Nggayo Susa memainkan drum.
Suasana menjadi makin meriah. Ada nada-nada lain yang mengiringi melodi lagu Danto, melengkapinya menjadi irama penambah semangat meski jam sudah pukul 10 lewat. Bahkan di lagu terakhir yakni Lagu Bahagia, penonton berdiri, bertepuk tangan turut membuat melodi, bernyanyi bersama, dengan tawa yang sama. Entah, semakin menuju lagu akhir, semangat semakin tumbuh. Padahal berangkat tadi wajah-wajah itu ditekuk, Senin memang menjadi hari yang berat. Namun, melalui lagu-lagu yang didengar dan dinyanyikan, semangat itu menjalar, tumbuh seperti bibit sayur yang disiram.

Jika aku adalah cinta
Aku hanya ingin mencinta
Menjadi kabut bukit
Menjadi kabut bukit di kulitmu
Menjadi alam pembohong lamunanmu
Nyanyikanlah harapan
Perjuangkan tujuan
Bahagia kehidupan
Bahagia kehidupan
Semua mengulang bait terakhir itu dengan tepuk tangan yang bersemangat dan bibir yang menyanyi dengan senyuman. Nyanyikanlah harapan, perjuangkan tujuan dan bahagia kehidupan.
Vakansi di Rumah, Bentuk Pelayanan UMKM untuk Pelanggan
Pada sesi bincang antara Danto dan Billy, salah satu penggagas konser intimate Vakansi di Rumah dan pemilik Loopmintu Space, Billy bercerita bahwa konser-konser intimate ini diusung dengan kerja kolektif antar pelaku UMKM di Bojonegoro khususnya bidang perkafean.
“Jadi kami itu ngumpul pingin gimana caranya ada acara rutin seperti ini dan itu sebagai bentuk pelayanan kita kepada para pelanggan,” terang Billy.
Sementara yang tergabung sudah ada Loopmintu, Kedai Supeno dan Dapur Art Karinah serta didukung oleh Flamingo Studio.
Menurut Billy, Bojonegoro sepi jika tidak ada acara seperti itu. Selain bentuk pelayanan kepada pelanggan kafe, mereka juga ingin turut berkontribusi dalam dunia kreatif dan seni.
“Senimannya bisa lebih luas memperkenalkan karya-karyanya, UMKMnya pun ikut terangkat. Pokoknya saling berkesinambungan lah,” ungkap Billy.
Billy juga Danto berharap, ke depannya, panggung seni semakin rutin digalakkan dan bisa berdampak untuk semua kalangan.








