Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Crita

Ngaji Jati Diri bersama Fahrudin Faiz di Bojonegoro: Belajar Ketenangan Hidup dari Stoikisme

Tiga kelompok manusia yang mampu memaknai realitas dengan jernih dan positif.

Mukaromatun Nisa
02/06/2025
Ngaji Jati Diri bersama Fahrudin Faiz di Bojonegoro: Belajar Ketenangan Hidup dari Stoikisme

Mastumapel.com – Nama Fahrudin Faiz sudah tak asing, terutama bagi mereka yang menekuni dunia filsafat. Ia dikenal sebagai Guru Ngaji Filsafat di Yogyakarta.

Pada Sabtu (31/5/2025), Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini hadir dan berbagi banyak hal dalam acara Peringatan Diesnatalis ke-28 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Cendekia (STIEKIA) Bojonegoro dengan tema acara Ngaji Jati Diri Dahsyatnya Kekuatan Pikiran.

Para peserta Ngaji Jati Diri yang berjumlah sekitar 285 orang, kebanyakan adalah penggemar Ngaji Filsafat itu, diajak oleh Fahrudin Faiz menelusuri bagaimana pikiran dan hati membentuk kualitas diri, terutama dalam mencapai ketenangan hidup melalui filosofi kuno yang relevan: Stoikisme.

Faiz memperkenalkan Stoikisme sebagai sebuah jalan untuk mencapai kedamaian batin, sebuah jalan yang belakangan ini kian populer dan banyak selaras dengan pandangan hidup masyarakat timur.

Kunci utama Stoikisme, jelas dia, adalah memahami bahwa hidup ini memiliki polanya sendiri, layaknya sebuah desain alami yang berjalan. Manusia perlu menyadari bahwa suka dan duka, senang dan susah, adalah bagian tak terpisahkan dari pengalaman hidup. Jika seseorang dilanda kesedihan, menyadari bahwa ini adalah hal wajar yang dialami setiap manusia akan membantu seseorang merasa lebih tenang.

Begitu pula saat gembira, belajar untuk tidak terlalu melupakan diri karena tahu bahwa kebahagiaan pun bersifat sementara. Sikap ini membantu seseorang menjadi lebih stabil, tidak mudah terseret oleh gejolak naik turunnya kehidupan.

 

2 Bekal Utama Mencapai Ketenangan

Ada dua bekal utama yang ditekankan dalam Stoikisme untuk mencapai ketenangan ini: bersyukur dan sabar. Saat merasakan kebahagiaan atau menerima anugerah, bersyukur agar tidak menjadi sombong atau lupa diri, menyadari bahwa semua itu datang bukan semata karena kehebatan diri sendiri. Sebaliknya, ketika menghadapi kesulitan, bersabar karena ada hikmah dan pelajaran yang bisa diambil. Kedua sikap ini, secara sederhana, sudah cukup untuk membawa ketenangan dalam kehidupan.

Poin penting lainnya dalam Stoikisme adalah membedakan antara hal-hal yang bisa dikendalikan dan yang berada di luar kendali. Faiz menganjurkan agar memusatkan upaya pada apa yang ada dalam kendali. Sebagai contoh, seseorang bisa belajar sebaik mungkin, tetapi menjadi sangat pintar adalah anugerah di luar kuasa orang tersebut. Manusia bisa berusaha keras dalam suatu hubungan, tetapi kebahagiaan dalam hubungan itu sepenuhnya di luar kendalinya.

Analogi favorit kaum Stoik adalah pemanah. Seorang pemanah akan mengerahkan seluruh fokus dan keterampilannya saat membidik panah, namun begitu panah lepas dari busur, ia tidak lagi bisa mengendalikannya. Hasil akhirnya apakah mengenai sasaran atau tidak, terpengaruh angin atau tidak, semua itu di luar kendalinya. Seseorang akan merasa puas jika telah mengerahkan segala yang terbaik yang ia mampu, dan hasilnya kemudian ia serahkan pada realitas.

Cara hidup semacam ini akan meminimalkan penyesalan di kemudian hari. Jika sudah berusaha maksimal namun hasilnya tidak sesuai harapan, seseorang akan merasa lega dan bisa menerimanya. Namun, jika tidak memberikan yang terbaik, penyesalan akan terus menghantui.

Faiz kemudian mengutip Marcus Aurelius (161 – 180 M), seorang kaisar dan filsuf Stoik. Marcus menekankan bahwa seseorang harus menyadari keberagaman manusia. Ada orang baik, ada yang buruk, ada yang jujur, ada yang tidak. Menerima realitas ini membantu seseorang tidak terlalu terkejut atau kecewa saat menghadapi perilaku negatif orang lain.

Bahkan, kata dosen yang selalu bebicara pelan dan tenang ini, sebelum mengkritik atau menghakimi seseorang, ada baiknya merenung terlebih dahulu, “Pernahkah kita melakukan kesalahan serupa?” Pengenalan diri ini membawa ketenangan dan mengurangi reaksi berlebihan terhadap orang lain.

Ngaji Jati Diri bersama Fahrudin Faiz di Bojonegoro: Belajar Ketenangan Hidup dari Stoikisme/Foto: Nisa

Makna Sejati Seorang Intelektual: Bukan Sekadar Sarjana atau Ilmuwan

Selain Stoikisme, Fahrudin Faiz juga membahas esensi seorang intelektual sejati. Ia menggarisbawahi bahwa seorang individu berwawasan luas (cendekiawan) berada di level tertinggi, melampaui gelar sarjana atau bahkan ilmuwan.

Sarjana, jelasnya, seringkali hanya berorientasi pada gelar dan ijazah, tanpa penguasaan ilmu yang mendalam. Mereka cenderung melupakan apa yang dipelajari setelah ujian selesai.

Sementara itu, seorang ilmuwan memang menguasai ilmunya secara mendalam dan profesional di bidangnya, namun belum tentu peduli pada dampak positif ilmunya bagi masyarakat.

Faiz memberi contoh penemu bom atom yang meski sangat pintar secara keilmuan, tidak memikirkan kehancuran yang ditimbulkan oleh senjatanya. “Orang berwawasan luas itu tidak berhenti di ilmu, tapi juga mempertimbangkan penerapannya yang pas, yang cocok, yang sesuai, yang bermanfaat,” tegasnya. Ia menambahkan, untuk menjadi individu berwawasan luas, seseorang harus lebih dulu menjadi ilmuwan. Namun, tidak semua ilmuwan bisa mencapai level tersebut.

 

Empat Pilar Ilmu Bermanfaat: Resep Kualitas Intelektual

Fahrudin Faiz kemudian membagikan sebuah wejangan penting dari gurunya mengenai empat syarat agar ilmu benar-benar membawa manfaat, sebuah resep yang sangat relevan untuk mengembangkan diri. Pertama, ilmu itu haruslah pener atau tepat, memastikan apa yang dipelajari sesuai dengan hakikatnya.

Kedua, bener atau benar, ilmu itu harus diwujudkan dalam penerapan yang benar, artinya ilmu harus diaplikasikan secara pas sesuai situasi dan kondisi. Faiz memberikan ilustrasi tentang menasihati mahasiswa yang malas hanya dengan nasihat umum tentang kesabaran. Hal itu justru bisa membuatnya semakin pasif karena momennya tidak tepat. Demikian pula, materi penting yang disampaikan terlalu lama tanpa jeda dapat kehilangan efektivitasnya, mengingat rentang konsentrasi audiens, terutama generasi muda, yang terbatas.

Pilar ketiga adalah seger atau sehat, menekankan bahwa kondisi fisik dan mental yang prima adalah pondasi utama kemanfaatan ilmu. “Apa gunanya ilmu kita tinggi kalau kita tidak sehat?” tanyanya, mengingatkan akan pentingnya menjaga gaya hidup sehat.

Terakhir, ilmu yang bermanfaat menuntut seseorang untuk kober atau meluangkan waktu secara konsisten untuk mengamalkan dan mengembangkan ilmunya. Faiz menginspirasi dengan kebiasaannya menulis dua halaman setiap hari, sebuah disiplin yang memungkinkannya menerbitkan buku secara rutin. Ia menantang audiens untuk mencontoh para penulis besar yang dengan manajemen waktu luar biasa, mampu menghasilkan ratusan karya di tengah segala kesibukan mereka.

Ngaji Jati Diri bersama Fahrudin Faiz di Bojonegoro: Belajar Ketenangan Hidup dari Stoikisme/Foto: Nisa

Kekuatan Pikiran dan Menghadapi Rapuhnya “Mental Stroberi”

Antusiasme peserta yang hadir seirama dengan semangat untuk berbagi. Diskusi kemudian bergeser ke kekuatan pikiran dan tantangan yang dihadapi generasi muda. Faiz menjelaskan bahwa berpikir adalah fitrah manusia, sebuah anugerah yang membedakan kita dari makhluk lain.

Ia juga menguraikan tiga lapisan diri manusia: fisik, batin, dan esensi terdalam atau ruh. Dalam lapisan batin, terdapat hati, akal, dan keinginan. Hati, menurutnya, adalah penentu arah hidup, sedangkan akal adalah kekuatan yang sangat tangguh.

“Kalau hatinya baik, akal akan jadi alat kebaikan yang hebat. Kalau hatinya buruk, akal akan jadi alat keburukan,” jelas Faiz, memberikan contoh nyata orang-orang pintar yang justru menggunakan kecerdasan mereka untuk membenarkan tindakan salah karena hatinya telah gelap.

Salah satu poin yang disoroti adalah dampak mindset atau cara berpikir terhadap nasib seseorang. Ibarat lalat yang memilih kotoran dari pada emas karena cara berpikirnya, pola pikir menentukan bagaimana seseorang menjalani hidupnya.

Faiz juga menyoroti fenomena “mental stroberi” di kalangan generasi muda. Terlihat menarik dari luar, tapi rapuh di dalam. Depresi dan stres, akibat perbandingan diri dengan keberhasilan orang lain di media, kegagalan di dunia nyata, hingga masalah personal yang bagi generasi sebelumnya dianggap sepele, kini menjadi beban berat.

Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap peningkatan kasus gangguan jiwa dan tindakan ekstrem di kalangan mahasiswa, mendesak semua pihak, termasuk pengajar, untuk lebih peduli terhadap kondisi mental ini.

Wawasan Mendalam sebagai Pondasi Intelektual Sejati

Faiz mengakhiri sesi Ngaji Jati Diri dengan mengaitkan konsep individu berwawasan luas dengan tiga kelompok manusia yang mampu memaknai realitas dengan jernih dan positif. 

Pertama, orang-orang dengan hati nurani yang bersih, bebas dari iri, dengki, dan kesombongan, sehingga dapat menangkap kebenaran tanpa tercemari.

Kedua, mereka yang memiliki kemampuan menangkap makna yang dalam di balik setiap fakta atau peristiwa, menemukan pelajaran tersembunyi.

Ketiga, orang-orang yang mampu mengendalikan pikiran dan keinginannya dengan pengetahuan, mencegah diri dari hal-hal negatif dan merugikan.

“Jika teman-teman ingin menjadi individu berwawasan luas sejati, itu harus memiliki hati yang bersih, kemampuan menangkap makna yang dalam, dan kemampuan mengendalikan diri dengan ilmu,” pungkas Fahrudin Faiz.[kaj]

 

Tags: BojonegoroFahrudin FaizFilsafatNgaji FilsafatYogyakarta
Previous Post

Gunung Pandan, Puncak Tertinggi Bojonegoro dan Sejarah yang Tersembunyi

Next Post

Perahu Kuno di Bojonegoro: Bukti Ekonomi Transportasi Air Bengawan Solo pada Abad XVII

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

29 Kosakata Jawa Paling Populer di Bojonegoro Masa Lalu, Bagaimana Kini?

29 Kosakata Jawa Paling Populer di Bojonegoro Masa Lalu, Bagaimana Kini?

09/02/2026
Majapahit Berusia 184 Tahun, Ini Urutan Nama Raja-Rajanya Sesuai Tahun

Majapahit Berusia 184 Tahun, Ini Urutan Nama Raja-Rajanya Sesuai Tahun

19/02/2026
Bukan Mobil Tua, Hanya Beda Tahun Saja

Bukan Mobil Tua, Hanya Beda Tahun Saja

05/02/2026
Ketika Buku Menyebuhkan Luka

Ketika Buku Menyebuhkan Luka

04/03/2026
Tiba di Jawa Usia 20 Tahun, Raden Rahmat Jadi Wali Keramat di Ampel Denta

Tiba di Jawa Usia 20 Tahun, Raden Rahmat Jadi Wali Keramat di Ampel Denta

10/02/2026
Konser Intimate Banda Neira Berjalan Lebih Jauh, Melangkah untuk Sembuh

Konser Intimate Banda Neira Berjalan Lebih Jauh, Melangkah untuk Sembuh

06/02/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023