Bojonegoro memiliki udheng motif batik obor sewu. Motif ini agak berbeda dari motif-motif lain. Karena Obor Sewu bersumber dari kearifan lokal Sedulur Sikep Samin di Dusun Jepang, Desa/Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro. Obor sewu juga muncul sebagai “produk inteketual” disertasi Sugeng Wardoyo untuk kemudian menyandang gelar doktor di ISI Yogyakarta.
Dan kini, udheng samin yang kemudian lebih dikenal sebagai udheng obor sewu menjadi pakaian dinas harian (PDH) para ASN di lingkup Pemkab Bojonegoro. Motif ini tak sekedar motif biasa, namun penuh filosofi dan mengandung nilai kearifan lokal. Motif obor sewu berpijak pada masyarakat Samin yang memiliki kesejarahan panjang.
Udheng kini dipakai ASN setiap hari Rabu. Terbaru Pemkab Bojonegoro telah menetapkan PDH baju batik obor sewu untuk dikenakan pada hari Kamis di minggu pertama dan ketiga setiap bulan. Di berbagai kesempatan, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono dan Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah mengenalkan batik motif obor sewu tersebut.
Perjalanan Motif Obor Sewu

Dikutip dari laman ISI Yogyakarta, dikisahkan perjalanan Obor Sewu. Pada Hari Jadi Bojonegoro (HJB) yang ke-342, yakni tahun 2019, digelar Grebeg Berkah Bojonegoro atau Rebutan Gunungan Kaya Praja. Grebeg itu digelar pada 19 Oktober 2019 dan dipusatkan di alun-alun Bojonegoro. Sebanyak 29 gunungan, yaitu 28 gunungan yang berasal dari masing-masing kecamatan yang ada di Kabupaten Bojonegoro dan 1 gunungan agung dari Pemkab Bojonegoro, di arak menuju alun-alun Bojonegoro.
Dalam Grebeg Berkah itu, sedulur sikep atau masyarakat Samin di Dusun Jepang, Desa Margomulyo menjadi salah satu peserta kirab dan juga membawa gunungan. Bertepatan waktu itu, Dusun Jepang merupakan wilayah yang dijadikan objek penelitian oleh Dosen Jurusan Kriya ISI Yogyakarta, Sugeng Wardoyo, M.Sn. Pada tahun 2019 tersebut, Sugeng membuat penelitian berjudul “Penciptaan Motif Batik Untuk Udheng Khas Masyarakat Samin Dusun Jepang Kabupaten Bojonegoro.
Nah, dalam acara kirab HJB ke-342 tersebut, warga Samin juga mengenakan udheng/ikat kepala. Udheng itu bermotif obor sewu yang merupakan ciptaan Sugeng Wardoyo melalui penelitiannya. Obor Sewu terinspirasi dari nilai-nilai yang ada di masyarakat Samin, mengingat sebelumnya udheng tidak memiliki motif batik khas sehingga tidak memiliki keseragaman motif yang menjadi ke-khas-an wilayah tersebut. Pada Grebeg Berkah itu, masyarakat Samin yang mewakili Kecamatan Margomulyo meraih juara 2.
Keberadaan motif Obor Sewu pun semakin dikenal. Sugeng Wardoyo kemudian diundang sebagai narasumber untuk acara “Jagongan Sedulur Sikep” pada 23 Februari 2020. Mbah Hardjo Kardi hadir dan mengikuti jagongan. Mbah Hardjo Kardi merupakan generasi keempat Samin Surosentiko, pendiri Samin.
Pada acara Jagoban Sedulur Sikep, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa hadir didampingi Bupati Bojonegoro Anna Mu’awanah. Kehadiran Gubernur juga dalam rangka penyerahan Sertifikat Ajaran Samin Surosentiko Bojonegoro sebagai warisan budaya tak benda dari Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan kepada Mbah Harjo Kardi. Dan pada kegiatan tersebut Gubernur Khofifah Indar Parawansa mengenakan udheng dan selendang dengan motif batik Obor Sewu.
Obor Sewu: Pencipta dan Filosofi Maknanya

Dr Sugeng Wardoyo, pada 5 Juli 2025 hadir pada acara Samin Festival #9 yang digelar di Balai Budaya Samin di Dusun Jepang. Hadir pula Prof. Dr. Guntur, M.Hum dari ISI Surakarta. Kehadiran para akademisi ini tak lain untuk ngudar kawruh bagi kami, para peserta yang hadir untuk ngangsu kawruh. Sebagai pencetus Udheng Obor Sewu, Sugeng Wardoyo bercerita tentang perjalanan risetnya yang kemudian menghasilkan Obor Sewu. “Akhir 2018, awal saya datang ke Mbah Hardjo Kardi,” katanya memulai cerita.
Mbah Hardjo Kardi adalah putra ketiga dari empat bersaudara dan lahir pada tahun 1934. Ia anak dari Suro Kamidin pemimpin Samin ke III yang berasal dari Desa Tapelan, Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro. Ibunya adalah gadis asal Dusun Jepang yang bernama Poniyah lahir tahun 1920- an. Suro Kamidin dan Poniyah tinggal di Dusun Jepang. Saminisme sendiri didirikan oleh Samin Surosentika (pemimpin Samin pertama) yang masa kecilnya bernama Raden Kohar.
Suro Kamidin memegang kepemimpinan pada masa peralihan pendudukan Belanda dan Jepang hingga pada masa kemerdekaan. Suro Kamidin meninggal pada tahun 1986 dan kepemimpinan diteruskan oleh Hardjo Kardi. Pada tahun 2023, Hardjo Kardi meninggal dunia.
Pada tahun 2018, Sugeng Wardoyo pertama kali bertemu Hardjo Kardi. Sejak pertemuan pertamanya, ia terpesona dengan kesederhanaan yang ditunjukkan dalam kesehariannya Mbah Hardjo Kardi dan masyarakat Samin di Jepang. “Saya menangkap laku prasaja dan itu yang membuat saya betah,” terangnya.
Nilai kesederhanaan itulah yang kemudian menginspirasi Sugeng dalam risetnya. Kearifan lokal yang ditunjukkan warga yakni menerapkan laku sabar dan nrimo secara turun temurun menjadi pijakan riset. Sugeng juga masih ingat, ketika itu sowan ke Mbah Hardjo Kardi dan mengutarakan keinginannya untuk riset dan keinginannya untuk ikut nguri-nguri tradisi Samin. “Yo tak tompo,” kata Mbah Hardjo Kardi sebagaimana diceritakan oleh Sugeng Wardoyo.
Sugeng juga menceritakan pengalaman spiritualnya bertemu dengan Samin Surosntiko saat masih kecil. Mimpi itu sempat diceritakan kepada Bambang Sutrisno, yang merupakan anak ke-7 dari Mbah Hardjo Kardi. Bambang kini berprofesi sebagai ASN di Kecamatan Margomulyo.
“Dalam mimpi saya bertemu Raden Kohar (nama kecil Samin Surosentiko). Epek-epeknya menghadap ke atas, lalu ada sinar yang masuk dan lhep hilang. Saya infokan ke Mas Tris, yang lalu dilanjutkan ke Mbah Kardi,” tuturnya.
Dari pengalaman spiritual itulah kemudian Sugeng Wardoyo mencipta motif Obor Sewu yang merupakan pengendapan dari laku prasaja masyarakat Samin itu sendiri. Sehingga, Obor Sewu sebenarnya merupakan cerminan dari cara hidup masyarakat Samin itu sendiri.
“Yang memberi nama Obor Sewu ya sedulur Samin,” tutur Sugeng.
Obor Sewu kemudian dijadikan udheng. Sedulur Sikep sendiri selama ini memang memakai udheng. Namun, oleh Sugeng Wardoyo udheng itu kemudian dikolaborasi dengan hasil riset tentang cara hidup, kebiasaan, budaya, filosofi, dan lain sebagaimana yang merujuk pada warga Sedulur Sikep itu sendiri. Udheng Obor Sewu, di mana sisi kanan menghadap ke atas, tak lepas dari pengalaman Sugeng bermimpi bertemu dengan Raden Kohar yang menghadapkan telapak tangan kanan ke atas.
“Sekarang produk ada udheng, baju dan selendang. Semua penciptaaan itu didedikasikan untuk kesejahteraan masyaakat lokal,” tandasnya.
Lalu apa makna Obor Sewu? Bambang Sutrisno yang menjadi penerus sesepuh Sedulur Sikep Samin menjelaskan Obor Sewu punya cerita panjang. Nama Obor Sewu sendiri diambil dari sejarah saat Samin Surosentiko mengumpulkan anak buahnya. Saat itu, Mbah Samin menggunakan lampu penerangan beruba obor. Sedang kata Sewu bermakna seriubu atau menandakan jumlah banyak.
Sehingga, Obor Sewu bisa dimaknai sebagai sebuah harapan agar pitutur Samin bisa menjadi suluh penerang bagi generasi selanjutnya. Pitutur luhur tersebut sebagaimana termaktub dalam Tugu Sedulur Sikep Samin. Diantaranya jujur, sabar, nrimo, dan trokal.
Istilah trokal ini belum popular. Trokal bermakna tidak mudah putus asa dan terus semangat menjalani hidup. Trokal bahkan didorong untuk menjadi kata baku yang memiliki makna khas. Trokal juga menjadi bukti akan kekayaan bahasa lokal Samin.
Bambang Sutrisno, dalam Samin Festival #9 tersebut juga menjelaskan, tiap acara festival, Obor Sewu selalu dikenakan. Untuk festival tahun ini, semua peserta atau pengunjung dihadiahi udheng Obor Sewu. Pesan yang disampaikan dalam festival juga cukup dalam: Panglingo Wonge Ojo Pangling Suarane. “Yang dilihat adalah isinya, bukan siapa yang berbicara,” tegasnya.









