Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Pendidikan

Perempuan di Titik Nol; Memeringati Hari Perempuan Sedunia 2026 Melalui Sosok Firdaus

Mukaromatun Nisa
13/03/2026
Perempuan di Titik Nol; Memeringati Hari Perempuan Sedunia 2026 Melalui Sosok Firdaus

Indah Listyorini sebelah kanan saat membedah buku Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi/ Foto: Nisa

Pada 8 Maret 2026 kemarin, Hari Perempuan Sedunia 2026 diperingati. Turut ikut andil dalam peringatan tersebut, Perpustakaan Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) mengadakan bedah buku Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi di perpustakaan kampus pada Kamis (12/3/2026).

Kepala Pusat Studi Hukum dan Gender Unugiri, Indah Listyorini hadir sebagai narasumber. Dosen program studi Hukum Keluarga Islam (HKI) tersebut menjelaskan lebih dulu isi buku Perempuan di Titik Nol dengan tokoh utama Firdaus.

Namanya menjadi salah satu nama surga, tapi ia hidup di neraka, terbakar setiap hari, berkali-kali. Firdaus kecil, hidup di keluarga petani yang buta huruf tanpa adanya edukasi seks, membuatnya dilecehkan sepanjang hidupnya oleh teman, keluarga, suami, hingga berakhir di dunia posrtitusi.

Tokoh Firdaus memang tokoh rekaan Nawal tahun 1975, tapi ternyata masih sangat relevan hingga hari ini. Di antaranya banyaknya kasus kekerasan dan sistem patriarki yang dialami oleh perempuan.

Indah menyoroti kasus pembacokan mahasiswi di kampus Riau yang terjadi pada 26 Februari lalu. Indah kemudian mengamati beragam komentar di media sosial perihal pembacokan ini. Ribuan komentar mengatakan perempuan itu pantas mendapat bacokan menjadi salah satu contoh minimnya empati pada perempuan. Alih-alih menyalahkan pelaku, orang justru menyalahkan korban, menghina korban dan menganggap bahwa sudah sepantasnya hal itu dilakukan.

Bedah Buku Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi di Perpustakaan Unugiri

Usai memaparkan isi buku dan memantik diskusi dengan salah satu kasus, Indah memersilakan para peserta untuk berkomentar atau bertanya.

Seorang peserta bertanya, mengapa paman Firdaus yang berpendidikan gemilang justru menjadi tokoh yang melecehkan Firdaus secara kejam? Menjawab hal tersebut, Indah menyoroti adanya dominasi laki-laki terhadap perempuan.

Ia menegaskan bahwa awal dari manipulasi adalah dominasi. Yakni dominasi laki-laki atas perempuan. Ketidakadilan gender subordinasi alias ketimpangan memosisikan perempuan selalu berada di belakang laki-laki, selalu berada di bawah kendali laki-laki. Si paman yang sudah mendominasi atas hidup Firdaus, melakukan manipulasi untuk merengkuh tubuhnya, menyakiti mentalnya dan memberikan luka yang amat perih sepanjang hidupnya.

“Begitu juga dengan yang dilakukan kiai, gus. Mereka ada kekuasaan, yang mana mendominasi santri-santri lalu melakukan manipulasi atas dasar agama,” cerita Indah mengulik kekerasan di pesantren yang banyak terjadi di Indonesia.

Menurutnya, rata-rata korban selalu bilang bahwa itu bentuk taat kepada kiai, bahwa agama meminta santri untuk selalu bilang iya, bahwa agama menuntut istri untuk tidak pernah menolak suami. Pengetahuan agama dan pendidikan yang didapat para pelaku tersebut amat berbanding lurus dengan moral dan kesetaraan gender yang seharusnya ditegakkan.

Sebagai penutup diskusi, Indah memaparkan beberapa hal penting yang bisa mencegah kekerasan terhadap perempuan. Yang pertama, memberikan edukasi seks kepasa anak sedini mungkin.

“Bahkan sebelum anak bisa membaca pun, sudah sepatutnya orang tua memberikan edukasi mana saja anggota tubuh yang boleh disentuh,” papar Indah.

Menurutnya, peran ayah juga amat penting dalam tumbuh kembang anak. “Anak yang tangki cintanya penuh oleh ayah, dia tidak akan mudah dimanipulasi oleh laki-laki,” tuturnya.

Namun, edukasi seks, menurut Indah, justru ditolak beberapa pemuka agama. Hal tersebut dianggap tabu karena mengajarkan anak perihal seks. “Padahal edukasi seks bukan soal bagaimana cara berhubungan, tapi bagaimana cara menjaga diri,” ungkap Indah.

Padahal, tanpa edukasi seks, anak tidak tahu mana yang akan menyakitinya, seperti Firdaus yang tidak pernah dapat pengetahuan itu. Momen Hari Perempuan Sedunia 2026 dan kisah Firdaus menjadi refleksi tersendiri bagaimana seharusnya perempuan mendapat ruang lebih aman dan hak yang setara.

Tags: Hari Perempuan Sedunia 2026Perempuan di Titik NolUNUGIRI
Previous Post

Ketika Buku Menyebuhkan Luka

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Wawancara Khusus dengan John Tobing Pencipta Lagu Darah Juang, Lagu Wajib Para Demonstran 

Wawancara Khusus dengan John Tobing Pencipta Lagu Darah Juang, Lagu Wajib Para Demonstran 

26/02/2026
Makna Jajan Pasar di Tradisi Wetonan atau Tironan

Makna Jajan Pasar di Tradisi Wetonan atau Tironan

02/03/2026
Perempuan di Titik Nol; Memeringati Hari Perempuan Sedunia 2026 Melalui Sosok Firdaus

Perempuan di Titik Nol; Memeringati Hari Perempuan Sedunia 2026 Melalui Sosok Firdaus

13/03/2026
Kue Tradisional Apem Khas Megengan, Simbol Tradisi dan Pengharapan

Kue Tradisional Apem Khas Megengan, Simbol Tradisi dan Pengharapan

23/02/2026
Ketika Buku Menyebuhkan Luka

Ketika Buku Menyebuhkan Luka

07/03/2026
Oprak Sahur Kepungkur Lan Sakiki

Oprak Sahur Kepungkur Lan Sakiki

21/02/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023