Kemenangan di bulan Syawal bukan tentang kembali menjadi suci tanpa cela, tetapi tentang keberanian untuk mengakui salah melalui mushafahah (bersalam-salaman) dan komitmen untuk memperbaiki diri di hadapan Sang Pencipta serta sesama manusia. Lalu kapan awal Bulan Syawal? Inilah diprediksi posisi hilal saat pelaksanaan rukyatul hilal dalam penentuan awal bulan.
Berdasarkan perhitungan kontemporer dari Astronomical Algorithms karya Jean Meeus, ijtimak akhir Ramadan 1447 H terjadi pada tanggal 19 Maret 2026 pukul 08:23:23 WIB. Dengan demikian umur hilal saat terbenamnya Matahari (17:46:38 WIB) di bukit Wonocolo, Kec. Kedewan, Kab. Bojonegoro 9 jam 23 menit dengan tinggi hilal mar’i saat Matahari terbenam adalah 01° 32′ dan elongasinya 05° 33′
Hisab kontemporer dengan sumber lain, seperti Almanak Nautika, Ephemeris Hisab Rukyat serta Addurul Aniq juga menunjukkan hasil yang serupa dengan ijtimak pukul 08:22 WIB hingga 08:25 WIB, tinggi hilal mar’i antara 1° 31′ hingga 1° 37′ dan elongasi di atas 5° 35′. Sementara untuk hisab tahqiqi dan taqribi sebagai khazanah keilmuan falak di Indonesia, tinggi hilal bernilai 1° hingga 5°.



Jika mengacu pada kriteria Imkanurrukyat NU dengan tinggi hilal minimal 3° dan elongasi 6,4°, maka hilal saat terbenamnya Matahari tanggal 19 Maret 2026 di Bojonegoro berada pada posisi yang belum memungkinkan untuk bisa terlihat. Adapun jika ditinjau dari seluruh wilayah Indonesia, posisi hilal juga masih berada di bawah kriteria sehingga belum memungkinkan untuk bisa teramati. Oleh karena itu jika rukyatul hilal tanggal19 Maret 2026 benar-benar tidak berhasil melihat hilal maka awal Syawal 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026.

Sekali lagi, kepastian masuknya bulan Syawal 1447 H tetap menunggu hasil pelaksanaan rukyatul hilal dan sidang isbat, karena yang mempunyai hak untuk menetapkan awal bulan awal Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah adalah pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama RI. (Ai)








