Membaca sampul Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna membuatku menebak isinya adalah cerita soal bagaimana nikmatnya mie ayam hingga seseorang lupa ingin mati. Namun, begitu membacanya hingga halaman akhir, seporsi mie ayam itu kuartikan sebagai seporsi kudapan kehidupan berisi pelajaran soal hidup yang bisa disantap oleh siapapun. Di dalamnya ada beraneka rasa dan tekstur seperti seporsi mie ayam lengkap, bukan mie yang kenyal, potongan ayam bumbu kecap, sawi, atau pangsit kecil pelengkap, tapi soal kehidupan dan tetek-bengeknya dari berbagai sisi.
Ale, laki-laki berkulit gelap, tinggi dan tambun yang berusia 37 tahun mengajakku menikmati seporsi mie ayamnya, bukan mie ayam abang gerobak biru, tapi kudapan soal hidup. Ada banyak ketakutan dan trauma yang Ale rasakan, mungkin juga beberapa orang.
Ale yang sedari kecil sungkan menyakiti orang dan melawan saat disakiti, membuatnya memendam luka bertahun-tahun tanpa pernah bisa meluapkannya. Termasuk ketika dibandingkan oleh ibunya, selalu diminta maaf padahal Ale uang dihina, tidak boleh menangis karena laki-laki dan tidak pernah dicari bahkan ketika ia menghilang untuk bunuh diri.
Ibu, orang tua, yang melahirkannya, justru adalah orang pertama yang membikin traumanya, yang mengoyak hatinya. Mungkin ia tidak akan apa ketika dipanggil gendruwo oleh teman-temannya asalkan ibunya membela. Namun, si ibu malah menyalahkan Ale karena dianggap cengeng. Akibatnya, ia harus mengonsumsi obat anti depresan dan rutin ke psikiater hingga memutuskan untuk bunuh diri.
Dari Ale, aku menemukan kalimat kira-kira seperti ini, masa iya beban berat ini harus kubawa pula sampai mati. Maka, alangkah baiknya, orang yang mengalami hal sama sembuh lebih dulu sambil menunggu kapan kiranya bisa pulang dengan damai, menyusuri setapak sunyi untuk melebur yang abadi.
Sebelum menenggak obat anti depresan beberapa butir sekaligus, Ale yang sudah bebersih apartemen sekaligus tubuhnya, ingin merasakan mie ayam favoritnya sebelum mati. Mengenakan baju hitam seperti akan melayat di kematiannya sendiri, ia pergi hanya membawa selembar uang 50 ribu menuju mie ayam langganan. Di Ibu Kota, mie ayam memang sedap sebagai menu sarapan.
Entahlah, mengapa nasib sial selalu suka pada Ale, mungkin begitu. Mie ayam itu tutup dan Ale dibawa takdir menuju pemakaman tukang mie ayam tersebut. Dibawa pada seporsi kudapan kehidupan sebelum ia mati.
Di buku itu, dalam kurun waktu 3 minggu setelah 24 jam rencana bunuh diri Ale, semesta mempertemukan dia dengan berbagai pelaku hidup beserta masing-masing ceritanya. Setiap orang membawa kudapannya masing-masing untuk disuguhkan kepada Ale, selayaknya seporsi mie ayam sebelum mati.
Setelah Pram, anak penjual mie ayam yang mati mengucap beribu terima kasih yang mengharukan hati Ale sebab tidak pernah dianggap sebagai manusia, ia bertemu dengan preman bandar narkoba, Murad. Dari Murad, Ale belajar, bahwa manusia hanya belum menemukan tempat yang tepat saja ketika dia tidak dianggap.
Di perkampungan samping kereta yang kumuh, penuh preman, dan orang-orann yang dianggap rendahan, Ale justru diperlakukan selayaknya manusia. Namun, adegan bersama Murad akan membuka trauma bagi penyintas kekerasan dan pelecehan. Sebelum membaca buku ini, lebih baik menyiapkan mental dan baca dengan pelan, istirahat jika perasaan itu mengganggu.
Ale lantas bertemu Mami Louisse, pemilik kelab yang banyak dibantu Murad dari kekerasan yang dilakukan suaminya. Menurut mami para berbie itu, tak perlu seseorang meminta dicintai, jika menemukan orang yang tepat kau tak perlu meminta apa-apa. Kalimat itu ada benarnya, lantas muncul pertanyaan sebagai pembaca, apakah benar manusia selalu akan hidup dengan seseorang yang mencintai?
Di kelab itu pula, Ale ngobrol dengan Juleha, orang tua tunggal yang terpaksa menghidupi anaknya dengan tarif paling banyak 100 ribu per hubungan intim yang dilakukan. Dunia amat pandang bulu bagi mereka yang dianggap kotor, sulit mendapat kerja dan terpaksa harus kembali pada kubangan hitam itu lagi.
Lalu Ale bertemu Pak Uju, penjual layangan di dekat rel kereta yang diselamatkannya dari amukan Murad yang menagih hutang dan ingin meniduri putri semata wayangnya. Di lain hari ketika Ale kembali bertemu Pak Uju, ia diberi penghormatan yang tak pernah ia dapatkan, baik di rumah, di sekolah maupun di tempatnya bekerja. Pak Uju berterima kasih banyak sudah ditolong, ia memaksa menaruh lembaran 50an di saku Ale, membuatkannya kopi dan bercerita bagaimana ia juga ingin mati. Ternyata, Ale tidak sendiri dan tiap orang selalu membawa kudapan hidup untuk dibagi pada Ale. Seakan, semesta mengirim orang-orang itu untuk menjawab sebaga tanya di kepala soal hidup yang rasanya begitu menderita.
Berikutnya, Ale bertemu Ipul, Office Boy (OB) di kantornya. Dari Ipul, Ale dapat informasi bahwa beberapa orang mencarinya, teman-teman OB yang sering ditraktir Ale dan makan bersama di warteg juga penjual warteg yang selalu senang ketika piring Ale bersih dari sisa makanan. Fokus pada penderitaan dan cemoohan membuat Ale mengabaikan hal-hal kecil di sekitar yang justru menjadi sumber damainya kehidupan.
Dari Ipul, Ale bertemu Bu Murni. Seorang ibu yang mirip sekali wataknya dengan ibu Ale, dan anaknya pun mirip sangat dengan Ale. Bu Murni seperti orang bisu, tidak pernah berbicara sejak anaknya pergi tanpa pulang lagi. Sejak Bu Murni tidak merestui hubungan asmara anaknya karena perbedaan suku.
Namun, sejak Ale berkunjung ke rumahnya, Bu Murni berbicara. Membuatkan kopi dan sarapan untuk Ale seakan yang datang adalah putranya. Ia berbicara, menanyai kabar Ale, meminta maaf banyak sekali dan menangis. Seakan Ale adalah anaknya dan ia ingin menebus kesalahannya. Seakan, Bu Murni adalah ibu Ale, dan Ale ingin memaafkannya. Pada akhirnya, kedua orang itu berdamai dengan hidup bukan karena keluarganya, tapi karena orang lain yang seperti keluarga.
Dari banyaknya orang di buku itu yang ditemui Ale, scan Bu Murni nyangoni selembar 50ribu ke saku Ale, sukses membanjiri mata dan pipi. Bu Murni yang kesepian di usia tua, yang hanya hidup dari laba 500 perak dari jualan bolu kukus. Pembaca seakan diajak membayangkan, bagaimana ya rasanya tua sendirian, kesepian dan selalu memendam rindu.
Terakhir, Ale bertemu orang buta, Pak Jipren. Dari Pak Jipren, ada hal yang paling kuingat, orang buta selalu percaya siapapun yang ditemui adalah orang baik. Dari Pak Jipren pula, Ale menemukan jawaban terakhirnya. Ale mampu meluapkan emosinya. Misuh-misuh, berteriak, dan berkata bahwa ia juga manusia yang punya rasa. Katanya, kalok nggak enakan sama orang, pasti akan ketemu terus sama orang yang seenaknya.
Melalui Pak Jipren, Ale juga pembaca belajar bahwa hidup tidak melulu dinilai dari apa yang dilihat. Sesekali, pandanglah dari apa yang didengar dan rasakan. Pak Jipren pun setiap hari ingin bunuh diri, sebab manusia selalu diajarkan untuk bahagia, tapi tidak pernah diajarkan bagaimana menerima duka dan menjalaninya. Lihatlah, bagaimana manusia harus berlomba untuk menemukan bahagia, dan akupun baru menyadarinya ketika membaca buku itu. Iya, ya, betapa manusia terus dituntut untuk mencapai bahagia.
Kata Ale, bertahan hidup bukan soal selalu berpikir positif, tapi soal menerima, menerima kalau saja hari itu tidak sesuai dengan keinginan, menerima kalau saja manusia itu ada jahatnya, menerima kalau hidup ada lukanya. Dari buku itu, aku banyak belajar seperti tokoh Ale, menyusuri banyak tempat dan menikmati kudapan kehidupan seperti semangkok mie ayam.
Ternyata, buku itu ditulis berdasarkan wawancara beberapa penyintas depresi. Pantas ceritanya mengalir, apa adanya, mudah dipahami dan dinikmati maknanya seperti menyeruput mie ayam yang panjang dan kenyal. Rekomendasiku, siapkan tisu dan baca di tempat sepi, sebab ada banyak part yang bikin nangis terus mikir dan akhirnya mengucap syukur serta terima kasih. Rayakanlah sekecil apapun dirimu, membeli kesukaan, bertemu orang-orang yang bikin nyaman dan melanjutkan hidup dengan penerimaan hingga waktu pulang.








