Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Mitos & Sejarah

Sunan Gunung Jati dan Benang Merah Sejarah Demak, Cirebon, dan Banten

Nanang Fahrudin
08/02/2026
Sunan Gunung Jati dan Benang Merah Sejarah Demak, Cirebon, dan Banten

Desain buku Kerajaan Islam Pertama di Jawa by Gemini

Saya perlu membuka buku untuk memulai catatan pendek ini. Buku itu berjudul “Kerajaan Islam Pertama di Jawa” karangan H.J.De Graaf & Piegaud (Grafiti, 1985). Terutama Bab VII tentang Riwayat Kerajaan di Jawa Barat pada Abad XVI: Cirebon.

Antara Cirebon, Demak, dan Banten ternyata memiliki hubungan sejarah yang tidak bisa dinggap sepele. Dan yang menautkannya adalah seorang wali keramat: Sunan Gunung Jati.

Ya, Sunan Gunung Jati atau juga dikenal dengan Falatehandan Tagaril memiliki nama asli Nurullah. Ia lahir di Pasai-Aceh. Saat Pasai dicaplok Portugis tahun 1521, Nurullah memilih berangkat ke Mekkah, menunaikan ibadah haji. Tahun 1524, ia kembali dari Mekkah namun tidak menetap di Sumatera Utara. Melainkan memilih ke Jawa yang disambut hangat oleh Raja Demak Sultan Trenggono.

Bahkan, sebagai bentuk penghormatan, Sultan Trenggono memberikan adiknya sebagai istri. Berarti, Nurullah adalah adik ipar Raja Demak Sultan Trenggono. Gelar sultan yang disandang Trenggono kemungkinan besar adalah berkat usulan Maulana Nurullah atau Sunan Gunung Jati setelah melihat politik internasional di Mekkah dan Madinah.

Dengan izin dan bantuan dari Sultan Trenggono, Nurullah kemudian berangkat ke Banten dengan tujuan mendirikan jamaah Islam di daeah Pajajaran yang kala itu belum memeluk Islam. Dengan cepat, Nurullah memiliki kuasa di Banten. Bahkan, di kemudian hari, pada 1546, kekuatannya ikut membantu menyerang Pasuruan (Panarukan), yang berakibat buruk dengan terbunuhnya Sultan Trenggono.

Kembali ke masa saat Sunan Gunung Jati sampai di Banten, Sunan Gunung Jati bergerak menyingkirkan Bupati Sunda dan mengambil alih kota pelabuhan. Tentu, ini atas bantuan militer dari Demak yang kemudian dilanjutkan dengan menduduki pelabuhan Sunda Kalapa. Atas keberhasilan ini, Sultan Trenggono menghadiahinya meriam yang dikenal dengan nama Ki Jimat. Kekuasaan terus diperluas hingga ke Cirebon yang dikenal memiliki pelabuhan besar.

Saat berada di Banten, Sunan Gunung Jati juga sering berada di Cirebon dan memiliki kuasa di sana. Dan ketika Sultan Trenggono telah mangkat, ia memanfaatkan kesempatan itu untuk memutuskan menetap di Cirebon. Banten diserahkan kepada anaknya yang bernama Hasanuddin. Di bawah kuasa Hasanuddin, kekuasaan Banten meluas hingga Lampung dan daerah Sumetera Selatan lainnya.

Waktu pindah ke Cirebon, Sunan Gunung Jati telah berusia lebih dari 60 tahun. Sebelumnya, Cirebon diserahkan kepada anaknya yang kedua yang dikenal dengan nama Pangeran Pasarean yang meninggal di usia muda. Pangeran Pasarean ini menikah dengan anak perempuan Sultan Trenggono dari Demak.

Ketika memutuskan menetap di Cirebon, pertama-petama, Sunan Gunung Jati memerintahkan membangun masjid besar (atau memperluas masjid yang sudah ada) dengan gaya yang sama dengan Masjid Suci Demak. Saat di Cirebon inilah, Sunan Gunung Jati beberapa kali menerima tamu Raden Sahid yang kelak dikenal dengan Sunan Kalijaga. Bahkan Raden Sahid ini diberinya anak perempuan untuk dijadikan istri.

Kekuasaan Cirebon di bawah Sunan Gunung Jati memang bukan bentuk pemerintahan yang mengandalkan kekuatan militer. Namun, berusaha memperkuat kekuatan politiknya lewat perkawinan. Ia menikah dengan adik Sultan Trenggono, sedang anaknya menikah dengan keturunan Raja sebelumnya di Banten.

Kekuatan rohani Sunan Gunung Jati sangat besar. Sultan Pajang Jaka Tingkir dan Ratu Kalinyamat sangat mengormatinya. Sunan Gunung Jati wafat pada 1570 di usia lebih dari 80 tahun. Ia digantikan oleh cicitnya yang dikenal dengan Panembahan Ratu atau Pangeran Ratu. Wibawa Sunan Gunung Jati ini masih terasa ketika Kerajaan Mataram berdiri di bawah Senopati. Hubungan natara Cirebon dengan Mataram sangat baik. Setelah Panembahan Ratu, Kerajaan Cirebon masih terus eksis dilanjutkan oleh Pangeran Girilaya.

Tentang cerita kekuasaan Sunan Gunung Jati dalam percaturan politik Demak, Banten hingga Cirebon, sudah cukuplah.

Nah, sebenarnya ada satu buku lain yang perlu dibaca. Buku “Naik Haji di Masa Silam” Jilid 1 (Kisah-kisah Orang Indonesia Naik Haji 1482-1964) yang disusun oleh Henri Chambert-Loir. (KPG, 2013). Sunan Gunung Jati naik haji dua kali. Pertama dilakukan sendiri, dan kedua dilakukan berdua dengan anaknya, Hasanuddin.

Namun, cerita naik haji ini tidak terlalu banyak dibahas. Hanya tentang bagaimana Sunan Gunung Jati dan putranya dalam “haji kedua” dibaiat oleh thoriqot naqsyabandiyah yang memang terkenal dan mulai disebarkan secara masif di nusantara abad ke-17.

Tags: BantenCirebonDemekNurullahSejarahSunan Gunung JatiWalisanga
Previous Post

Tiba di Jawa Usia 20 Tahun, Raden Rahmat Jadi Wali Keramat di Ampel Denta

Next Post

29 Kosakata Jawa Paling Populer di Bojonegoro Masa Lalu, Bagaimana Kini?

KONTEN POPULER

Buku yang Menggerakkan 

Buku yang Menggerakkan 

27/01/2026
Tradhisi Nisfu Sya’ban lan Megengan, Sawijining Akulturasi Budaya

Tradhisi Nisfu Sya’ban lan Megengan, Sawijining Akulturasi Budaya

02/02/2026
Bukan Mobil Tua, Hanya Beda Tahun Saja

Bukan Mobil Tua, Hanya Beda Tahun Saja

05/02/2026
Hidup Adalah Cara Memandang Dunia

Hidup Adalah Cara Memandang Dunia

06/02/2026
Konser Intimate Banda Neira Berjalan Lebih Jauh, Melangkah untuk Sembuh

Konser Intimate Banda Neira Berjalan Lebih Jauh, Melangkah untuk Sembuh

06/02/2026
29 Kosakata Jawa Paling Populer di Bojonegoro Masa Lalu, Bagaimana Kini?

29 Kosakata Jawa Paling Populer di Bojonegoro Masa Lalu, Bagaimana Kini?

09/02/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023