Di tengah hamparan sawah yang menghijau di Desa Plesungan, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, tersimpan sebuah tradisi unik yang telah diwariskan turun-temurun. Ya, tradisi Kaleman.
Bukan sekadar ritual biasa, Kaleman adalah bentuk rasa syukur dan doa para petani pemilik sawah kepada Tuhan Yang Maha Memberi. Dengan Kaleman, para petani memohon keberkahan untuk padi-padi mereka yang mulai “hamil” atau menginjak usia sekitar 60 hari. Ibarat tradisi tingkepan atau tujuh bulanan pada kehamilan manusia, Kaleman adalah wujud perhatian penuh petani kepada calon sumber kehidupan mereka: bulir-bulir padi.
Setiap kali tiba masa padi berusia 60 hari, yakni masa saat malai padi mulai keluar atau warga Plesungan menyebutnya mbrobot. Di saat itulah para petani berkumpul. Mereka tak membanjiri sawah, melainkan balai desa setempat, menghadirkan suasana kebersamaan yang erat. Para petani melaksanakan tradisi Kaleman.
Meskipun masa tanam padi di desa ini terkadang dua kali dalam setahun, tradisi Kaleman hanya dilaksanakan sekali dalam setahun. Penentuan kapan ritual ini digelar, apakah pada masa tanam pertama atau kedua, sepenuhnya diserahkan kepada kesepakatan para petani itu sendiri. Ini menunjukkan musyawarah sebagai bagian tak terpisahkan dari adat mereka.
Berbekal cerita dari Supeno, salah satu ketua RT di Desa Plesungan yang juga tokoh kampung setempat, saya mencoba menceritakan ulang, tentang tradisi Kaleman yang sudah digelar warga turun temurun.
Pada tradisi Kaleman, petani membawa berkat atau menu makanan istimewa yang telah disiapkan dari rumah. Ada satu menu wajib yang tak boleh absen: aneka polo pendem. Di momen ini akan didapati beragam jenis umbi-umbian seperti ubi jalar yang manis, singkong yang enak, ganyong dengan tekstur bentuk dan rasa yang unik, gembili yang lembut, uwi yang sedikit ngepyar seperti nasi, serta kacang tanah yang renyah. Tak ketinggalan, hadir pula kudapan manis khas desa, kue pleret, yang menambah semarak perayaan Kaleman.
Kaleman dibuka dengan doa bersama yang dipimpin oleh pemuka agama setempat. Di sinilah harapan-harapan tulus para petani dilangitkan. Mereka memohon agar padi-padi yang mulai bunting ini senantiasa diberikan kesehatan dan keamanan, terbebas dari serangan hama yang merugikan, hingga tiba masa panen raya. Harapan akan panen melimpah menjadi puncak dari setiap doa yang dipanjatkan, membayangkan hasil bumi yang akan menghidupi keluarga mereka.
Kulit Polo Pendem Dibawa ke Sawah

Namun, ada satu ciri khas Kaleman yang membuatnya begitu unik dan sarat makna. Saat menikmati hidangan bersama di balai desa, para petani tak membuang begitu saja kulit-kulit polo pendem yang mereka santap-termasuk kulit doglek atau mbote yang juga sering disajikan. Sebaliknya, kulit-kulit ini dikumpulkan dengan telaten. Keesokan harinya, saat embun pagi masih membasahi dedaunan, kulit-kulit polopendem ini akan disebar atau ditaburkan di masing-masing petak sawah yang padinya telah “mbrobot”.
Tindakan sederhana ini bukan tanpa alasan. Ia melambangkan harapan agar padi-padi mereka tumbuh subur, beranak pinak seperti umbi-umbian yang berlipat ganda di dalam tanah, dan terhindar dari mara bahaya.
Tradisi Kaleman bukan hanya sekadar upacara adat biasa, tetapi juga cerminan kearifan lokal yang mendalam. Ia mengajarkan tentang pentingnya rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia alam, indahnya kebersamaan dalam menghadapi tantangan pertanian, dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam.
Melalui Kaleman, para petani mempraktikkan keyakinan bahwa apapun usaha dan ikhtiar yang dilakukan, harus selalu disertai dengan memohon dan berserah diri sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa. Inilah salah satu cara mereka berdoa dan berharap agar hasil panen melimpah serta terhindar dari segala penyakit dan hama yang mengancam. Di Desa Plesungan, Kaleman adalah detak jantung pertanian, denyut nadi harapan, dan penjaga warisan leluhur yang terus hidup, memastikan bahwa bumi senantiasa memberikan kemakmuran bagi mereka yang merawatnya.
Tradisi ini adalah bukti nyata bagaimana budaya dan pertanian saling berjalin erat, membentuk sebuah identitas desa yang kaya akan makna.
_____________
Penulis adalah guru SDN Plesungan, juga peserta Pelatihan Menulis Kearifan Lokal yang digelar Sekolah Menulis Mastumapel









