Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Bojonegoro Utara

Ziarah Tiga Makam Keramat di Ngraho-Gayam, Cara Warga Menjaga Tradisi dan Menghormati Leluhur Desa

Eni Puspita Sari
28/07/2025
Ziarah Tiga Makam Keramat di Ngraho-Gayam, Cara Warga Menjaga Tradisi dan Menghormati Leluhur Desa

Ziarah makam leluhur Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro/Foto: Eni

Ziarah makam leluhur, membaca surat Yasin, tahlil, dan doa bersama menjadi bagian penting dari sedekah bumi di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro. Momen sakral ini juga menjadi ajang silaturahmi, mempererat hubungan sosial dan spiritual antar warga.

Yang dimaksud leluhur adalah orang yang mbabat alas desa, atau orang yang pertama membuka permukiman. Ada tiga tokoh yang dianggap sebagai penanda desa. Di makam para tokoh itulah, warga menggelar sedekah bumi, melangitkan doa-doa.

Tradisi sedekah bumi itu, menjadi salah satu cara untuk mengenang ajaran dari sosok yang penuh budi pekerti serta mengingatkan asal usul diri. Sedekah bumi digelar setiap tahun di waktu bulan Muharam (Suro), tepatnya hari Jumat Pon menurut tanggalan Jawa.

Kiai Abdul Qadir Munada merupakan ulama yang berdakwah di Dusun Bringan dan pendiri pesantren Bringan, di Desa Ngraho. Sesuai catatan literatur, Sang Kiai hidup di masa 1815-1910 M. Makam beliau beserta para dalem keluarga dimakamkan di belakang masjid Al- Qodiriyah Dusun Bringan.

Tokoh kedua adalah Mbah Gimbal yang dikenal sebagai sosok mbabat alas di Dusun Bringan. Makamnya berada di pemakaman umum warga, yang tempatnya tidak jauh dari makam Kiai Abdul Qadir Munada. Tokoh ketiga, makam Mbah Poeng, juga sosok pendahulu di Desa Ngraho, yang dikenal warga masih bersaudara dengan Mbah Gimbal. Makamnya terletak jauh dari kedua makam sebelumnya, makam Mbah Poeng berada di Situs Perahu Besi Kuno, yang oleh Pemerintah Desa Ngraho direncanakan untuk dijadikan objek wisata religi. Selain melihat situs juga bisa berziarah di makam Mbah Poeng Sinukarta.

Ziarah tiga makam menjadi pembuka kegiatan sedekah bumi. Secara sukarela, warga datang dalam kegiatan sedekah bumi yang menjadi tradisi tahunan desa. Pada Kamis Sore pukul 15.00 (24/07/2025) saya ikut dalam kegiatan ziarah sebagai pembuka sedekah bumi yang dilakukan Jamaah Tahlil perempuan Al Hikmah Dusun Bringan. Kami semua naik kendaraan Tayo, yang dipimpin oleh penasehat jamaah tahlil, Pak Mizan Aly.

Tayo merupakan sebutan kendaraan serupa bentuk kereta, mini bus tanpa jendela di samping. Penumpang akan bersapa langsung dengan semilir angin tanpa penghalang kaca jendela. Tayo membawa kami menuju ke makam Mbah Poeng. Kami benar-benar berwisata religi lokal.

Warga menggelar sedekah bumi/Foto: Eni

Ziarah makam dimulai di makam Kiai Abdul Qadir Munada. Bunga kamboja yang telah jatuh, menyeruakkan harum wangi yang menyelinap di setiap tarikan nafas.

Kepada rombongan, Pak Nizam Aly memaparkan kegiatan rutinan tahunan sedekah bumi di Dusun Bringan. Kegiatan ini merupakan rangkaian ziarah makam. Jika biasanya jamaah tahlil Al-Hikmah ziarah makam di luar daerah, tahun ini ada tambahan, yakni ziarah di desa sendiri. Yakni ziarah ke makam Kiai Abdul Qadir Munada dan Mbah Poeng di Desa Ngraho.

Sedekah bumi diawali dengan pembacaan surat Yasin, tahlil, dan doa serta shodaqoh ambeng/berkat (nasi, lauk pauk, snack) yang dibawa oleh warga untuk nantinya dibagi dan dibawa pulang. Hal tersebut dilakukan hanya di makam Mbah Gimbal, bertempat di pemakaman umum warga, sekaligus diniatkan kepada ahli keluarga masing-masing warga.

Dua tayo berjalan beriringan membawa jamaah. Melewati perumahan warga dan hamparan sawah di Desa Ngraho. Sesekali klakson Tayo dinyalakan, ketika melewati anak-anak yang sedang bermain, terkadang ibu-ibu jamaah tahlil menyapa kerabatnya yang sedang bercengkerama di depan rumahnya. Ada juga yang bercerita, tanya menanya satu sama lain.

Saya duduk dekat seorang perempuan tua. Mbah Siti namanya. Duduk di kursi tepat belakang sopir.  Mbah Siti anteng, santai dan diam saja sambil memegang pegangan tangan kendaraan Tayo.

“Mari ditata niatnya, niat untuk silaturahmi. Siapa orangnya yang mau mendoakan orang yang telah meninggal, insyaAllah dengan keberkahan, orang yang meninggal juga bisa mendoakan kita,” tutur Pak Nizam.

“Perempuan diperbolehkan ziarah ke makam, asal dijaga adab ketika di makam,” tambahnya sebelum mengawali pembacaan Yasin, tahlil dan doa.

Tradisi ziarah makam dan sedekah bumi/Foto: eni

Dia menjelaskan dengan menjaga adab, ziarah tidak hanya menjadi ibadah yang mendekatkan kepada Sang Pencipta.  Namun juga mempererat nilai-nilai hubungan sosial dan budaya.

Sekitar pukul empat sore, kami meninggalkan makam Mbah Poeng menuju makam terakhir ke makam Mbah Gimbal.

“Mbah, apakah jamaah tahlil perempuan dulu juga melakukan ziarah seperti ini” tanyaku mengawali obrolan dengan Mbah Siti (66) dalam perjalanan pulang.

“Dulu masa kecil saya, perempuan tidak boleh ziarah ke makam,” jawabnya mengingat masa dulu.

Tak berselang lama, kami tiba di makam Mbah Gimbal. Keiza, anak perempuan kelas lima sekolah dasar sambil menuntun adiknya yang masih kecil tampak masih bersemangat menjadi bagian berziarah. “Sebelumnya saya tidak pernah ke makam Mbah Poeng, sekarang jadi tahu. Rasanya senang,” jawabnya polos.

Pukul 17.00 WIB, jamaah tahlil perempuan Al Hikmah meninggalkan makam Mbah Gimbal dengan membawa berkat pulang ke rumah masing-masing. Kegiatan dilanjut oleh jamaah tahlil laki-laki di malam harinya, kemudian keesokan harinya acara inti sedekah bumi.

Ziarah makam, memang menjadi tradisi yang masih lestari. Selain nilai religi juga terdapat  nilai budaya. Dalam dimensi budaya, ziarah menjaga warisan sejarah Sedangkan dalam dimensi religius, ziarah menjadi momen mendekatkan diri kepada Sang Khaliq.

Di Bojonegoro, hampir semua desa memiliki makam yang dihormati, menyimpan cerita perjuangan sejarah masing-masing. Memahami dan melestarikan tradisi sesuai dengan tuntutan agama dan adat, menjadikan kita belajar menjaga keseimbangan antara spiritual dan budaya, memperkuat solidaritas dan menghormati keberagaman.

Tags: BojonegoroGayamKearifan LokalNgrahoTradisiZiarah Kubur. Doa Bersama
Previous Post

Obor Sewu: dari Sedulur Sikep Samin untuk Bojonegoro

Next Post

Nyala Semangat Para Siswa SDN 2 Karangmangu, Sekolah di Tengah Hutan Bojonegoro  

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Oprak Sahur Kepungkur Lan Sakiki

Oprak Sahur Kepungkur Lan Sakiki

21/02/2026
Makna Jajan Pasar di Tradisi Wetonan atau Tironan

Makna Jajan Pasar di Tradisi Wetonan atau Tironan

02/03/2026
Peringati Hari Perempuan Sedunia 2026, AJI Bojonegoro Gelar Aksi Turun Jalan

Peringati Hari Perempuan Sedunia 2026, AJI Bojonegoro Gelar Aksi Turun Jalan

14/03/2026
Wawancara Khusus dengan John Tobing Pencipta Lagu Darah Juang, Lagu Wajib Para Demonstran 

Wawancara Khusus dengan John Tobing Pencipta Lagu Darah Juang, Lagu Wajib Para Demonstran 

26/02/2026
Ketika Buku Menyebuhkan Luka

Ketika Buku Menyebuhkan Luka

07/03/2026
Perempuan di Titik Nol; Memeringati Hari Perempuan Sedunia 2026 Melalui Sosok Firdaus

Perempuan di Titik Nol; Memeringati Hari Perempuan Sedunia 2026 Melalui Sosok Firdaus

13/03/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023