Menyoal tentang kawasan cagar alam geologi, lebih baik kita tahu dulu apa sih kawasan cagar alam geologi itu? Mengutip dari laman resmi Badan Geologi Indonesia, kawasan cagar alam geologi adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk melindungi cagar alam geologi, yakni objek geologi yang terbentuk secara alami, memiliki nilai lebih, ilmiah yang tinggi, langka, unik dan indah, karena itu memerlukan perlindungan. Sedangkan geologi sendiri merupakan ilmu yang mempelajari struktur, komposisi dan sejarah bumi.
Kita tahu, Bojonegoro selain dikenal sebagai penghasil migas an kaya kayu jati berkualitas, juga banyak keanekaragaman hayati. Dari potensi tersebut pengembangan Geopark Nasional Bojonegoro hadir menjadi salah satu upaya pelestarian dan pemanfaatannya. Geopark (taman bumi) dikelola untuk konservasi (pemeliharaan), edukasi dan pembangunan keberlanjutan dengan melibatkan masyarakat dan pemerintah, untuk meningkatkan kesadaran akan bumi dan lingkungan.
Mengutip dari laman resmi Pemkab Bojonegoro, kawasan Geopark Bojonegoro telah mendapatkan sertifikat geopark nasional sebagai kawasan cagar alam geologi dari Badan Geologi Kementrian ESDM pada 2017 lalu. Tahun ini, Geopark Nasional Bojonegoro menepati peringkat dua besar Aspiring Unesco Global Geopark 2025. Dengan mengusung tema unik, yaitu petroleum sistem terdangkal.
Berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor: 55.K/HK.02/MEM.G/2021 tentang Penetapan Kawasan Cagar Alam Geologi Kabupaten Bojonegoro, kawasan tersebut terdiri atas lima lokasi utama, yaitu:
- Petroleum System Wonocolo, Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan.
- Struktur Antiklin Kawengan, Desa Kawengan, Kecamatan Kedewan.
- Kayangan Api, Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem.
- Kedung Lantung, Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras.
- Fosil Purba Gigi Hiu, Desa Buntalan, Kecamatan Temayang.
Kira-kira bagaimana ya, bentuk bumi di Bojonegoro pada masa silam? Berikut rangkuman singkat mengenai hal menarik dari Cagar Alam Geologi Bojonegoro:
1. Petroleum System Wonocolo, Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan

Di tempat ini tersingkap batu batuan yang mewakili sistem pretoleum dan adanya penambangan minyak tradisional di sumur-sumur peninggalan kolonial Belanda dulu. Pengambilan minyak dengan sederhana yakni menggunakan mesin-mesin mobil dan rig dari kayu jati.
Fenomena jebakan antiklin di Wonocolo merupakan struktur geologi yang menjadi sebab terperangkapnya minyak bumi di bawahnya. Wonocolo masih satu rangkaian dalam struktur Antiklin Kawengan di cekungan Jawa Timur bagian Utara. Antiklin ini tampak berupa perbukitan bergelombang.
Antiklin merupakan struktur geologi berupa lapisan batuan sedimen atau metamorfosis yang berlangsung lama di lingkungan laut atau danau, kemudian terjadi tekanan tinggi akibat pergerakan lempeng tektonik dari dua arah berlawanan, menyebabkan lapisan batuan mengalami lipatan, di mana bagian yang terangkat atau cembung ke atas membentuk antiklin.
Antiklin di bawah permukaan bumi menjadi perangkap minyak dan gas bumi. Lebih dari 100 tahun masyarakat setempat melakukan penambangan secara tradisional, pemboran paling dangkal sekitar 200 meter dari puncak lipatan. Hal ini membuktikan pemboran minyak tradisional wonocolo adalah yang paling dangkal di Indonesia.
2. Struktur Antiklin Kawengan, Desa Kawengan, Kecamatan Kedewan

Antiklin Kawengan merupakan bagian utuh dari sistem pretoleum cekungan Jawa Timur Utara yang telah diproduksi sejak masa kolonial Belanda. Sistem pretoleum di wilayah Kawengan memiliki elemen-elemen lengkap meliputi batuan induk, reservoir, migrasi, perangkap, dan batuan penutup.
Batuan induk berupa material organik yang mengalami endapan, tertimbun dan mendapat suhu panas dari bumi, hingga menghasilkan hidrokarbon dari kedalaman sesuai. Sedangkan proses migrasi atau perpindahan terjadi melalui rekahan dan jalur struktural yang berkembang selama fase perubahan karena tekanan tinggi.
Batuan reservoir berupa batu gamping atau pasir, yang sering disebut dengan batuan busa atau berongga. Struktur antiklin sebagai perangkap minyak dan gas bumi. Batuan penutup yakni berupa batu lempung yang kedap atau rapat, sehingga minyak tidak tersebar atau akan terperangkap.
3. Kayangan Api, Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem

Kayangan api menjadi situs legendaris yang memiliki fenomena alam unik. Geologi alami berupa gas alam yang keluar dari dalam tanah melalui retakan atau celah-celah. Gas alam yang berinteraksi dengan oksigen menghasilkan api menyala secara spontan dan terus-menerus. Gas alam ini membuat sifat api tak pernah padam meski diguyur hujan.
Di dekat api abadi juga terdapat fenomena alam lain berupa air yang seperti mendidih, namun jika disentuh tidak terasa panas. Hal tersebut secara geologi diakibatkan oleh semburan gas alam yang membuat air terus bergolak. Sumur ini juga mengeluarkan aroma belerang. Fenomena alam tersebut membuktikan bahwa lokasi kayangan api di bawahnya terkandung banyak gas alam.
4. Kedung Lantung, Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras

Kedung Lantung adalah adanya rembesan minyak bumi alami yang keluar dari sela-sela batuan kapur di dasar sungai. Minyak ini muncul ke permukaan karena massa jenis minyak lebih ringan daripada air, sehingga menciptakan fenomena alam yang langka. Fenomena langka ini berada di aliran sungai yang diapit tebing kapur putih. Menukil dari laman resmi Pemkab Bojonegoro, Kedung Lantung tersingkap batuan reservoir yang masuk dalam formasi Sonde yang berumur pliosen akhir (2,9 juta tahun lalu) berjenis reservoit dangkal dan berumur muda.
Pada pliosen akhir terjadi 2.9 juta tahun lalu, terdapat pendingin iklim global dan perubahan permukaan laut, kemudian terjadi regresi (penyusutan luas air) hingga terjadilah proses pembentukan daratan, diiringi berkembangnya mamalia modern. Kedung Lantung tersusun atas litologi per selingan, yakni batu lempung, batu pasir dan batu gamping.
Berbeda dengan Wonocolo, Kedung Lantung batuannya berbentuk sinklin yang tererosi oleh aliran sungai bukan antiklin. Sinklin ini lapisan batuan melengkung ke bawah. Lapisan batuan yang lebih muda akan berada di bagian tengah cekungan ini. Cekungan sinklin bisa menjadi tempat yang bagus untuk menyimpan minyak dan gas bumi. Caranya yakni, batuan seperti batu pasir, batu gamping bisa menjadi batuan reservoir tempat minyak dan gas bumi berkumpul. Batuan ini memiliki ruang kosong atau retakan yang mungkin mereka menampung minyak dan gas.
Ketika lapisan sinklin terbentuk, batuan reservoir ikut melengkung ke bawah. Jika di atas lapisan reservoir ada lapisan batuan lain yang kedap seperti batu lempung maka minyak dan gas yang ada di batuan reservoir akan terperangkap di dalam cekungan sinklin.
5. Fosil Purba Gigi Hiu, Desa Buntalan, Kecamatan Temayang

Mengutip dari situs resmi Geopark Bojonegoro, situs fosil purba gigi hiu ini berasal pada zaman pliosen akhir 2,9 juta tahun lalu. Fosil ini ter awetkan dalam batu gamping pasiran berwarna putih dan hitam. Hal ini menjadi bukti bahwa wilayah ini pernah menjadi dasar laut jutaan tahun lalu. Fosil gigi hiu tajam dan bergerigi dengan ukuran variatif yang menjadi menarik.







