Kabupaten Bojonegoro memiliki banyak destinasi wisata. Terutama wisata alam. Namun, Bojonegoro juga memiliki banyak wisata yang bernuansa sejarah. Hal ini tak lain karena sejarah Bojonegoro yang cukup panjang. Bahkan, sesuai salah satu penemuan arkeologi, di Bojonegoro dulunya adalah laut purba.
Dengan bentangan sejarah panjang itu, tak heran jika di Bojonegoro ada beberapa destinasi yang bisa dikunjungi dan mengajak kita untuk melihat sejarah. Tempat-tempat ini memiliki nilai sejarah yang punya nilai edukatif. Kita bisa ke sana sendirian, tapi juga bisa bersama orang-orang yang mempunyai hobi sama, atau mengajak keluarga.
Nah, Mastumapel.com mencoba untuk mengumpulkan tempat-tempat wisata yang bisa Anda kunjungi.
1. Kayangan Api

Api Abadi
Wisata Kayangan Api berlokasi di kawasan hutan di Desa Sendangharjo Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro. Jalan menuju ke lokasi cukup baik, sarana dan prasarana juga sudah cukup lengkap. Wisata ini buka 24 jam. Disarankan, anda berkunjung pada sore hari supaya semburan api terlihat jelas.
Kayangan Api merupakan situs legendaris yang terdapat fenomena alam unik. Mengutip dari data resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro, api di Kayangan Api adalah fenomena geologi alami, berupa gas alam yang keluar dari dalam tanah melalui celah-celah (retakan). Gas yang berinteraksi dengan oksigen, menghasilkan api menyala secara spontan dan terus menerus. Hal ini yang membuat sifat api tak pernah padam meski diguyur hujan.
Kisah empu Kriya Kusuma
Kayangan api selain terdapat fenomena geologi juga memiliki kisah sejarah mendalam yang menjalar kuat di masyarakat setempat. Konon, Kayangan Api adalah tempat membuat pusaka dan pertapaan seorang empu (pandai besi) sakti pada zaman Majapahit. Sang empu bernama empu Supagati. Pusaka yang dibuat empu Supagati ditempa dan dibakar dengan api yang keluar dari Kayangan Api. Ia diangkat menjadi empu Majapahit yang diberi gelar empu Kriya Kusuma.
Sumur blukutuk
Lokasi sumur blukutuk masih dalam satu kawasan wisata Kayangan Api. Air blukutuk seperti air mendidih namun jika disentuh tidak terasa panas. Sumur ini memiliki aroma belerang. Kondisi air sumur tetap stabil. Dalam sejarahnya, konon air ini digunakan empu Suapagati atau empu Kriya Kusuma sebagai tempat merendam dan menyepuh pusaka setelah dilakukan penempaan. Air ini juga dipercaya dapat menjadi obat penyakit kulit. Menurut beberapa sumber, lokasi geosite ini di bawah nya terkandung banyak gas alam yang membuat api terus menyembur dan air di sumur terus bergolak.
2. Teksas Wonocolo

Ada sejak kolonial Belanda
Wisata Bojonegoro satu ini menyuguhkan pemandangan aktivitas penambangan minyak tradisional yang autentik. Tempat ini berlokasi di Desa Wonocolo Kecamatan Kedewan. Sarana dan prasarana wisata cukup lengkap, sebagai tempat wisata alam serta edukasi.
Menghimpun dari beberapa sumber, tambang ditemukan pada 1868, seterusnya dimanfaatkan pada sekitar 1894, yang kemudian ditinggalkan Belanda dan dirusak, yang kemudian digali lagi oleh masyarakat sekitar sebagai tambang minyak.
Penambangan minyak dilakukan sendiri oleh masyarakat setempat. Para penambang menggunakan teknik tradisional dengan rig kayu jati dan pengolahan manual, menggunakan derek sederhana untuk mengambil minyak bumi.
Fenomena jebakan antiklin
Menurut beberapa sumber, Desa Wonocolo merupakan salah satu daerah yang memiliki cadangan minyak dan gas. Satu rangkaian dalam model struktur lipatan batuan (antiklin) Kawengan di cekungan Jawa Timur bagian utara. Sistem Petroleum, cekungan Jawa Timur bagian Utara memiliki kandungan organik, sehingga potensi menghasilkan minyak dan gas. Lebih dari 100 tahun masyarakat setempat mengebor secara tradisional. Warga desa bisa mendapatkan minyak hanya dengan kedalaman 300 meter. Di sana anda bisa belajar sejarah perminyakan di Wonocolo lebih mendalam di Museum Rumah Singgah Wonocolo.
3. Wali Kidangan

Ulama besar dari kerajaan Pajang
Wisata religi ini terletak di Dusun Kidangan, Desa Sukorejo, Kecamatan Malo. Mengutip beberapa sumber, wali Kidangan merupakan tokoh penyebar agama Islam di desa setempat, seorang wali mastur dengan ciri khas tidak berkenan menyebutkan identitas diri. Kebiasaan wali yang melakukan tirakat dan menyendiri akhirnya disebut Wali Kidangan. Pada saat itu wali Kidangan ikut dalam perjuangan kerajaan Pajang, namun pada kala itu banyak orang yang memiliki kepentingan, akhirnya beliau melarikan diri untuk menyendiri dan mencari ketenangan lantas bertapa di puncak Kidangan hingga wafat.
Menurut beberapa sumber, Wali Kidangan wafat pada 1081, wali Kidangan masih memiliki kaitan erat dengan tokoh wali penyebar agama Islam lain seperti Sunan Bonang. Di dalamnya, terdapat 3 makam. Makam wali Kidangan sebelah Selatan sedang dua makam sebelahnya adalah makam santri-santri beliau.
4. Galeri Bengawan

Peradaban maritim masa lalu
Di Galeri Bengawan yang terletak di Desa Padang Kecamatan Trucuk, anda bisa melihat penemuan perahu kayu kuno yang ditemukan masyarakat desa pada 2005 silam. Panjangnya 25 meter, lebar 4 meter. Mengutip beberapa sumber, perahu ini diperkirakan berasal pada 1617. Telah ada pada masa kerajaan Gowa dan Mataram. Sebelum akhirnya menyusuri Bengawan Solo dan keram di dalamnya. Kondisi awal ditemukan, perahu sangat rapuh dan nyaris hancur.
5. Museum Rajekwesi

Perjalanan panjang Bojonegoro dari masa ke masa
Museum Rajekwesi dulu sempat terbengkalai, dan mulai dibuka lagi secara resmi pada Senin 20 Oktober 2025 lalu. Museum Rajekwesi diboyong di pusat kota, tepatnya di Jl. Pahlawan no. 9 Bojonegoro, Selatan alun-alun. Di dalamnya terdapat artefak bersejarah, benda-benda antik, pusaka, batu cincin, patung dan lukisan yang berkaitan dengan peninggalan sejarah. Juga aneka barang kesenian Bojonegoro, semua dari masa prasejarah, Hindu-Buddha, kolonial, hingga era kemerdekaan. Buka Senin-Jumat pukul 08.00-16.00 WIB.
Rumah Tua Padangan

Pusat perdagangan penting di masa kolonial
Mengutip dari beberapa sumber rumah tua arsitektur kolonial Belanda ini berdiri sejak 1911. Rumah yang berada di pinggir jalan raya Padangan dekat lampu merah di perempatan jalan ini didirikan oleh H. Rosyid, seorang pengusaha tembakau di zaman pra kemerdekaan. Rumah bergaya Eropa, menjadi trend pada zaman kolonial, terutama bagi mereka yang tergolong cukup kaya di zamannya.
Selain itu bukti peradaban dalam bidang ekonomi era kolonial di Padangan yakni beberapa bangunan kuno arsitektur Belanda yang dapat dijumpai hingga sekarang. Hal ini berkaitan dengan status Padangan kala itu sebagai kadipaten Jipang dan letaknya yang strategis di jalur perdagangan sungai Bengawan Solo.
7. Kubur Kalang

Suku Jawa di zaman megalitik dan kerajaan-kerajaan Nusantara
Suku kalang tidak terpusat di satu daerah, namun menyebar ke beberapa daerah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Mereka hidup di hutan, tepi sungai dan pegunungan. Kelompok masyarakat kalang dalam pola sosialnya hidup berkelompok dan berpindah-pindah, dan menjauh. Sistem sosial itu membuat mereka dijauhi masyarakat Jawa dan tidak dianggap bagian dari Jawa.
Di Bojonegoro, situs kubur kalang ditemukan di Desa Kawengan Kecamatan Kedewan dan Desa Tanggir Kecamatan Malo. Mengutip dari situs resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro, kubur kalang pernah dilakukan penggalian oleh Balai Arkeologi Yogyakarta pada 1997. Di lokasi kubur ditemukan beberapa manik-manik, gelang perak, senjata semacam golok, dan gerabah halus. Selain itu tengkorak kepalanya berada di timur. Dengan demikian, diperkirakan situs ini berasal dari masa perundagian pada zaman prasejarah atau zaman Hindu/Budha yang masih melanjutkan tradisi prasejarah.
Kubur batu
Kubur kalang memiliki ciri khas berupa susunan batu yang membujur dati timur ke barat. Seperti peti kubur batu yang berupa lempengan-lempengan batu pipih. Bila ingin memasuki wilayah kubur pengunjung harus berjalan kaki memasuki area hutan.






