Menenteng satu tas berisi baju, Sartika yang kurus, berambut sebahu yang lepek dan wajah sendu sawo matang serta keringat yang tak henti mengucur, berjalan malam-malam melewati warung kopi Pangku di Pantura daerah Eratan Kulon.
Warung-warung itu kecil, berjejer dengan lampu kecil warna-warni. Sound disetel keras, dan siapapun bebas bernyanyi, ngopi dan mangku perempuan-perempuan berbaju minimalis, serta bisa reques pundaknya dipijat.
***
Saya bersama seorang teman tengah menonton film Pangku. Kami tiba di Bioskop New Star Cineplex (NSC) Bojonegoro pukul 18.10 WIB pada Kamis (6/11). Kami harus menunggu 2 penonton lagi agar bisa menikmati film yang disutradarai oleh Reza Rahadian itu sebab minimal pemutaran film 4 penonton.
Akhirnya ada 2 penonton yang memesan tiket itu dan kami masuk studio 2 pukul 18.20 WIB. Dingin menusuk tulang dan pori-pori lebih hebat dari di luar ruangan, terlebih kami menerobos hujan.
Kami langung “berkenangan” dengan Sartika (diperankan Claresta Taufan), perempuan hamil 8 bulan menginjak 9 bulan. Ia mencari kerja, apa saja. Orang tuanya hanya tersisa Ibu, dan ayah dari anaknya tidak diceritakan siapa.
Usai melewati gemerlap warung kopi Pangku, Tika berhenti di warung paling ujing, sangat kecil, dengan penunggu warung seorang perempuan paruh baya dengan banyak lipatan di perut dan lengan yang menggelambir, matanya ceruk, sebagian rambutnya memutih. Hanya ada satu pelanggan laki-laki yang kemudian pergi karena ingin karaoke sambil mangku dan dipijit.
Tika yang lelah menyangga perutnya beristirahat di warung itu, warung Bu Maya. Nasib baik, Tika dipersilakan menumpang di rumah sederhana dari sulaman-sulaman seng dan kayu milik Bu Maya.
Nasib baik sering kali kurang berpihak pada mereka yang miskin, yang dianggap melanggar norma. Uang membajak sawah yang dihasilkan Tika tak cukup memenuhi kebutuhan anaknya.
Lapangan pekerjaan hanya untuk mereka yang punya ijazah, berpenampilan menarik, tidak melanggar norma dan memiliki jaringan orang dalam, memang tidak semua, tapi itulah yang terjadi pada Tika.
Tidak ada pilihan lain selain berjualan kopi, kemolekan dan tubuh untuk dipangku. Perempuan cenderung mengutamakan perasaan, ia tidak pernah benar-benar menikmati dipangku pelanggan laki-laki yang silih berganti. Namun, setidaknya Tika bertanggungjawab atas anaknya.
Begitulah potret pendidikan di masa Tika, tahun awal 2000an hingga saat ini. Bayu, anaknya, bocah periang yang suka main layang-layang tidak bisa mengenyam pendidikan sekolah meski Tika sudah sanggup membayar semua biaya pendaftaran.
Bayu tidak bisa sekolah karena tidak punya ayah, dan yang punya ayah pun tidak bisa sekolah karena tidak ada biaya.
“Cari kresek mah gampang, yang susah cari bapak,” celetuk Bayu pada Gilang, pemuda yang sering membuatkannya layang-layang. Betapa hidup terlalu rumit bagi mereka yang terpinggirkan.
Ibu dan Istri yang Tabah

Kebahagiaan kecil menghampiri hari-hari Tika dan Bayu ketika Hadi, seorang supir pembawa ikan acapkali mampir di warung Bu Maya. Hadi bersama dua anak buahnya termasuk loyal saat berkunjung. Bahkan tiap mampir, Hadi selalu memberi 3 ekor ikan sebagai lauk makan Tika, Bayu, Bu Maya dan suaminya.
Esok pagi, kapal-kapal nelayan parkir di belakang rumah Bu Maya. Di atas lautan itu, ada gubuk kecil tempat mereka berkumpul untuk makan.
Ikan pemberian Hadi dibagi 4 piring, 1 ekor untuk Bayu, 1 ekor untuk suami Bu Maya, dan seekor lagi dibagi dua untuk Tika dan Bu Maya.
Betapa istri dan ibu selalu pertama melayani suaminya dan mengutamakan anaknya. Mereka yang memasak, mereka yang lelah, tapi mereka sendiri yang makan paling sedikit dan paling akhir, memastikan semua anggota keluarga terpenuhi asupannya.
Saban mentari masih nyenyak, mereka bangun lebih awal, menyiapkan sarapan, membersihkan rumah, melayani anak dan suami, lantas pekerja sampai petang. Mereka bangun paling awal, tapi tidur paling malam. Ah, ibu dan istri, bahkan ketika dunia sudah semodern begini, mereka tetap seperti itu, tetap tabah tanpa pamrih.
Apa yang Diharapkan dari Laki-laki?
Hadi memutuskan menikahi Tika dan Bayu punya bapak agar bisa sekolah. Mereka hidup bertiga di sepetak rumah yang tak jauh dari kediaman Bu Maya. Tika berhenti bekerja sebagai penjual kopi pangku.
Hadi yang ramah itu, begitu Tika menyebutnya, membuatkan Tika gerobak mie ayam sebagai ganti pekerjaan Tika sebelumnya. Terlebih, mie ayam menjadi makanan favorit serial itu. Hidup boleh bagaimanapun, asal masih ada mie ayam, begitu kata pecinta-pecinta mie toping ayam kecap tersebut.
Namun, seperti ombak di laut belakang rumah Tika, kadang pasang, kadang surut, begitulah hidup. Hadi pergi, dan ia lama tak kembali. Sedang Tika mengandung anak kedua.
Kebanyakan laki-laki memang picik, tidak semua, tapi kebanyakan, mungkin begitu batin Tika. Hadi ternyata sudah beristri, namanya Anisa.
Di siang yang terik di tahun 2005 itu, Bayu lahap makan siang sederhana di rumah kecil mereka. Tiba-tiba Anisa datang, “Kukira uang yang kukirim dari Saudi bisa membuat kalian memiliki rumah mewah. Ternyata hanya seperti ini.”
Tika bergegas mengemasi barangnya juga barang Bayu. Mereka pergi dari rumah itu, mendorong gerobak mie ayam yang dianggap sampah oleh Anisa. Sedang Hadi, hanya diam di depan pick upnya, dan Tika menangis sambil sekuat tenaga mendorong gerobak melewati jalan kecil berbatu.
Tidak ada adegan Tika menampar Hadi, atau mencekiknya sekalian. Ah, betapa kurang greget adegan itu. Betapa tabahnya hati perempuan itu, betapa pilu perasaannya.
“Apa yang bisa diharapkan dari laki-laki?” celetuk teman saya, Anjartami, matanya merah dan air menggenang di pelupuknya.
Ibuku Sayang
Bagaimana pun hidup terus berlanjut. Air mata itu menganak sungai di pipi Tika yang terpoles bedak. Ia kembali bekerja di warung kopi pangku milik Bu Maya. Hebatnya, ia sama sekali tak kepikiran bunuh diri dan tetap meneruskan hidup di bumi yang penuh misteri.
Pada akhirnya, gerobak mie ayam itu berfungsi. Tahun 2010, Bayu sudah sangat dewasa, dan adiknya Sekar, sudah mengenakan seragam SMP.
“Ibuku sayang, terima kasih sudah membesarkan Bayu dan Sekar dengan sangat baik. Ini sedikit celengan dari Bayu, belilah apa yang Ibu suka. Selamat ulang tahun, Ibu. Kami begitu sayang pada Ibu.”
Kira-kira begitulah isi surat Bayu untuk ibunya yang ia tinggalkan di meja rumah sebelum berkeliling menjajakan mie ayam. Kali pertama Tika begitu terharu, kali pertama ia dirayakan, bukan oleh laki-laki yang mencintainya, tapi oleh anak laki-laki yang teramat menyayanginya.
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah
Ost itu menutup ending film ini, dan lampu menyala, tapi mendung menyelimuti mata penonton.









