Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Bojonegoro Selatan

Ki Kanaka: Jiwa Saya di Seni Wayang

Mukaromatun Nisa
15/10/2025
Ki Kanaka Rozzaq Wiratama/Foto: Nisa

Ki Kanaka Rozzaq Wiratama/Foto: Nisa

Malam dipenuhi tabuhan gamelan dan terasa menenangkan, meski udara amat dingin di Trenggulunan Bojonegoro pada Sabtu (9/8). Warga desa yang kebanyakan para orang tua khusyuk menikmati pertunjukan wayang meski jam sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam. Ibu-ibu mengenakan jaket dan para bapak berselimut sarung. Sebagian duduk di depan dan samping panggung yang tidak begitu besar. Sebagian lagi menyebar di sepanjang jalan raya yang kiri-kanannya berdiri gagah hutan jati.

Wayang-wayang yang berjejer memanjang di atas gedebok pisang itu, dua di antaranya dimainkan oleh Ki Kanaka Rozzaq Wiratama, dalang muda kelas 8 SMP. Ini kali pertama saya menonton wayang dengan dalang yang masih begitu muda, sebuah kebanggaan.

Di usia yang masih belia, Kaka, sapaan akrabnya, sudah menguasai berbagai cerita perwayangan termasuk pengajaran-pengajaran di dalamnya yang ia terapkan juga di kehidupan sehari-hari. Ia menguasai Bahasa Jawa tingkat langit atau yang tersulit dan lancar mengucapkannya saat membawakan kisah-kisah wayang, tentu dengan nada berbeda antar tokohnya.

Saya duduk di sebelah Paiman, salah satu warga yang menonton. Menurutnya, hampir semua pentas Kaka jika masih bisa dijangkau ia datangi. Ia suka melihat semangat Kaka dalam mementaskan wayang.

“Aku suka saat Kaka ndalang. Pokok dia pentas, aku menonton jika tidak jauh,” terangnya.

Sebagai pecinta wayang, Paiman hampir hafal semua cerita dan paham betul bahasa yang diucapkan dalang. Paiman menjadi penerjemah dadakan saya. Ia mengikuti langkah bicara Kaka, menceritakan kembali dengan Bahasa Jawa Ngaka yang biasa saya dengar.

“Itu adegan ketika Gatot Kaca menikahi Pregiwa,” tutur Paiman.

Atau di cerita berikutnya, ia mengisahkan Cangik yang gemuk, pesek dan memiliki bibir tebal. Kisah Cangik sealu menjadi lelucon bagi para penonton. Ia yang sudah tua masih saja genit dan suka berhias. Meski seorang pelayan putri kerajaan, ia tetap kemayu dengan membawa sisir dan menyisir rambutnya ke mana pun ia pergi.

Kaka tidak hanya menceritakan kisah wayang dengan bahasa jawa kuno, ia juga mengambil cerita keseharian warga dengan Bahasa Jawa Ngaka. Pada adegan percakapan antara Semar dan Bagong, Kaka mengambil cerita sifat gadis desa dengan Bahasa Jawa Ngaka. Paiman berhenti sejenak menjadi penerjemah kami.

Suasana pentas wayang Ki Kanaka di Trenggulunan Bojonegoro/Foto: Nisa
Suasana pentas wayang Ki Kanaka di Trenggulunan Bojonegoro/Foto: Nisa

“Mar, cah wadhon kui isinan. Enek tamu ditinggal melbu kamar. Pethuk wong lanang ndiluk,” ucap Kaka menirukan suara Bagong.

Bagong mengisyaratkan, perempuan itu seperti kadal. Jika ada orang lain lewat, kadal itu akan cepat-cepat balik arah dan menghilang. Begitu juga dengan perempuan yang malu-malu.

“Berarti wong wadhon kui angel dicekel koyo kadal,” kelakar Semar.

Riuh tawa penonton ikut menggelegar. Tiba-tiba saja, beberapa rewang di rumah Warji, sang pemilik hajat yang menyelenggarakan wayang sebagai ungkapan rasa syukur pernikahan anaknya, keluar membawa beberapa piring nasi pecel.

Nasi panas bertoping rebusan daun ketela, kacang panjang dan toge itu diguyur bumbu kacang yang gurih dan pedas dari cabai. Dilengkapi dengan tempe goreng hangat dan kerupuk. Jam menunjuk pukul 00.30 WIB, badan kami menjadi hangat dengan kudapan tersebut. Angin yang dibawa daun-daun jati tidak sedingin tadi, dan Kaka terus mendalang hingga pagi untuk pertama kali.

Poster Pagelaran Wayang Kulit Ki Kanaka
Poster Pagelaran Wayang Kulit Ki Kanaka

Jiwa Saya di Seni Wayang

Siang itu seperti biasa, Bojonegoro selalu panas menyengat. Saya bertemu Kaka di kediamannya di Desa Setren, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro pada Jumat (8/8/2025).

Bapak dari Kaka yang juga seorang dalang, mendiang Ki Wito Adi Sucipto, membikin rumah yang ditempati juga penuh ornament-ornamen seni, mulai dari wayang-wayang, lukisan wayang, seperangkat alat dalang, hingga ada alat musik rebab. Tidak hanya sang bapak, kakeknya dari pihak ibu, mendiang Ki Sukarto merupakan seniman reog dan wayang orang.

Darah seni yang mengalir itulah yang membuat Kaka menguasai dunia perdalangan secara otodidak dengan bimbingan sang bapak saat masih hidup. Sesekali ia belajar kepada dalang-dalang lokal maupun luar kota, tidak memasuki pelatihan dalang secara formal.

“Sejak TK aku udah main wayang,” ujar siswa SMPN 1 Ngambon itu.

Kaka bercerita, sejak kecil bahkan sebelum bisa berjalan, ia sudah bermain wayang dan ngecepres dengan bahasa bayi seakan ia tengah mendalang. Lantas pada kelas 3 SD, ia sungguhan mendalang untuk kali pertama.

Anak usia 13 tahun itu merasa bertanggungjawab untuk terus melestarikan budaya. “Kalau tidak kita, terus siapa lagi?”

Baginya, seni wayang adalah panggilan jiwa. “Jiwa saya ada di sini (seni wayang),” ungkapnya.

Di wayang, ketika ia mendalang, mengenakan beskap, jarik, belangkon dan keris sang bapak, membuat haus rindunya terobati. Seakan, ia menjadi lebih dekat dengan sang bapak ketika menggerakkan wayang-wayang warisan bapaknya.

Selain tata busana yang berbudaya, persiapan lainnya yang dilakukan Kaka sebelum pentas adalah menyiapkan naskah atau skrip. Naskah ini biasanya ia dapat dari buku-buku perwayangan peninggalan sang bapak. Meski banyak hafal beberapa kisah, Kaka tetap membawa naskah sebagai acuan.

Beberapa kali ia juga menulis naskah sendiri yang diadopsi dari fenomena-fenomena sekitar. Melalui wayang, Kaka membuat skrip berisi kritikan-kritikan untuk pemerintah. Kaka turut andil pengawal kebijakan publik melalui seni.

“Waktu malam tahun baru 2024, ada acara di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Ketika itu aku membawakan cerita sindiran politik, bahwa pemuda ini banyak yang menyelewang karena pemerintahnya tidak begitu open (mengurus),” cerita Kaka.

Bagi Kaka, setiap kisah wayang selalu memiliki pesan moral. Pesan-pesan itu yang selalu Kaka coba sajikan dan terapkan.

“Yang pasti, di cerita apapun itu, kebenaran dan kebaikan akan selalu mengalahkan kejahatan,” ungkap laki-laki yang suka memodif motor astreanya menjadi lebih antik.

Prinsip Seorang Dalang

Kaka yang juga tergabung dalam komunitas dalang Persatuan Pedalang Indonesia (Pepadi) Bojoengoro sejak kelas 5 SD memegang teguh prinsip bahwa dalang tidak boleh fanatik.

“Dalang itu enggak boleh fanatik. Harus suka semua jenis kesenian dan menghormati semua dalang karena semuanya memiliki kebaikan masing-masing,” ujar Kaka.

Ia juga memegang prinsip teguh pendirian seperti tokoh wayang favoritnya, Werkudara atau yang lebih dikenal Bima. “Aku ingin jadi seperti Bima, gagah dan selalu teguh pada pendiriannya. Tidak mudah terpengaruh,” ungkapnya.

Selain ingin menjadi seperti Bima, Kaka yang juga menguasai tembang dan memiliki tembang favorit yakni Nyidamsari, mengidolakan Ki Purbo Asmoro. Ia ingin sekali menjadi dalang sekaligus dosen seperti sang idola agar misi melestarikan budayanya semakin meluas.

“Nanti setelah lulus pinginnya kuliah pedalangan di Insitut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta,” harapnya.

Saat ini kegiatannya terus bergelut di dunia kesenian. Tiap 3 bulan sekali, Kaka turut serta hadir di pertemuan rutin Pepadi Bojonegoro yang biasanya bertempat di Dinaa Kebudayaan dan Pariwisata dan rumah ketua Pepadi Bojonegoro, Ragil Sujito. Ia juga menekuni alat musik rebab yang dianggap alat musik paling sulit dikuasai.

Prestasi Kanaka Razzaq Wiratama

  1. Juara 1 Dalang Cilik tingkat Kabupaten Bojonegoro tahun 2021
  2. Juara 3 Mendongeng TK Tingkat Provinsi Jawa Timur tahun 2022
  3. Juara 1 Menyanyi dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Bojonegoro tahun 2022
  4. Juara 2 Menyanyi dalam rangka HUT PGRI tahun 2020
  5. Juara 3 Bercerita tingkat Kabupaten Bojonegoro oleh Perpusda tahun 2024

Seseorang yang Berharga untuk Banyak Orang

Di hari yang sama, kami juga berkesempatan bertemu ibu Kaka, Rindi Dewi yang pada 27 September kemarin dikabarkan berpulang. Menurut mendiang Rindi, nama Kaka diberikan dengan harapan besar.

Kanaka yang berasal dari Bahasa Jawa dengan arti emas memiliki pengharapan Kaka menjadi seseorang yang berharga dan bermanfaat untuk banyak orang. “Emas itu kalau ditempa dan dirawat dengan baik akan menjadi sesuatu yang berharga. Kami ingin Kaka seperti itu,” harap Rini.

Razzaq berasal dari Bahasa Arab yang bermakna pemberi rezeki. Menjadi orang tua tunggal sejak 2023, kebutuhan Kaka sebagian terpenuhi dari hasil menjadi dalang. Setidaknya, antara 1-3 bulan Kaka biasa menerima job mendalang di wilayah Bojonegoro.

Wiratama yang juga berasal dari Bahasa Jawa memiliki arti kesatria. Orang tuanya berharap, Kaka senantiasa tabah dan berani menjalani hidup. “Kami berharap, Kaka bisa menjadi anak yang membanggakan keluarga, agama, dan negara; menjadi anak yang pintar dan bejo (beruntung),” pungkasnya.

Tags: Bojonegoro SelatanDalang Muda BojonegoroKi KanakaPepadi BojonegoroWayang Kulit
Previous Post

Wisata Bojonegoro Wilayah Selatan, Cocok Untuk Anda yang Hobi Petualang

Next Post

Daftar Wisata Bojonegoro Wilayah Utara, dari Petik Buah hingga Ziarah Makam Wali 

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Imajinasi Toko Buku dalam Buku

Imajinasi Toko Buku dalam Buku

15/06/2026
ESAI BUKU: Membaca yang Merambat

ESAI BUKU: Membaca yang Merambat

30/05/2026
Warna Warni Rasa Kerupuk Klenteng

Warna Warni Rasa Kerupuk Klenteng

21/05/2026
Dari Warisan Keluarga, Kerupuk Klenteng Bojonegoro jadi Warisan Budaya Tak Benda

Dari Warisan Keluarga, Kerupuk Klenteng Bojonegoro jadi Warisan Budaya Tak Benda

23/05/2026
Idul Adha 1447 H untuk Bojonegoro Bahagia

Idul Adha 1447 H untuk Bojonegoro Bahagia

27/05/2026
ARSIP KORAN: Bojonegoro Raih Juara Nasional Insus Kedelai 1992

ARSIP KORAN: Bojonegoro Raih Juara Nasional Insus Kedelai 1992

17/06/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023