Kenapa membaca buku? Tentu saja ada sekian banyak alasan orang membaca buku. Alasan-alasan itulah yang kemudian membangun sejarahnya sendiri. Sejarah antara pembaca dan buku.
Aku memercayai, membaca itu merambat. Mungkin seperti tanaman rambat, yang bergerak pelan dalam kesunyian. Ketika kita membaca satu buku, maka muncullah keinginan membaca yang lain. Selesai membaca satu buku, akan merambat ke buku lain. Rambatan itu bisa atas nama apa saja: kesamaan penulis, tema, atau apapun.
Baru-baru ini, aku membaca Book’s Kitchen karya Kim Jee-hye. Cukup menarik. Selepas membacanya, aku membuat catatan pendek berjudul: Ketika Buku Menyembuhkan Luka. Ya, karena cerita di Book’s Kitchen adalah bagaimana tokoh-tokohnya sembuh dari luka batin setelah membaca buku. Kim Jee-hye adalah penulis Korea, seorang jurnalis yang kemudian menulis fiksi semasa pandemi covid-19.
Buku itu kemudian merambat ke buku Korea lain, berjudul Selamat Datang di Toko Buku Hyunam-dong karya Hwang Bo-reum. Juga penulis Korea. Entah kebetulan atau bagaimana, keduanya sama-sama bercerita tentang buku. Buku Hwang Bo-reum lebih tebal dibanding buku Kim Jee-hye. Aku membaca kedua ini dengan pelan dan senang dengan pilihan kalimat dan percakapannya. (Sekarang masih aku baca, dan tunggu catatan pendek tentangnya).
Di luar membaca dua buku itu, aku bertemu dengan film berjudul The Brotherhood of War yang rilis tahun 2004. Film ini bercerita tentang keluarga yang tercerai berai akibat Perang Korea. Sebuah film perang yang cukup mengaduk-aduk perasaan.
Memulai dengan Book’s Kitchen, lalu berlanjut ke Selamat Datang di Toko Buku Hyunam-dong, juga film The Brotherhood of War, ternyata membuatku bertanya tentang Korea. Aku belum pernah membaca kajian-kajian tentang Korea. Drama Korea misalnya. Tapi membaca dua buku dan menonton film, membuatku penasaran akan Korea.
Aku ingat punya buku Perang Korea karya Mochtar Lubis terbitan Yayasan Obor Indonesia, namun entah kemana, buku itu belum ketemu juga. Untungnya, tiba-tiba melintas di media sosial, sebuah buku berjudul Sejarah Korea. Buku ini ditulis oleh Yang Seung Yoon dengan kata sambutan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof. dr. Ova Emilia. Buku yang kudapat cetakan ketiga tahun 2025. Cetakan pertama 2023. Buku ini lumayan tebal, 425 halaman. Buku itupun aku beli.
Sedikit membaca bagian awal buku tersebut, aku memperoleh gambaran serba sedikit tentang Korea. Sebuah bangsa tua berumur lebih dari 5.000 tahun. Bangsa yang unik dengan bahasa dan alfabetnya. Bangsa yang dipecah menjadi dua oleh imperialisme. Korea Selatan dan Korea Utara.
Membaca merambat telah kujalani sejak lama. Dan aku sangat cocok dengan model begini. Membaca merambat ini pula yang kemudian membuatku mengoleksi lebih dari 10 judul buku bertema Pramoedya Ananta Toer. Model membaca merambat ini juga yang membuatku mengoleksi buku-buku Kuntowijoyo, Umar Kayam, Ahmad Tohari, Iwan Simatupang, F Budi Hardiman, Seno Gumira Ajidarma, Putu Wijaya, dan beberapa nama lain. Terkadang, membaca merambat ini juga berkaitan dengan tema, semisal sejarah nusantara, sejarah jawa, hingga sastra anak. Salam kopi cangkir!
____
Ruang Baca KOBUKU, 30 Mei 2026








