Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Mitos & Sejarah

Ketemu Penulis Slamet Widodo, Ini Tips Agar Cerpen Masuk Koran

Mukaromatun Nisa
18/12/2025
Ketemu Penulis Slamet Widodo, Ini Tips Agar Cerpen Masuk Koran

Suasana Ketemu Penulis bersama penulis buku Laraswangi, Slamet Widodo/Foto: Nisa

Ketemu penulis merupakan acara literasi yang diadakan oleh Tim Perpustakaan Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro. Pada Rabu (17/12/2025), kegiatan tersebut digelar di Pojok Statistik, kompleks kampus Unugiri. Acara tersebut menghadirkan penulis buku kumpulan cerita pendek (cerpen) Laraswangi, Slamet Widodo.

Menurut kepala perpustakaan Unugiri, Usman Roin, acara tersebut bertujuan membekali para peserta untuk semangat berkarya dan mampu menembus media masa seperti koran. “Pengunjung perpustakaan diharapkan tidak hanya rajin membaca, tapi juga bisa berkarya,” harapnya.

Ketemu penulis yang pertama kali itu dibingkai dengan sesi bedah buku Laraswangi dan diskusi soal kiat-kiat cerpen masuk koran. Laraswangi sendiri merupakan kumpulan 15 cerpen yang 12 di antaranya sudah dimuat di koran Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Laraswangi, Cerita Lokal dan Mitos Masyarakat Bojonegoro

Menurut Slamet Widodo, Laraswangi hanya desa fiksi belaka. Namun, cerita-cerita di desa tersebut adalah kenyataan yang ditemui penulis di lingkungannya, Kepohbaru-Bojonegoro. Di Antara Sunyi dan Pamali, begitu sub judul Laraswangi.

“Laraswangi adalah tempat di mana adat dan agama saling berdialog, bukan bertentangan,” ujar bapak dua anak tersebut.

Laraswangi lahir dari mitos-mitos dan pamali yang lestari. Seperti aja nikah arah ngalor-ngulon (jangan menikah jika rumah pasangan menghadap utara-barat), dulur wadon kudu nikah disik (saudara perempuan harus menikah lebih dulu), aja nganti ninggal nyadran (jangan meninggalkan sedekah bumi) dan lain sebagainya.

Mungkin terdengar tidak logis, tapi guru matematika MTs Negeri 1 Kepohbaru tersebut mengalami, menyaksikan dan mendengarkannya sendiri hingga kisah-kisah itu menjadi rasional seperti rumus matematika. Melalui anak ideologis yang dilahirkannya lewat perkawinan hati dan akal itu, ia berharap pembaca bisa merasakan kembali desir angin sawah, dengusan benteng di pematang dan suara lirih para tetua yang tak ingin tanah kelahiran kehilangan nadinya.

Judul-judul cerita Laraswangi dibuat seirama dengan harapannya, ada Pamali, Lor-Kulon, Nyadran, Kembang Mayang, Kepenggak Weton Hitungan Jawa, Rabu Wekasan dan lain-lain. Melalui bahasa keseharian atau bahasa ibu, Slamet menyuguhkan cerita yang terasa dekat dengan pembaca. Ia sejujur mungkin menceritakan pengalamannya atau pengalaman orang lain yang ia dengar dan saksikan. Baginya, kejujuran dan ketulusan pesan merupakan pondasi kuat dalam menulis.

“Bagi saya, cerpen yang lahir dari niat yang jernih biasanya akan terasa hidup,” terang pendiri Komunitas Kita Belajar Menulis (KBM) tersebut.

Niat itu juga yang membawa Slamet menuju angen-angen atau pencernaan batin. Menurutnya, menulis saja tidak cukup, ia butuh merenung, mengendapkan ide, membayangkan alur hingga menentukan tokoh dan konflik. Bahkan ketika cerita itu sudah selesai, Slamet masih perlu menambahkan sedikit pupur dan pewarna bibir agar ceritanya semakin manis.

“Saya perlu merapikan alur, menguatkan konflik, menajamkan ending, memadatkan kalimat dan menyesuaikan jumlah kata sesuai kriteria media,” ungkapnya.

Slamet menikmati tangga-tangga proses menulisnya seperti merawat anak sendiri, merawat kisah-kisah leluhur yang mencoba untuk tetap lestari.

Slamet Widodo (tengah pakai kopyah) bersama beberapa peserta Ketemu Penulis/Foto: Nisa

Tips Cerpen Masuk Koran Ala Slamet Widodo

Sebagai kolumnis lembar budaya yang cerpennya sering terpajang di koran Jawa Pos Radar Bojonegoro, Slamet membagikan tips cerpen agar masuk koran. Menurutnya, koran lokal tersebut suka dengan cerita lokal, budaya daerah dan konflik sosial yang nyata.

Laraswangi yang seluruhnya berisi lokalitas Bojonegoro mampu menarik perhatian redaktur meski ada juga cerpen Slamet yang ditolak untuk dimuat. Menurutnya, penulis tidak perlu menulis peristiwa, tapi makna di balik sebuah peristiwa.

“Menulis dari apa yang paling dekat, yang paling melukai, paling mengusik atau paling menggugah dari kejadian,” paparnya.

Buku Laraswangi karya Slamet Widodo/Foto: Nisa

Selanjutnya, penulis harus menentukan konflik sebab cerpen bukan laporan kejadian. “Harus ada masalah, taruhan emosional dan risiko bagi tokoh,” ujar Pembina Ekstrakurikuler Jurnalistik tersebut.

“Tipsnya, tentukan satu konflik utama, titik balik atau twist emosional dan juga akhir cerita sebelum menulis,” sambungnya.

Pemilihan bahasa juga penting menurut Slamet. Tulisan harus terhindar dari kalimat berbunga yang berlebihan, metafora yang dipilih harus fungsional dan kalimat harus bekerja untuk cerita.

“Tekniknya, jangan menceramahi pembaca, tunjukkan lewat Tindakan, dialog dan suasana, serta gunakan detai kecil seperti bau tanah, suara malam dan Gerak tangan,” tuturnya.

Sedangkan untuk membuat ending, menurut Slamet ending perlu menggugah bukan menggurui. Ending yang tidak menjelaskan membuat pembaca menjadi merenung.

“Editor itu lebih suka ending terbuka, simbolik dan menyisakan gema batin,” katanya.

“Tips pentingnya, penulis perlu membaca ulang cerita dengan suara pelan, jika ada yang perlu dihapus tanpa merusak cerita, hapus saja,” tambahnya.

Ending Laraswangi sendiri kebanyakan menggantung. “Pembaca bebas menafsirkan ending cerita,” ucap Slamet.

Tips selanjutnya agar cerpen lolos media menurut Slamet adalah mematuhi kaidah media seperti kesesuaian jumlah kata, tema yang relevan, tidak mengandung Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA) provokatif dan bahasa rapi serta konsisten.

Di akhir pemaparannya, ia menyampaikan tiga prinsip menulisnya yakni menulis harus berangkat dari kejujuran, menulis merupakan proses mengendapkan bukan mengejar, dan menulis harus bertanggungjawab pada nilai.

Salah satu peserta, Elgi Rikardo mengaku mendapat semangat dari acara tersebut. “Sangat menginspirasi dan membuat saya semangat berkarya,” ujar siswa SMAN 1 Kepohbaru itu.

Tags: laraswangimitos dan sejarahslamet widodo
Previous Post

6 Destinasi Agrowisata Bojonegoro, Pengalaman Menarik Petik Buah Segar Langsung dari Pohon

Next Post

Waduk Gongseng Bojonegoro, Tampung Air 22,43 Juta Meter Kubik dan Jadi Destinasi Wisata

KONTEN POPULER

Nonton Konser, Terapi Psikologis Atau Fomo Aja?

Nonton Konser, Terapi Psikologis Atau Fomo Aja?

15/01/2026
Berburu Sehat dengan Joging, Tren Anak Muda Bojonegoro

Berburu Sehat dengan Joging, Tren Anak Muda Bojonegoro

24/01/2026
Bukan Mobil Tua, Hanya Beda Tahun Saja

Bukan Mobil Tua, Hanya Beda Tahun Saja

05/02/2026
Tradhisi Nisfu Sya’ban lan Megengan, Sawijining Akulturasi Budaya

Tradhisi Nisfu Sya’ban lan Megengan, Sawijining Akulturasi Budaya

02/02/2026
Hidup Adalah Cara Memandang Dunia

Hidup Adalah Cara Memandang Dunia

06/02/2026
20 Barang Ini Dulu Ada di Rumah Mbah, Menyimpan Kenangan dan Sejuta Cerita

20 Barang Ini Dulu Ada di Rumah Mbah, Menyimpan Kenangan dan Sejuta Cerita

29/01/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023