Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Crita

Nonton Konser, Terapi Psikologis Atau Fomo Aja?

Catatan Pengalaman Nonton Sing Along Fest 2026 di Surabaya Expo Center

Mukaromatun Nisa
15/01/2026
Nonton Konser, Terapi Psikologis Atau Fomo Aja?

Konser Sing Along Fest 2026 di Surabaya Expo Center/Foto: Nisa

Siapa anak muda yang enggak suka nonton konser musik? Ada enggak ya? Sepertinya kok tidak ada ya. Nonton konser menjadi salah satu aktivitas yang banyak digemari kalangan muda. Tapi, apa sebenarnya yang menjadi tujuan mereka nonton konser?

Di antara gerimis hujan yang jarang, aku dan banyak orang menjadi bagian dari antrean amat panjang mengular untuk penukaran tiket konser Sing Along Fest 2026 di Surabaya Expo Center pada Minggu sore (11/1/2026). Tidak hanya di loket tiket, pandanganku juga tertuju pada loket body checking yang juga mengalami antrean yang mengular. Suara gerutu sampai umpatan sahut-menyahut meminta pertanggungjawaban panitia agar lebih cepat.

Sudah hampir petang dan lagu Celengan Rindu menutup perform Fiersa Besari dari pukul 16.30 WIB.

Sambil berada di barisan antrean, lirik Celengan Rindu yang dinyanyikan Fiersa Besari menjadikan antrean terasa makin lama. Gerutu makin kencang. Yack, bintang tamu pertama telah usai, dan belum juga bisa masuk venue.

Begitulah kondisi konser sore itu, seperti hukum dualitas hidup, ada kecewa dan bahagia.

Dan ketika mentari sudah undur diri dan petang menyelimuti lapangan konser, hati pengunjung menjadi bungah. Perunggu memasuki panggung dan bernyanyilah semua meluruhkan kedongkolan. Mengobati luka. Tentu hampir semua mengangkat gawai, memfoto, memvideo dan terus bernyanyi mengekspresikan perasaan masing-masing.

Usai Perunggu, Hindia tampil memeriahkan panggung. Dan For Reverenge menjadi band penutup dengan kembang api yang dar-der-dor. Meriah. Bahagia.

Antara FOMO dan Terapi Psikologi

Meski harus war tiket, berdiri berjam-jam bahkan sampai datang dari luar kota, anak muda tetap ikut konser dengan alasan yang beragam. Pristi, warga Sidobandung-Balen-Bojonegoro setidaknya sudah 1-4 kali dalam setahun mendatangi konser dengan mempertimbangkan bintang tamu dan gajinya sebagai karyawan perusahaan.

Pristi (sebelah kiri) di konser Sing Along Fest 2026/Foto: Pristi

“Enggak dalam sebulan (konsernya). Gajian iku bulanan. Jadi mungkin lebih tepat kalau berapa tahun sekali, mungkin (konsernya) 1-4 kali setahun,” ujarnya.

Bagi Pristi, konser adalah healing yang biasa saja seperti kebanyakan orang pada umumnya. Ia juga merasa biasa saja bertemu penyanyi idola sebab panggung baginya masih terlampau jauh di depan mata. Namun, ada rasa nyaman dengan vibes lagu yang biasa ia nikmati saat di otak sedang ramai. Sekarang, ramai di kerumunan bagi perempuan hobi memasak itu dapat meningkatkan kesadaran secara psikologis.

“Mungkin ini trigger dasarnya orang-orang menyebut konser sebagai terapi psikologis,” ungkapnya.

Meski saat ini mendengarkan musik bisa dilakukan di mana dan kapan saja, tapi menyanyi di konser bagi Pristi berbeda. “Di konser kamu boleh nyanyi sekencang-kencangnya tanpa merasa aneh,” paparnya.

Perempuan penyuka warna hitam itu mengaku FOMO atau Fear of Missing Out mengikuti konser. “Fomo iya, memang aku sedang mengikuti arus dan menuju keramaian,” ungkapnya.

Namun, menurut Pristi, setiap penikmat konser bisa memaknai masing-masing. Ia datang untuk Fiersa Besari karena Fiersa Besari merupakan ingatannya beberapa tahun silam meskipun ia merasa sudah tidak relate dengan lirik lagunya. “Aku masih bisa menyanyikannya (lagu Fiersa) bareng orang ramai,” ucapnya.

Ia datang untuk Baskara, vokalis Hindia dan Feast karena memang melihat serunya orang-orang di sosial media saat menyanyikan lagu Everything You Are.

Meski suka mendengarkan dan bernyanyi di konser, Pristi juga tetap menyukai mendengarkan musik di aplikasi android seperti Spotify. “Di Spotify, aku senang mendengarkan lagu-lagu mahalnya Baskara dan di luar dugaan kemarin banyak dibawain kayak Perseverance, Kids, Janji Palsu, dan Membasuh versi baru,” jelasnya.

Banyaknya tren di sosmed yang menyebut konser adalah terapi psikologi, Pristi mengiyakan hal tersebut, tapi tidak untuk semua konser. “Setahuku yang melekat terapi psikologi itu Baskara, bukan all konser. Memang lagunya Baskara banyak tentang keresahan dan kata-kata tabu yang orang lain tidak bisa ucapkan. Tapi di konser Hindia, kita diajak menyanyikannya dengan lantang,” paparnya.

Selain terapi psikologi, konser bagi Pristi juga menjadi obat jenuh dari pekerjaan yang membuat emosi. “Iya (konser) obat jenuh. Aku selalu pingin maki orang di tempat kerja, tapi aku nggak mau jadi alasan orang lain berat berangkat kerja karena harus bertemu aku dan menghadapi sikapku. Jadi, aku berteriak di konser,” kata Perempuan penyuka kucing tersebut.

Anti Nabila di konser Sing Along Fest 2026/Foto: Iil

Penikmat konser yang lain, Anti Nabila, warga Balenrejo-Balen-Bojonegoro mengaku tidak pernah menghitung berapa kali ia nonton konser baik dalam sebulan maupun setahun. Jika menonton gigs atau pertunjukan musik skala kecil yang dibuat oleh sekelompok youth subculture sebagai wadah penyampaian kegelisahan sekaligus bentuk ekspresi diri, hampir sebulan sekali ia menontonnya.

“Aku usahain sebulan sekali karena kalau di gigs pasti penampilan dari band-band lokal. Dari daerah-daerah gitu. Atau dari Bojonegoro sendiri. Aku usahain buat nonton supaya aku juga punya healing tersendiri gitu,” ucapnya.

Bagi Iil, sapaan akrabnya, konser merupakan salah satu healing yang paling relevan ketika ia belum bisa bercerita ke orang tentang masalahnya. “Jadi konser bagi aku tuh healing banget,” ucap ketua demisioner Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Musik Nutasi Unugiri itu.

Nonton konser yang paling bikin Iil healing adalah suasana di sekitarnya. “Seperti halnya kalau aku nonton konser di Surabaya itu vibes-nya tuh lebih menyenangkan ketika kita ketemu sama teman sefrekuensi misalnya. Yang kedua ketika penyanyinya bisa memberikan ruang aman untuk perempuan. Itu contohnya di konsernya Rebellion Rose yang di Tuban. Berapa bulan yang lalu itu aku nonton,” paparnya.

Bertemu idola menjadi salah satu alasan Iil mendatangi konser meski menurutnya konser tidak melulu soal bertemu idola. Sebab ia seringnya justru berada di tengah maupun belakang barisan. Butuh tubuh ekstra fit jika ia mau berada di barisan depan panggung karena pasti penuh desakan dan sesak penonton lainnya.

“Jadi enggak melulu ketemu idola, tapi gimana sih caranya biar vibes di antara penonton itu lebih harmonis. Kita bisa joget bareng. Misalnya kalau konser dangdut, ya, kita bisa moshing bareng. Kan bisa juga moshing itu yang ramah untuk perempuan,” terangnya.

Nonton konser bagi Iil tidak sekadar mendengarkan musik seperti yang bisa dilakukan melalui aplikasi digital, tapi juga tentang bagaimana caranya bisa masuk di suasana sekitar, mendengarkan musik dengan saksama, dengan teman-teman, dengan orang-orang baru yang sefrekuensi, dengan penyanyi yang memberikan ruang aman untuk penonton-penontonnya dan dengan suasana alam yang saling mendukung.

Sebagai Generasi Z yang sudah lama berkecimpung di dunia musi, konser bagi Iil bukan fomo. “Aku enggak bakal nonton kalau enggak playlist sama aku.”

Dari sisi terapi psikologi, saat konser Iil menemukan ketenangan dalam dirinya dan ada beberapa lagu yang pesannya masuk ke dalam hidupnya. “Misal, salah satu lagunya Perunggu (berjudul) 33x,” katanya.

“Aku biasanya dengerin musik yang relatable dengan perjuangan-perjuangan para musisi untuk menegakkan keadilan, pemberontakan kepada negara yang kurang baik kepada rakyatnya, begitu,” sambungnya.

Tips Nonton Konser Hemat dan Menyenangkan

Pristi harus merogoh kocek sekitar Rp 50.000-200.000 untuk membeli tiket konser tergantung bintang tamu dan penyelenggara. “Untuk konser luar kota bisa ditambahkan akomodasi 100.000-300.000,” terangnya.

Pristi berkeyakinan bahwa tidak ada tips konser hemat. “Tidak ada tips hemat nonton konser. Habiskan uangmu jika memang pingin konser. Hindia said, lagi pula hidup akan berakhir maka lakukan apa yang kau mau sekarang, hidup ini tak ada artinya maka kau bebas mengarang maknanya,” ungkapnya mengambil penggalan lirik lagu Hindia.

Nonton konser Sing Along Fest 2026 sendiri, Pristi menghabiskan Rp 150.000 untuk tiket, Rp 19.000 untuk tiket kereta berangkat-pulang Bojonegoro-Surabaya dan Rp 58.500 untuk penginapan di luar budget grab ke Lokasi konser serta budget makan dan jajan.

Bagi Pristi, konser tersebut sangar karena dari 5 guest star ia penikmat lagu 4 di antaranya meski panitia kurang dalam persiapan.

Berbeda dengan Iil, ia punya tips nonton konser hemat dan beberapa tips lainnya. Iil biasanya membeli tiket konser di atas Rp 50.000. Sedangkan untuk budget transporti tergantung letak lokasi. “Budget konser sih 500 (ribu) sudah cukup. Itu sudah bisa ke luar kota, tapi kita nginapnya yang perlu nyari lebih murah. Karena kalau di luar kota pasti kita bakal nginap kan,” jelasnya.

Sedangkan tips persiapan nonton konser bagi Iil adalah outfit ternyaman dan terkece. “Jangan sampai kalian fomo-fomo sama produk-produk yang sekiranya kelihatannya bikin orang culture tuh jangan. Terkecuali kalau emang style mereka itu udah sesuai dengan kamu. Beda lagi ya kalau cuman fomo-fomo style doang. Soalnya beberapa kali aku ngerti mereka tuh ada penonton yang fomo sama style di salah satu culture musik,” tuturnya.

Adapun tips nonton konser menyenangkan menurut Iil adalah ajak teman jika memang tidak suka sendirian. Jika kebetulan se-playlist dengan pacar, bisa ajak pacar. “Tapi aku punya pengalaman paling menyenangkan ketika sama teman karena aku juga enggak punya pacar,” ujarnya.

Bagi Iil, nonton konser Sing Along Fest 2026 merupakan pengalaman yang paling menyenangkan setelah nonton konser Rebellion Rose di Tuban dan juga setelah nonton gigs-nya Weatswan di Surabaya. “Jadi top one karena aku ketemu sama teman-teman yang sefrekuensi dan menyenangkan,” pungkasnya.

 

Tags: konser feastkonser fiersa besarikonser for reverengekonser hindiakonser musikkonser perunggusing along fest 2026
Previous Post

Serunya Kegiatan Outbound BEM STTM ARFA di Pantai Panduri Tuban

Next Post

Pengalaman Kreasi Memasak Sengkulun atau Iwel-iwel, Kue Tradisional yang Muncul saat Selapanan Bayi

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

7 Pelajaran Usai Nonton Na Willa, tentang Pola Asuh hingga  Cara Melihat Semesta

7 Pelajaran Usai Nonton Na Willa, tentang Pola Asuh hingga Cara Melihat Semesta

08/04/2026
Basa Bojonegaran

Basa Bojonegaran

16/04/2026
Aliansi Buruh Bojonegoro Bersatu Turun Jalan, Suarakan 17 Tuntutan di Hari Buruh Sedunia 2026

Aliansi Buruh Bojonegoro Bersatu Turun Jalan, Suarakan 17 Tuntutan di Hari Buruh Sedunia 2026

02/05/2026
Setyo Wahono: Pers Berperan Membangun Daerah

Setyo Wahono: Pers Berperan Membangun Daerah

09/04/2026
Merawat Kemandirian Pangan Lokal Bojonegoro

Merawat Kemandirian Pangan Lokal Bojonegoro

21/04/2026
JFX Hoery, Mutiara di Ujung Barat Bojonegoro 

JFX Hoery, Mutiara di Ujung Barat Bojonegoro 

27/04/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023