Bagi masyarakat Jawa, peringatan hari lahir bukan pada tanggal lahirnya seseorang, melainkan sesuai hari lahir di pasaran Jawa seperti Kliwon, Legi, Pahing, Pon dan Wage. Hari lahir tersebut disebut weton atau tiron. Sedangkan tradisi peringatannya disebut wetonan atau tironan.
Wetonan memiliki tujuan ungkapan rasa syukur juga harapan agar selalu diberi keselamatan dan kesuksesan di hari-hari berikutnya. Oleh karena itu kadang juga disebut selametan, agar senantiasa selamat.
Di Bojonegoro sendiri, ada desa bernama Pacul yang terus melestarikan tradisi wetonan, tercatat dalam buku The Values as Local Wisdom karya M. Yazid Mar’i. Pada buku yang dicetak tahun 2024 tersebut, Yazid melakukan riset tentang simbol-simbol yang ada dalam wetonan termasuk simbol jajan pasar.
Jajan pasar merupakan janan tradisional atau kue basah yang umumnya dijual di pasar. Jajan pasar sendiri memiliki makna umum urip yen dasar tatanane Gusti tentu ora bakal nyasar. Jika diterjemah dalam Bahasa Indonesia memiliki arti hidup jika mengikuti aturan Tuhan tentu tidak akan tersesat.

Beberapa macam jajan pasar beserta filosofinya dikutip dari buku The Values as Local Wisdom sebagai berikut:
1. Wajik (wani tumindak becik)
Orang yang sedang diwetoni harapannya bisa terus berani untuk berbuat baik.
2. Gedhang Ijo (gawei seneng anak lan bojo)
Harapannya, seseorang bisa terus membahagiakan anak dan pasangan atau keluarga.
3. Sukun (supaya rukun)
Seseorang diharapkan senantiasa rukun dalam menjalani kehidupan berkeluarga maupun bermasyarakat.
4. Nanas (wong urip ojo nggragas)
Buah warna kuning tersebut ternyata memiliki filosofi yang dalam, ojo nggragas alias serakah. Nanas mengajarkan bahwa sebagai manusia cukup ambil seperlunya, tanpa mengambil hak orang lain atau terlalu serakah mengambil hasil bumi.
5. Dhondong (ojo kegedhen omong)
Sebagai manusia jangan besar bicara atau sombong. Apalagi sampai melukai perasaan orang lain atau bahkan banyak bicara sedikit bekerja.
6. Jambu (ojo ngudal barang sing wis mambu)
Jambu memiliki filosofi jangan melakukan hal yang buruk. Manusia sebisa mungkin berhati-hati dalam berbicara dan bertindak untuk menghindari perilaku buruk.
7. Jeruk (jobo jero kudu mathuk)
Jeruk melambangkan bahwa sesuatu dari dalam-luar/lahir-batin harus sejalan.
Jajan pasar bukan sekadar pelengkap wetonan. Namun, dari jenisnya yang beragam beserta filosofinya, jajan pasar mengajarkan banyak hal tentang cara menjalani hidup dan menjadi manusia yang saling welas asih. Melalui jajan pasar di wetonan, baik yang memberi maupun yang diberi sama-sama ingat dan menjalani filosofi masing-masing jajan. Apakah di desamu juga masih ada tradisi wetonan?








