Pernahkah kamu merasa bingung hendak membaca buku apa? Jika tidak pernah, waduh, berarti kamu memang sedang tidak membutuhkan buku. Dan jika tidak pernah merasa bingung dalam jangka waktu lama, celaka dua kali, karena berarti kamu tidak pernah merasa butuh buku.
Tapi, apa itu salah? Enggak juga sih. Orang tidak membaca buku tetap disebut manusia normal. Tidak ada kesepakatan publik, bahwa membaca buku menjadi standar normal atau tidaknya seseorang. Malah sebaliknya, anggapan umum mengatakan, bahwa orang yang “gila buku” adalah orang tidak wajar. Dan apa itu berarti gila buku adalah orang tidak normal? Kamu boleh menyimpulkan sendiri.
Tentang pertanyaanmu minggu lalu, bagaimana cara agar menyukai buku? Jujur, aku sulit menjawabnya. Apalagi jawaban singkat. Aku juga belum pernah menemukan orang buka praktik terapi untuk orang yang bermasalah di minat baca buku. Adanya adalah terapi makan bagi anak-anak susah makan, atau fisioterapi untuk anggota tubuh yang cedera. Tapi terapi baca buku? Kok sepertinya belum ada.
Tapi, sebagai kawan, aku ingin mengatakan ini. Pertama, membacalah dari hal yang paling kamu sukai. Bisa soal temanya, nama penulisnya, atau karena ikut tren semata. Tidak apa-apa. Karena terpenting kamu nyaman dengan bacaanmu. Misal, kamu lagi suntuk, tidak punya semangat dan bawaannya putus asa saja, tidak ada salahnya membaca buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring terbitan Kompas.
Buku ini banyak dibaca orang. Bahasanya ringan tapi penuh makna. Aku membeli cetakan ke-50 tahun 2023. Bayangkan, kalau buku sudah dicetak sampai 50 kali, berarti buku itu bagus. Minimal bagus versi pasar (publik). Dan tidak ada salahnya, kamu mengikuti tren, buku apa yang paling banyak dibaca orang.
Kedua, jika kamu sudah mulai membaca dan merasa bosan, jangan mudah menyerah. Anggap saja ini adalah langkah awal untuk mengubah hidup. Kamu coba menata pikiran, memberi target-target kecil agar bisa menyelesaikan membaca Filosofi Teras. Semisal, sebulan harus selesai memaca buku ini. Atau dua bulan, atau tiga bulan? Lalu disusul pertanyaan, ah masak buku setebal ini saja harus membutuhkan waktu tiga bulan membacanya? Beri rangsangan di pikiranmu untuk terus bergerak.
Nah, langkah ketiga ini jika kamu sudah mulai nyaman membaca. Minimal nyaman dengan membaca satu buku. Yakni, cari orang untuk mendengarkan hasil bacaanmu. Anggap saja, gelasmu baru saja diisi air penuh, dan agar tidak sampai tumpah, kamu perlu mencari gelas kosong untuk menampung sebagian isi gelasmu. Ya, berbagi apa yang dibaca sebenarnya adalah terapi mengingat. Juga belajar menangkap makna apa yang dibaca. Jika orang yang kamu ajak bicara ternyata pernah membacanya, maka obrolan asyik akan berjalan begitu saja. Obrolan yang menyenangkan.
Sudah ya, sampai di sini saja ya. Aku akan sambung lagi di lain waktu. Kebetulan, aku harus melanjutkan membaca buku. Kali ini bukuku bercerita tentang sebuah toko buku. Judulnya: Welcome To The Hyunam-Dong Bookshop karya Hwang Bo-reum. Aku sulit mengeja nama-nama Korea, tapi asli buku ini sangat menarik. Apalagi kalau kita mengawali membaca dengan perasaan nyaman dengan buku. Ingatkan aku nanti, jika selesai membaca, akan aku ceritakan.









