Bersama kawan baik, saya membawanya dari Wonogiri, Jawa Tengah menuju Yogyakarta. Gerimis turun sepanjang jalan. Si Putih, begitu sang pemilik menamainya melaju di jalan aspal yang seringkali berlubang. Si Putih itu macam nama kesayangan. Dan memang benar, mobil itu berwarna putih, meski cat mengelupas di sana-sini.
Dari Yogyakarta, paginya roda Si Putih menggelinding, melintasi Klaten, Solo, Sragen, Ngawi, hingga akhirnya Bojonegoro. Berapa jam? Saya lupa persisnya. Saya sendirian memegang setir. Tanpa ada penumpang satu pun. Berhenti sekali di Sragen untuk beli Pertalite. Dan berhenti lagi di Bojonegoro, saat perut butuh sarapan pagi.
Mobil kelahiran tahun 1994 ini memang bewajah kusam. Cat banyak mengelupas. Jok apalagi, sudah kempes dan banyak robek. Tapi, mengendarainya tetap menyenangkan. Mungkin inilah “cinta”. Mazda Vantrend dengan mesin 1.400 cc dengan mesin penggerak belakang, injakan gasnya lumayan enteng. Tombol power windows ada di sebelah tuas porsneling, membuatnya sedikit berbeda dari mobil pada umumnya. Dan untuk bukaan kaca pintu belakang tetap menggunakan engkol alias tenaga tangan.

Banyak orang mengira, Vantrend ini produksi 1970 an. Memang desainnya mirip era 70 an, dan ternyata era 90 an. Desainnya yang pendek dan wagon memanjang membuatnya terkesan jadul.
Tapi, ya itu….bagi orang yang suka mobil lawas, Vantrend bukanlah mobil tua, tapi cuma beda tahun saja. Artinya sama-sama saja.
Soal “jajan” untuk mobil, tentu saja ini kembali ke penghitungan masing-masing. Bisa dianggap murah, juga bisa dianggap mahal.
Terlepas dari mahal-murah, saya coba berbagi cerita tentang mobil yang saya pakai sekarang. Sesampai di “kandang” rumah, pertama-pertama saya mengganti knalpot. Awalnya knalpot brong, suaranya meraung-raung garang kalau digas. Saya ganti dengan knalpot standar originalnya. Enggak sampai Rp 500 ribu. Knalpot baru produksi perajin knalpot Purbalingga. Berada di kampung, saya kurang enak kalau knalpot berisik.
Soal pajak, selalu taat. Pajak enggak sampai Rp 500 ribu/tahun. Dan tahun 2025 lalu, sudah ganti plat menjadi putih.
Oh ya setelah sekitar tiga tahun saya bawa, agar tampilan agak enak dipandang, mobil saya bawa ke tukang cat. Sebulan lebih mobil bearda di bengkel cat. Kini, wajah tak sekusam dulu. Lebih enak dipandang mata. Biaya cat enggak sampai Rp 5 juta. Baru-baru ini, saya ganti 4 ban, dan perbaiki ac agar nyesss.
Ganti empat ban baru, ternyata enggak langsung nyaman. Ada saja masalah datang. Dua roda ternyata angin berkurang tiap seminggu sekali. Saya bawa ke tukang ban, katanya velk kotor. Saya minta bersihkan. Satu roda sehat, satunya tetap tidak sehat. Dan yang tidak sehat, akhirnya pakai ban dalam. Ban tubeles pakai ban dalam? Ya apa boleh buat. Penting nyaman.

Mobil putih pendek ini pun sudah pernah menginjakkan kakinya di Batu, saat ngecamp di Pinus Campervan Batu. Melintasi jalanan berkelok di Jombang hingga Pujon, ditemani hujan deras banget. AC terus nyala. Mobil sempat bocor karena hujan terlalu deras, karet-karet pintu belakang kurang kedap hingga air bisa menerobos dan menetes. Itulah serba-serbinya.
Sesampai di lokasi camp, mobil parkir di samping tenda. Bahkan, lantaran hujan enggak reda-reda, kami tidur di mobil. Karena jok belakang bisa diratakan dengan lantai mobil.
Agar tidak ngelantur cerita saya ini, saya cukupkan di sini. Saya ingin berbagi cerita saja bahwa merawat mobil bukan soal usia, tapi soal kesenangan. Klangenan. Percayalah, tidak ada mobil tua, yang ada hanya beda tahun saja!








