Nausicaa of the Valley of the Wids merupakan film Ghibli dengan durasi hampir 2 jam. Film ini tentang serangga, alam dan manusia. Pada Jumat (23/1/2026), saya baru saja menonton.
Nausicaa, gadis berbaju biru lengan panjang dan rok selutut. Ia cermin perempuan yang berani dari Lembah Angin. Membawa pedang keramik, senapan dan kapal terbang yang suka menyusuri Fukai dengan masker oksigen. Fukai merupakan hutan dengan spora beracun. Dalam lima menit jika tanpa masker oksigen, manusia akan mati di antara tumbuhan dan para serangga raksasa yang menghuninya.
Selain berani, Nausicaa juga peneliti yang hati-hati. Di ruangan rahasia di ruang bawah tanah kastil, ada laboratorium spora dan tanaman yang beraneka ragam dari Fukai. Di ruang itu, udara justru terasa sangat bersih dan flora Fukai berbunga amat cantik. Dengan air dari sumur dan pasir paling bawah yang dimiliki Lembah Angin, spora dan tanaman itu bebas dari racun.
Nausicaa juga menjadi juru kunci bergeraknya kincir angin sebagai pusat kehidupan. Angin, napas, udara, ia sesuatu yang tak tampak, tapi kehadirannya membawa kehidupan dan dengannya pula kematian menemui titik awal pulang.
Welas Asih untuk Kasih Paling Tulus
Fukai selalu dianggap musuh paling menakutkan bagi manusia. Pemukiman bisa saja hancur seketika dan manusia kehilangan nyawa jika Fukai sudah merambah menelan mereka mentah-mentah. Namun, sejatinya, justru manusialah yang membikin bumi itu tertiksa, sakit dan nelangsa.
Nausicaa yang selalu menganggap bahwa semua makhluk harus saling menyayangi menemukan keajaiban di titik paling bawah Fukai. Pohon-pohon Fukai yang mati itu masih teraliri air di dalamnya. Pasir sumur itu terjun bebas di bawahnya menjadi pasir yang murni, membawa kehidupan bagi seluruh tanaman dan umat manusia. Fukai justru menjadi penyaringan air dan pasir paling hebat.
Namun, manusia selalu serakah, kejam dan merasa paling benar serta berhak hidup di bumi dengan keegoisannya. Kushana beserta pengikutnya dari Tolmekia berambisi membakar Fukai dengan senjata api kuno dan mencoba menghidupkan tentara raksasa yang ia curi dari Pejite untuk melawan Ohmu.

Ohmu adalah serangga besar berbentuk trenggiling dengan mata bulat yang menyebar di banyak titik tubuh bagian depan. Saat Ohmu diganggu manusia, mata-mata itu akan memerah dan menyala seperti lampu bohlam yang diseliputi api, api kemarahan. Ohmu selalu dianggap musuh paling menakutkan.
Padahal, ketulusan hati Ohmu yang menjulurkan tali-tali emas serupa terumbu karang mampu menyembuhkan luka paling sakit, paling dalam pada manusia. Padahal, saat hatinya terbuka, bumi yang semula anginnya berhenti berembus, kembali bertiup kencang dan membawa kehidupan, bersih dan segar.
Ohmu yang semula berbondong-bondong dengan mata merah menyala menuju Lembah Angin sebab anaknya diculik sebagai pancingan, mereka mampu mereda, matanya membiru, mengelilingi Nausicaa yang nyaris mati dengan luka tembak yang dalam di bahu dan kaki. Energi feminim Nausicaa yang tulus sebagai sesama makhluk membuat serangga dan manusia bisa bersahabat erat, hidup berdampingan dan saling menyembuhkan.
Perempuan, energi feminisme, dan welas asih membuktikan bahwa setiap makhluk adalah mukjizat tersendiri. Bahkan rumput liar pun berhak hidup termasuk hutan dan semua penghuni bumi Indonesia.
Nuasicaa sebagai putri kerajaan yang menggantikan ayahnya membuktikan bahwa pemimpin adalah ia yang melindungi, bukan merusak, bukan membunuh. Bahkan Nausicaa tetap menolong Kushana di ambang kematiannya. Ia rela bertaruh nyawa demi hutan, serangga, penduduknya dan tanah kelahirannya agar semua tetap hidup dalam kebersamaan yang haru. Nausicaa adalah potret pemimpin yang saya impikan.









