Penulis: Kajar Djati
Batik Bojonegoroan kini sudah banyak dikenal luas. Tak hanya oleh masyarakat Bojonegoro saja, melainkan oleh masyarakat lebih luas lagi. Motif-motif lokal menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.
Bisnis batik Bojonegoroan sebenarnya baru dimulai tahun 2009, yakni ketika ada lomba desain batik Jonegoroan. Pasca itu, bisnis batik Jonegoroan bak jamur di musim hujan. Di mana-mana ada bisnis batik. Meski pada akhirnya, hanya beberapa saja yang bertahan.
Nah, salah satu yang bertahan dan berkembang dengan pesat adalah Marely Jaya yang berada di Desa Prayungan, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro. Marely Jaya yang berdiri sejak 2009 terus berkembang, dan kini memiliki 20 karyawan.
Marely Jaya Menggarap Tiga Jenis Batik

Marely Jaya dibangun oleh pasangan suami istri Efendi dan Pudji Rahayu (Bu Yayuk). Pada 2009, awalnya mengikuti pelatihan-pelatihan yang diberikan oleh Pemkab Bojonegoro. Lalu terus berkembang hingga kini.
Awal Desember 2023, saya melihat secara langsung proses membatik di Marely Jaya. Ada tiga jenis batik yang digarap di ‘pabrik’ yang sekaligus rumah tersebut.
Tiga batik yang digarap:
1. Batik tulis. Caranya diawali membuat motif dengan pensil. Lalu dipindahkan ke kain juga menggunakan pensil. Baru setelah itu dicanting manual.
2. Batik semi tulis. Cara membuatnya dengan batik cap lebih dulu. Lalu diwarnai di bagian yang dikehendaki. Proses selanjutnya dicanting untuk bagian tertentu. Baru dicelup warna.
3. Batik cap. Batik ini ya dengan cap saja. Tinggal mewarnai saja. Biasanya pesanan dari sekolahan SD atau TK.
Punya 300 Lebih Motif

Menurut Yayuk, bisnis yang dikembangkan berawal dari sembilan motif yang ditawarkan oleh Pemkab. Lalu ada tambahan 35 motif baru. “Tapi tiap motif kemudian dikembangkan lagi oleh Marely Jaya. Jadi kini kalau ditotal ada 300 an motif,” terangnya.
Efendi menambahkan, setiap motif selalu disimpan. Jadi jika ada orang yang memesan, akan mudah untuk membuatnya. Marely Jaya, mudah dijangkau karena ada di pinggir jalan, yakni tepatnya di Jalan Bojonegoro-Babat, Desa Prayungan, samping SMPN Sumberrejo.
Untuk saat ini, jumlah karyawan sebanyak 20 orang. Mereka bisa menggarap di rumah, namun finishing tetap dilakukan di Marely Jaya. “Batik cap dalam waktu sebulan bisa 500 – 1.000 potong. Batik tulis bisa lebih lama. Sebulan bisa cuma 1,” terang Efendi.
Marely Jaya hingga kini terus mengeksplore nilai lokal dan sejarah lokal untuk kemudian dijadikan motif batik. Yayuk bercerita, ia sering mengamati lingkungan sekitar, lalu apa yang dilihat dituangkan dalam motif batik, lengkap dengan ceritanya.
“Motif batik itu ada kisahnya. Misal tentang Angling Dharma, persawahan, dan lainnya,” terangnya.









