Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Bojonegoro Selatan

Pengalaman Pertama Mendaki Gunung Pandan, Terapi Alam di Puncak Tertinggi Bojonegoro

Mukaromatun Nisa
14/11/2025
Gunung Pandan Bojonegoro

Gunung Pandan Bojonegoro/Foto: Nisa

Bojonegoro yang biasanya panas, hari itu, saya menemukan sisi yang sejuk dan damai. Ya, sisi sejuk itu ada di Gunung Pandan. Dan akhir-akhir ini Gunung Pandan menjadi perbincangan di media sosial hingga beberapa orang melakukan pendakian di puncak tertinggi Bojonegoro itu. Saya pun mencobanya bersama lima orang teman pada Sabtu (8/11/2025).

Saya berangkat dari Bojonegoro kota pukul 10.30 WIB lewat jalur Dander-Bubulan-Sekar. Sampai di bawah kaki Gunung Pandan sekitar pukul 12.00 WIB. Sepanjang perjalan dari Dander, hutan-hutan jati berdiri gagah di kanan-kiri, hijau dan asri. Sampai di Sekar, jalan-jalan kecil, menanjak dan curam menjadi tantangan, harus ekstra hati-hati dan motor harus sehat wal afiat.

Saat memasuki Desa Klino (Sekar), saya merasa betapa beruntungnya penduduk yang hidup di kawasan ini, sawah terbentang hijau, hutan lebat yang sejuk dan oksigen yang masih murni, hawa tenang langsung hinggap di dada saya yang beberapa hari terakhir terasa menyesakkan.

Butir-butir kecil dari langit sedikit demi sedikit membasahi kami saat tiba di rumah warga yang dijadikan parkir, tepat di bawah kaki Gunung Pandan. Hujan deras cepat mengguyur, dan kami menikmati semangkuk mie panas yang dibeli dari rumah warga tersebut. Aroma mie yang bercampur dengan aroma hujan menyatu. Sedap.

Seperti begitu selaras dengan semesta, usai mie tandas, hujan sisa gerimisnya. Beberapa teman memutuskan menggunakan jas hujan, sedang saya menikmati sejuknya gerimis sambil terus berjalan menuju puncak Gunung Pandan. Selang sebentar, hujan benar-benar berhenti. Meski mendaki pukul 12.50 WIB, hutan Gunung Pandan sama sekali tidak panas, sangat sejuk.

Kami lewat jalur sebelah kiri yang lebih lebar sesuai saran bapak pemilik parkir motor. Jalur ini juga lebih landai dan aman ketika musim hujan. Sedangkan jalur sebelah kanan yang hanya setapak sedikit lebih ekstrem.

Para pendaki di Gunung Pandan
Para pendaki di Gunung Pandan/Foto: Nisa

Shinrin-yoku di Gunung Pandan

Pendakian ini ternyata termasuk terapi di hutan atau dalam Bahasa Jepang disebut dengan istilah Shinrin-yoku yang dipopulerkan sejak tahun 1980-an. Para dokter di Jepang mempromosikan terapi hutan ini sebagai kegiatan untuk menyehatkan fisik dan mental.

Sejak di awal jalur pendakian, pohon-pohon jati, porang, jambu, pisang dan beberapa pohon yang tidak dikenal memberikan efek tenang lewat warna hijau dari daun-daunnya yang rimbun. Suara cenggaret yang nyaring terdengar seperti musik pengantar tidur, nyaring yang damai.

Udara di hutan ini benar-benar segar, betapa bahagianya paru-paru kami. Hawa sejuk selepas hujan membuat pendakian kali ini benar-benar menyenangkan. Sepoi-sepoi angin, bau tanah lepas hujan menjadi pemandangan yang memanjakan mata, Mentari belum sepenuhnya tampak.

Pemandangan di jalur pendakian Gunung Pandan
Pemandangan di jalur pendakian Gunung Pandan/Foto: Nisa

Kami menemui beberapa pohon cabai rawit yang berbuah lebat, hijau dan merah. Sayang, kami tidak membawa alat masak untuk membuat gorengan. Sedikit-sedikit kami berhenti untuk berswafoto atau memvideo suara-suara cenggaret untuk koleksi musik saat gundah.

Melihat pohon-pohon yang besar dan tinggi menjulang, saya teringat sebuah penelitian di jurnal ResearchGate pada tahun 2021. Studi tersebut mengatakan bahwa memeluk pohon bisa menimbulkan reaksi rileks, perasaan menjadi lebih tenang dan hormon oksitosin (hormon yang mengendalikan emosi positif) meningkat.

Memeluk Pohon Merasakan Kehadiran Alam

Guna membantu peningkatan pelepasan hormon oksitosin, Psikolog klinik dari praktik layanan hubungan manusia dengan alam, Silvo Therappy di Inggros, Dr. Stone Kraushaar, Ph.D., menyarankan agar seseorang memeluk pohon selama minimal 21 detik.

Saya pun mencobanya ketika berada di Pos 3 Gunung Pandan. Saya memeluk salah satu pohon dengan lama, memejamkan mata, merasai energi yang mengalir, menghirup udara secara pelan dan dalam serta merasai betapa berharganya setiap makhluk yang hidup termasuk diri sendiri.

Alia, salah satu pendaki Gunung Pandan
Alia, salah satu pendaki Gunung Pandan/Foto: Nisa

Selain memeluk pohon, saya juga mencoba bermeditasi selama beberapa menit saat sampai di puncak Gunung Pandan. Puncak Gunung Pandan terdiri dari pohon-pohon besar yang rindang serta terdapat satu pendapa yang atapnya masih terawatt. Di pendapa ini saya mencoba bermeditasi menghadap hutan-hutan di puncak Gunung Pandan.

Sinar matahari menorobos lewat sela-sela ranting pohon, hangat. Angin berembus lebih kencang, saya bersila, menutup mata dan bernapas secara teratur. Betapa damai, betapa tenang dan betapa saya lebih menyayangi diri sendiri. Energi positif Gunung Pandan membuat saya beranggapan bahwa kami disambut, dijaga dan disembuhkan dengan begitu hangat.

Panduan Praktis Mendaki Gunung Pandan

Meski hanya memiliki tinggi tidak sampai 1.000mdpl, mendaki Gunung Pandan cukup menguras tenaga dan membuat kaki keram lepas mendaki jika sebelumnya tidak rutin olahraga. Minimal, seminggu sebelum mendaki, rutinlah berolahraga setiap hari, baik jogging maupun lari.

Lihat juga perkiraan cuaca di tanggal mendaki, jika hujan atau badai lebih baik jangan berangkat. Mendakilah ketika cuaca cerah dan bersahabat. Pastikan juga kendaraan serta fisik badan sehat sentosa.

Jika tektok (mendaki dalan kurun waktu sehari tanpa camping di pos maupun di puncak), bawalah perbekalan yang cukup. Saat tektok Gunung Pandan, saya membutuhkan waktu naik sekitar 2 jam dan waktu turun 90 menit. Minimal bawalah air 1.5liter per orang jika tektok. Bawa juga makanan ringan maupun berat seperti sosis, kacang-kacangan, roti dan buah.

Bawa juga jas hujan dan tisu basah untuk berjaga-jaga apabila hujan dan ingin buang air karena di Gunung Pandan tidak ada kamar mandi kecuali di tempat parkir milik warga.

Saat tektok, saya bertemu beberapa hewan, ulat gagak, kalajengking bahkan ular. Jika hewan-hewan itu tidak mengganggu, kita cukup lewat dengan tenang tanpa perlu membunuhnya. Sebisa mungkin jangan membunuh apapun, hargai setiap makhluk yang berdampingan dengan kita.

Jika ingin buang air besar maupun kecil, cari tempat di belakang pohon atau batu agar tertutup. Sebelum buang air besar, galilah tanah untuk menampung kotoran dan tutup Kembali saat selesai. Sebelum buang air, ucapkanlah permisi untuk saling menghormati. Saat akan Kembali turun, bawa semua sampah yang dibawa. Jangan sampai tersisa satu pun.

Jika ingin tektok Gunung Pandan, usahakan berangkat dan mendaki di pagi hari agar di siang hari bisa turun. Mendaki di siang hari sebenarnya aman saja asal maksimal jam 16.00 WIB sudah perjalanan turun. Meski begitu, pulang usai Magrib agak rawan karena harus melewati hutan Panjang yang minim penerangan dan sepi.

Untuk jalan pulang menuju kota, lebih baik lewat Gondang. Dari plang Gunung Pandan tinggal belok kanan dan ikut alur jalan hingga sampai di Temayang. Jika lewat Sekar agak kurang aman, selain jalannya kecil, menanjak dan curam, jalan ini juga tidak ada penerangan.

Tutorial Menggunakan Strava untuk Mendaki

Strava merupakan aplikasi berbasis GPS yang bisa merekam aktivitas olahraga seperti jogging, lari dan mendaki. Strava ini cukup populer di kalangan anak muda. Selain bisa mengukur kemajuan Latihan, Strava ini juga estetik untuk dibuat story.

Tampilan Strava
Tampilan Strava/Foto: Nisa

Cara penggunaannya pun cukup mudah dan bisa merekap aktivitas olahraga secara offline, jadi cocok digunakan untuk mendaki yang sering tidak ada signal. Setelah mendonwload Strava di Playstore atau Apstore, silakan melakukan pendaftaran.

Nyalakan lokasi di perangkat, lalu klik ikon merekam. Pilih aktivitas olahraga yang akan dilakukan. Rekaman ini bisa dijeda ketika istirahat dan dilanjutkan lagi. Ketika selesai, silakan isi judul untuk ditampilkan di halaman hasil. Ada kolom foto juga agar storymu makin kece. Pilih foto terbaikmu maka fotomu akan berisi judul, kenaikan elev, waktu dan jarak. Untuk mendonwloadnya, kamu butuh internet. Jadi, bisa diunduh ketika sudah turun gunung.

Gimana? Tertarik untuk mendaki puncak tertinggi Bojonegoro ini?

Tags: bojonegoroselatangunungpandanmendakiwisatabojonegoro
Previous Post

7 Wisata Bojonegoro Bernuansa Sejarah, Ada Apa Saja?  

Next Post

5 Cagar Alam Geologi Bojonegoro, Kekayaan Bumi yang Jarang Dimiliki Daerah Lain

KONTEN POPULER

Musik Oklik Bojonegoro, Sejarah Singkat dan Dua Maestronya

Musik Oklik Bojonegoro, Sejarah Singkat dan Dua Maestronya

11/11/2025
Gunung Pandan Bojonegoro

Pengalaman Pertama Mendaki Gunung Pandan, Terapi Alam di Puncak Tertinggi Bojonegoro

14/11/2025
Manfaatkan Media Sosial untuk Pemasaran, Jamilatun Nisak Terus Kembangkan Bisnis Rajut

Manfaatkan Media Sosial untuk Pemasaran, Jamilatun Nisak Terus Kembangkan Bisnis Rajut

08/11/2025
Review Usai Menonton Film Pangku: Jalan Hidup Hadir Tanpa Ada Pilihan Lain

Review Usai Menonton Film Pangku: Jalan Hidup Hadir Tanpa Ada Pilihan Lain

08/11/2025
Rekomendasi 7 Buku tentang Bojonegoro yang Wajib Anda Baca

Rekomendasi 7 Buku tentang Bojonegoro yang Wajib Anda Baca

03/11/2025
7 Wisata Bojonegoro Bernuansa Sejarah, Ada Apa Saja?  

7 Wisata Bojonegoro Bernuansa Sejarah, Ada Apa Saja?  

14/11/2025

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023