Sebagai langkah memperkuat budaya literasi di lingkungan kampus, mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro angkatan 2021 melahirkan empat buku antologi yang menjadi bukti nyata kreativitas dan produktivitas akademik mereka. Keempat buku ini, yakni “Rantai Tinta Mahasiswa” (kelas 7A), “Pena dan Aksara Kita” (kelas 7B), “Perjalanan Huruf dan Kisah-kisah Kita” (kelas 7C), dan “Lintang Pena” (kelas 7D). Empat buku ini merupakan hasil dari tugas perkuliahan yang kemudian dibukukan.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap karya-karya tersebut, sekaligus ruang literasi, bedah buku digelar di kampus UNUGIRI Bojonegoro pada Kamis, 6 Februari 2025. Acara ini menghadirkan para penulis buku beserta mahasiswa lainnya, serta menghadirkan tiga pemantik, yaitu Ahmad Wahyu Rizkiwan, Nanang Fahrudin, dan Bagus Ibrahim. Ketiganya dikenal lama bersinggungan dengan Gerakan literasi. Juga hadir Kepala Prodi Pendidikan Agama Islam Su’udin Aziz dan dosen pembina Jurnalistik Usman Roin. Kegiatan ini bukan sekadar ajang diskusi, tetapi juga menjadi tonggak penting dalam mengukuhkan gerakan literasi di kampus Bojonegoro.
Fakta Minat Baca Kita
Forum bedah buku seperti ini, menjadi begitu penting. Mengingat minat baca orang Indonesia, khususnya Bojonegoro masih terbilang rendah. Berdasarkan data dari UNESCO, indeks minat baca masyarakat Indonesia berada di angka 0,001, yang berarti hanya satu dari 1.000 orang yang memiliki minat baca tinggi. Selain itu, menurut Program for International Student Assessment (PISA) 2022, Indonesia masih tertinggal dalam hal kemampuan membaca dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia.
Minimnya budaya membaca ini menjadi alarm bagi dunia pendidikan, terutama di lingkungan kampus. Padahal, membaca merupakan modal utama dalam membangun wawasan dan pola pikir kritis di kalangan mahasiswa. Kurangnya kesadaran akan pentingnya literasi bisa berdampak pada lemahnya daya kritis dalam menyikapi berbagai isu yang berkembang di masyarakat.
Literasi di Kampus: Membangun Daya Kritis Mahasiswa

Dengan kehadiran empat buku antologi dari mahasiswa UNUGIRI ini, terlihat bahwa kampus ini telah melakukan langkah besar dalam mendorong literasi. Mahasiswa tidak hanya diberikan tugas akademik semata, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan karya nyata yang bisa dipublikasikan dan diapresiasi oleh masyarakat luas.
Kegiatan bedah buku yang dilakukan mahasiswa UNUGIRI semakin memperkuat ekosistem literasi di lingkungan kampus Bojonegoro. Mahasiswa diajak untuk mendiskusikan isi buku, memahami proses kreatif dalam menulis, serta menelaah gagasan-gagasan yang ada di dalamnya. Dengan demikian, mahasiswa dapat melatih kemampuan berpikir kritis mereka dalam memahami berbagai sudut pandang yang disampaikan oleh para penulis.
Selain pentingnya literasi akademik, kecintaan terhadap sastra juga perlu terus ditanamkan di kalangan mahasiswa. Sastra, baik dalam bentuk puisi, cerpen, maupun novel, tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium refleksi dan kritik sosial.
Dalam sejarahnya, banyak karya sastra yang mampu menggugah kesadaran masyarakat terhadap berbagai persoalan, mulai dari ketidakadilan sosial hingga nilai-nilai kemanusiaan.
Membaca sastra juga melatih empati serta memperkaya pengalaman batin seseorang. Dengan menikmati karya sastra, mahasiswa dapat lebih memahami berbagai perspektif kehidupan yang berbeda. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk membiasakan diri membaca dan menulis sastra sebagai bagian dari perjalanan intelektual mereka.
Buku-buku antologi yang dibedah dalam forum ini menjadi salah satu contoh bagaimana mahasiswa dapat menyalurkan gagasan dan imajinasi mereka melalui tulisan. Oleh karena itu, diharapkan mahasiswa lainnya juga terdorong untuk mulai menulis dan menuangkan pemikiran mereka dalam bentuk karya sastra yang bisa dinikmati oleh khalayak lebih luas.









