Ketupat itu mengaku lepat. Lepat adalah bersalah atau khilaf. Makna itulah yang hendak diraih masyarakat dengan menggelar kupatan di malam Nisfu Sya’ban. Seperti yang dilakukan warga Dusun Bringan, Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Kamis (13/02/2025).
“Di malam Nisfu Sya’ban, buku amal perbuatan manusia diganti menjadi baru, kosong lagi,” tutur Salim sesepuh Dusun Bringan.
Slametan ketupat pada malam Nisfu Sya’ban, lanjut Salim, diartikan sebagai salah satu bentuk sedekah dan ungakapan rasa syukur.
Jika ketupat bermakan mengaku salah kepada Allah SWT, maka lontong dan lepet itu gandengannya sebagai tambahan agar makin lengkap. “Pada malam Nisfu Sya’ban ini kita sama-sama banyak berdoa, minta ampun kepada Gusti Allah,” tambahnya.
Tahun 2025 ini Nisfu Sya’ban bertepatan pada Jumat 14 Februari 2025. Malam Nisfu Sya’ban diperingati pada 14 Sya’ban, waktunya setelah maghrib. Sehingga dalam hitungan kalender Masehi jatuh hari Kamis 13 Februari 2025 setelah magrib. Beberapa daerah di Indonesia termasuk Bojonegoro dan sekitarnya, malam Nisfu Sya’ban diperingati dengan melakukan amalan-amalan dan doa serta tradisi kupatan. Tradisi ini tidak jauh beda dengan tradisi kupatan setelah 7 hari lebaran Idul Fitri, namun pelaksanaannya yang berbeda. Tradisi kupatan malam Nisfu Sya’ban dilaksanakan sore setelah magrib.
Malam Nisfu Sya’ban diperingati masyarakat Dusun Bringan, Desa Ngraho, Kecamatan Gayam dengan tradisi kupatan. Kamis (13/02) siang, setelah dhuhur, warga sudah mulai proses membuat kupat, lontong dan lepet.
Cara Membuat Ketupat

Saya melihat proses masak lontong dan ketupat yang dilakukan salah seorang masyarakat Dusun Bringan. Siti Salamah (66) sedang memarut kelapa untuk diambil santan sebagai salah satu adonan sayur lodeh. Sambil menunggu ketupat dan lontong matang direbus, kami mengobrol.
“Dulu, siapa yang mengajari membuat ketupat?”
“Melihat saja bagaimana cara ibu membuat ketupat, dulu. Tidak diajari, saya coba membuat terus jadi bisa,” jawabnya.
Dia melanjutkan ceritanya. “Ketika itu memasak ketupat jumlah banyak, karena janur yang digunakan milik sendiri. Malahan janur lebih, sampai bisa dijual. Sekarang janurnya beli, jadi buat sedikit. Pohon kelapanya sudah jarang ada,” ungkapnya.
Tradisi Nisfu Sya’ban dengan membuat ketupat, lontong telah diketahui Siti sejak dulu ketika masih kecil. Dia mengatakan, mengikuti apa yang dilakukan orang tua dulu. Cara memilih janur yang baik untuk dibuat ketupat, dijelaskan Siti yakni memilih janur yang berwarna putih.
“Ketupat dan lontong diisi 1/3 beras yang telah dipesusi (dibersihkan), bisa disesuaikan dengan ukuran ketupat dan lontong. Kemudian direbus selama 3 jam. Untuk lontong cara rebusnya diletakkan berdiri, kalau ketupat cukup diletakkan terserah ketika merebus,” jelasnya.

Ia menyebut ada dua jenis ketupat. Pertama dinamai ketupat luar, dan kedua dinamai ketupat biasa. Ketupat luar adalah ketupat yang bentuknya menyerupai persegi panjang atau jajaran genjang. Sedangkan ketupat biasa yakni seperti ketupat pada umumnya berbentuk layang-layang. Kini dia membuat ketupat dengan bentuk biasa.
Ketupat, lontong dan lepet serta alu-alu (serupa dengan lepet) yang dibuat oleh warga Dusun Bringan RT 13 kemudian dibawa ke masjid atau musholla. Berkat yang dibawa berupa 3 hingga 4 kantong keresek berisi 3 hingga 5 biji lontong, beberapa ketupat, lepet dan alu-alu, ditambah sayur lodeh atau sejenisnya.
Pengalaman Generasi Muda Ikut Kupatan

Suasana sore yang diguyur hujan, membawa hawa sejuk. Hujan reda ketika masuk waktu magrib. Satu persatu warga datang di musholla dengan menggunakan sepeda motor, sebagian ada yang berjalan kaki, sambil ada yang sudah membawa berkatnya. Beberapa lagi ada yang baru mengambil berkatnya setelah sholat maghib.
Setiap anggota keluarga, tak terkecuali anak-anak ikut datang, sehingga suasana menjadi ramai namun tetap tertib. Kegiatan diawali dengan membaca surat yasin sebanyak tiga kali, dalam pembacaan surat yasin ini masyarakat juga membawa air putih berwadah botol yang dibiarkan membuka diletakkan di tengah-tengah lingkaran duduk masyarakat dengan keyakinan supaya air menjadi berkah. Kemudian dilanjut dengan pembacaan tahlil. Setelah doa dibacakan oleh Kiai musholla, warga bersuka cita membagi berkat sama rata kepada setiap orang yang datang di mushola Al Mashadi.
“Senang karena bisa kumpul- kumpul, dan dapat berkat. Saya lebih suka makan lepetnya,” kata Wildan, remaja usia 20 tahun, yang ikut dalam acara. Diakuinya untuk membuat ketupat dia belum bisa.









