Halaman Karinah Dapur Art yang tak begitu luas, tak jauh dari Bengawan Solo, Jumat (25/7/2025) malam bertabur syahdu. Alunan musik dan lagu yang dibawakan Panji Sakti menghipnotis ratusan orang yang hadir duduk khusyuk.
Sebuah panggung didesain minimalis dengan perahu dan dua dayung di depannya. Sebagai background, berlembar-lembar kain putih dan tipis transparan menjuntai diapit dua patung daun dari ukir kayu jati. Langit malam cerah, angin berhembus menepuki kulit.
Musik pembuka mengalun lembut, tajam dan seperti menusuk dada. Perempuan berambut cepak membawa selo dan menaiki panggung dengan langkah tegap. Disusul laki-laki berbaju hitam dengan sedikit motif batik menjulur sepanjang pundak sampai paha yang membawa biolanya.
Baru kemudian laki-laki berjarik, berkaos cokelat dan bertopi menaiki panggung membawa gitarnya. Ialah Panji Sakti. Matanya yang sipit dilindungi kacamata membentuk sebidang garis saat ia tersenyum menyapa penonton. Ekspresi wajah Panji malam itu berseri-seri, tak beda dari saat ia bernyanyi di video-video yang beredar di media sosial.
Penonton yang memadati halaman Joglo Karinah, yang berada di perbatasan Tuban dan Bojonegoro, menjadi enggan beranjak, meski hanya sebentar.
Setiap Lagu Menyanyikan Arti Hidup yang Syahdu
Puisi Pengantar
Panji membuka konser malam itu dengan lagu pertama Puisi Pengantar. Menurut Panji, lagu itu berawal dari sajak-sajak puisinya. Suara biola dan selo yang berkolaborasi itu menjadikan malam yang gerah terasa sejuk dan orang-orang menggerakkan kepala, juga tubuhnya pelan seakan juga ikut menggesek-gesekkan biola dan selo.
Jika malam nanti
Aku ada dalam genggam cinta-Mu
Bunuh aku
Walau dengan pedih yang candu

Wahai Air Mata yang Berlinang
Lagu Wahai Air Mata yang Berlinang yang dibuka dengan puisi milik Jalaluddin Rumi ini menjadi lagu kedua yang dibawakan Panji. Setiap selesai bernyanyi, ia akan mengajak interaksi para penonton dengan membahas lirik-lirik lagunya.
“Bagaima pendapatmu ketika seseorang meminta surga?” Ia melempar tanya dengan senyum yang selalu sama. Dan musikpun menghadirkan syahdu di bilik-bilik jiwa para penonton.
Dan jika suatu saat nanti
Kau ingat malam-malam kita
Tolong Lupakanlah
Mohon maafkanlah
Segala kerendahan adabku
Menurut Rumi, begitu kata Panji, meminta surga itu rendah adabnya, karena masih menginginkan ciptaan-Nya. Jika memang benar cinta, seseorang tidak akan membutuhkan apapun, menginginkan apapun, ia akan berkata aku ingin Bersama-Mu tanpa tapi, tanpa harus ditemani 70 bidadari, dan tanpa harus meminta surga.
Panji juga membahas apakah orang akan suka jika hidup dengan doa yang dikabulkan? Jika ia, maka cintanya masih bersyarat. Orang yang hidup dengan lapang ketika doa-doanya tidak dikabulkan, maka cintanya tidak diragukan.
“Seorang pecinta sejati, saat yang dicintainya menyakitinya, dia akan membiarkannya. Saat doanya tidak terkabul dia akan bersyukur,” ucapnya.
Dia Danau
Ingin rasanya aku tenggelam Bersama-Nya
Mensyukuri luka perjalanan cinta
Meski akhir cerita tak sesuai doa dan rencana
Sungguh dia tak pernah menjadi kecewa
“Apapun agama Anda, jika Anda benar-benar mengabdi kepada Dia, tidak ada satu alasan pun yang membuat Anda menjadi kecewa,” tutur Panji usai membawakan lagu Dia Danau.
Menurut Panji, tidak ada takdir sial. “Hilang HP oh takdirku elek e. Pacar tiba-tiba sepatunya ada di depan kost temen kita, ohh,” yang disambut tawa penonton malam itu. Boleh jadi kasus pasangan diambil teman menjadi hal yang banyak terjadi.
Di saat seseorang mendapatkan takdir yang dianggap sial, menurut Panji, yang paling pantas dilakukan adalah bersyukur, karena takdir datang dari tempat yang baik, tempat yang suci. “Jadi, jobdesknya takdir satu aja, menyucikan. Kalau ada barang hilang, kekasih yang pergi, bukan haknya kita,” papar Panji tentang konsep menjadi dan memiliki.

Fragmen Perahu
Menghembuskan nama-Mu
Di atas perahu yang Kau lubangi
Aku cemas sendiri
Panji mengulangi lirik di atas setelah musik berhenti. Ia bercerita, bukan Musa yang memukulkan tongkatnya sampai laut terbelah, tapi Aku, kata Tuhan. “Paling gawat itu kalok kita merasa paling baik, paling benar, paling sufi atau suka film.” Tawa Kembali penuh di antara para penonton.
Sembuhlah Sembuh
Lagu ini, kata Panji, baru ia bawakan tiga kali ini. Lagu yang akan dirilis pada 8 Agustus mendatang menjadi begitu istimewa karena penonton malam itu berkesempatan menikmatinya lebih awal.
Kesembuhan itu, bagi Panji, tidak melulu ketika sakit itu pergi dan seseorang Kembali sehat, tapi bahkan ketika sakit itu masih ada, seseorang itu sudah bisa sehat saat tahu hikmahnya kenapa sakit.
Demikianlah kita hari ini
Masih Bersama saling mencukupi
Aku yang berjuang
Pun engkau bertahan
Demi hidup yang lebih baik
Sembuhlah sembuh kita semua
“Itu dialog seseorang dengan sakitnya,” tutur Panji usai bernyanyi.
Sang Guru
Bolehkan aku menetap di balik pejaman matamu
Menikmati dinginnya mata airmu
Yang tak pernah berhenti jatuh
Ku bawa pulang dan ku simpan
Di kemaraunya mataku
Lagu Sang Guru ini, kata Panji, merupakan musikaliasi puisi dari Panji Jagat.
Tanpa Aku
Bantu aku mencintai jalan pulang
Demi bertemu dengan-Mu, Lumbung Keabadian
Bantu aku merindukan-Mu
Tanpa apa, tanpa aku, hanya Engkau
Sebelum membawakan lagu ini, Panji memberi tantangan, bagi siapapun yang bisa menjelaskan makna liriknya sesuai pemahaman masing-masing, mendapat doorprize rokok dari salah satu sponsor dan berkesempatan foto bersama usai acara secara intimate.
Mastumapel.com berkesempatan bertemu langsung dengan Panji Sakti usai konser. Dengan tetap ramah meski malam telah larut, Panji mengungkapkan bahwa lagu ini dibuat di bawah lima menit, dan menjadi lagu favoritnya. “Tujuan dari semua orang tuh meniadakan keakuan. Kalau masih ada akunya, nah, belum berhasil,” ucapnya.
Kepada Noor
Rindu adalah perjalanan mengurai waktu
Menjelma pertemuan demi pertemuan
Catatannya tertulis di langit malam
Di telaga dan di ujung daun itu
Rindu mengekal menyebut nama-Mu
Berulang-ulang
Bagi Panji, yang Istimewa itu adalah perjalanan. Rindu istimewanya ketika seseorang berkata OTW. “Jika pada Subuh orang itu rindu pada Duhur, maka ia akan bertemu Duha,” katanya.
Jiwaku Sekuntum Bunga Kemboja
Lagu Jiwaku Sekuntum Bunga Kemboja menjadi penutup pertemuan malam itu. Saat ditanya mengapa Kemboja dan bukan bunga lain, Panji menjawab “Bunganya bisa apa. Yang penting kan isi lagunya. Jiwaku sekuntum bunga mawar, jiwaku sekuntum bunga melati, jiwaku sekuntum bunga kenanga.”
Di lagu itu, kata Panji, tidak ada diksi atau isi yang mengeluh. Segala derita, luka, cerita, direngkuh menjadi cinta.
Jiwaku sekuntum bunga kemboja
Dihempas angin, didera hujan
Disengat matahari, dicekam cerita
Dan aku ‘kan mengingatnya
Sebagai cinta yang memahami
Bagaimanapun akhir cerita kita
Sekuntum jiwa yang tak letih menyerukan rindu
Pada Dia, Pemilik semesta
Jiwaku Sekuntum Bunga Kemboja menggunakan diksi jiwa, bukan hati, diri atau yang lainnya. “Karena hati akan hancur. Diri ya hancur. Kalau jiwa? Kalau jiwa enggak,” begitu katanya.
“Kan kalau dikubur itu kan yang hancur raga, tapi jiwanya enggak,” ujarnya.
Jiwa dan ruh pun bagi Panji berbeda. Ruh bertugas menyalakan jiwa. jika ruh sudah kembali dari tugasnya, ia akan kembali ke tempatnya. Ruh tidak mempertanggungjawabkan apapun, dia hanya alat. Sedangkan jiwa, ia abadi, ia memiliki tanggungjawab.
Lagu yang dibuat pada tahun 2015 itu tidak ada sesuatu khusus yang menginspirasi. Percaya bahwa takdir tidak ada yang buruk itulah yang membuat Panji melahirkan lagu-lagunya.
“Saat kita rugi itu bukan sial, tapi itu cinta. Jadi bukan semoga ada hikmahnya, tapi pasti ada hikmahnya,” jelasnya.
Meminta semoga ada hikmahnya, menurut Panji, tidak boleh, karena pasti selalu ada hikmahnya. “Kalau yang paling boleh itu semoga kita paham hikmahnya. Nah, itu boleh,” sambungnya.
Proses Penciptaan Lagu-lagu Panji Sakti

Jika segala sesuatu yang dikerjakan membutuhkan inspirasi, tidak begitu dengan lagu-lagu Panji Sakti. Ia menulis di segala kondisi, tidak perlu tempat yang sunyi atau sesuatu yang inspiratif, tidak perlu juga mencari wangsit.
“Aku bekerja sebagai penulis lagu, dan bekerja dalam semua kondisi,” terangnya.
“Kan saya bukan tabib, bukan pendeta juga. Berarti kapanpun kalau pengen nulis lagu, nulis lagu gitu,” sambungnya.
Jika beberapa orang mengalami buntu ide, Panji tidak. Jika ada yang suntuk dan bosan dengan pekerjaannya, Panji juga tidak. “Semuanya menyenangkan. Kalau pekerjaan dicintai, semua rasanya senang, tidak ada yang susah,” terangnya.
Panji pun hanya membutuhkan waktu paling lama setengah hari untuk menyelesaikan satu lagu. Paling cepat ia menulis lagu di bawah 5 menit (Kepada Noor). Lainnya sekitar satu sampai dua jam saja.
“Karena sebenarnya bukan saya yang membuat lagu, tapi Dia,” jelasnya.
Lagu-lagunya, jika ditarik garis besar terinspirasi dari agama yang ia peluk, Islam. Panji pernah ikut mengaji dan ia mendapat ajaran bersedekahlah saat kau tidak punya apa-apa.
“Ternyata ajaran agamaku itu luar biasa. Jadi, aku kecanduan sama agamaku sendiri,” katanya.
Panji yang sudah punya lagu dari kelas 4 SD itu memilih menekuni dunia musik karena menyenangkan. Ke depan, ia ingin lebih banyak menulis lagu-lagu anak untuk industri musik Indonesia.
“Karena anak-anak kan paling murni. Kalau udah punya hawa nafsunya dominan, itu bukan anak-anak lagi,” ungkapnya.
“Lukisan abstrak itu mahal, lukisan yang anak-anak tuh mahal karena mereka murni,” tambahnya.
Nun Est Java Tour 2025
Konser yang diinisiasi oleh Loopmintu Space itu merupakan bagian dari Nun Est Java Tour 2025 yang diadakan di 6 kota selama 6 hari berturut-turur, dan Bojonegoro menjadi tuan rumah ketiga setelah Sidoarjo dan Tulungagung. Selanjutnya Panji Sakti akan melakukan konser di Malang, Kediri dan Mojokerto.
“Puanas sih, tapi suka,” begitu Kesan Panji saat singgah di Bojonegoro.
Meski panas, Panji amat suka dengan konser yang dibatasi hanya untuk 300 orang saja dengan harga tiket Rp 55 ribu. “Penonton bagus, penonton banyak. Rokok aman, makanan juga,” katanya.
Nun Est Java Tour sendiri baru pertama kali dilakukan. Menurut Panji, Nun adalah symbol pengetahuan. Bayi pertama kali mendapat pengetahuan adalah dari ibunya, bersumber dari asi ibu yang bentuknya mirip huruf Nun.
Selain sumber pegetahuan, Nun juga merupakan perantara untuk mengenal Tuhan. “Kalau kamu pengen mengenal_Ku, kata Tuhan, datanglah ke tempat yang ada nunnya. Tempat yang ada nunnya apa? Berarti masjid,” papar Panji menjelaskan bahwa kubah masjid berbentuk bulan sabit dengan bintang yang melambangkan huruf nun.
Huruf Nun juga, kata Panji, adalah nama ikan yang menelan Nabi Yunus. “Nabi Yunus juga disebut nabi pemilik huruf nun di dadanya,” katanya.
Konser Panji Sakti; Intimate dan Inklusif yang Syahdu
Konser Panji Sakti ini dikonsep sangat dekat dengan penonton. Konser yang biasanya dinikmati dengan berdiri, penonton diberi kursi di depan dan samping panggung, lebih Santai dan dekat dengan Bintang tamu.
Konser juga ramah untuk teman tuli karena setiap lagu, setiap percakapan diterjemahkan dalam bahasa isyarat oleh Ririn. Lagu-lagu Panji bisa dinikmati bahkan oleh mereka yang tidak bisa mendengar.
Pristi Anjartami, salah satu penonton, merasakan konser kali ini berbeda dengan konser-konser yang pernah ia nikmati sebelumnya, intimate dan syahdu. “Karena pembawaan Panji dan iringan biola dan selo, itu pengalaman berbeda menikmati musik,” ujarnya.
Interaksi Panji dengan penonton dan sikap humblenya membuat konser menjadi intimate. Banyaknya metafora yang disajikan Panji dalam lagu-lagunya membuat Pristi dan mungkin juga penikmat yang lain melakukan perenungan mendalam. Lagu favoritnya adalah Kepada Noor dan Jiwaku Sekuntum Bunga Kemboja.
“Meski sebelum ketemu Panji Sakti aku sudah lapang (pada sesuatu yang terjadi), tapi emang (lagunya) bikin rileks,” terangnya.
Bagi Pristi, hidup dijalani dengan lapang agar tidak sesak. “Kita tidak cukup energi untuk memikirkan semua orang dan semua hal. Jadi, harus melapangkan yang di luar kendali kita biar selalu merasa lebih bahagia dan berkelimpahan. Karena bahagia kita ya untuk saat ini, bukan esok atau seterusnya. Makanya ya kita lapang untuk saat ini biar terbiasa untuk seterusnya,” pungkasnya. Entah perjalanan panjang yang membuatnya pandai berkata-kata atau karena efek rampung nonton konser Panji Sakti? Hanya ia dan tuhannya yang tahu.









