Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Bojonegoro Kota

Panji Sakti Konser di Bojonegoro; Melapangkan Jalan Cinta di Malam Syahdu untuk Sembuhlah Sembuh

Mukaromatun Nisa
26/07/2025
Panji Sakti Konser di Bojonegoro; Melapangkan Jalan Cinta di Malam Syahdu untuk Sembuhlah Sembuh

Panji Sakti saat di Bojonegoro/Foto: Nisa

Halaman Karinah Dapur Art yang tak begitu luas, tak jauh dari Bengawan Solo, Jumat (25/7/2025) malam bertabur syahdu. Alunan musik dan lagu yang dibawakan Panji Sakti menghipnotis ratusan orang yang hadir duduk khusyuk.

Sebuah panggung didesain minimalis dengan perahu dan dua dayung di depannya. Sebagai background, berlembar-lembar kain putih dan tipis transparan menjuntai diapit dua patung daun dari ukir kayu jati. Langit malam cerah, angin berhembus menepuki kulit.

Musik pembuka mengalun lembut, tajam dan seperti menusuk dada. Perempuan berambut cepak membawa selo dan menaiki panggung dengan langkah tegap. Disusul laki-laki berbaju hitam dengan sedikit motif batik menjulur sepanjang pundak sampai paha yang membawa biolanya.

Baru kemudian laki-laki berjarik, berkaos cokelat dan bertopi menaiki panggung membawa gitarnya. Ialah Panji Sakti. Matanya yang sipit dilindungi kacamata membentuk sebidang garis saat ia tersenyum menyapa penonton. Ekspresi wajah Panji malam itu berseri-seri, tak beda dari saat ia bernyanyi di video-video yang beredar di media sosial.

Penonton yang memadati halaman Joglo Karinah, yang berada di perbatasan Tuban dan Bojonegoro, menjadi enggan beranjak, meski hanya sebentar.

Setiap Lagu Menyanyikan Arti Hidup yang Syahdu

Puisi Pengantar

Panji membuka konser malam itu dengan lagu pertama Puisi Pengantar. Menurut Panji, lagu itu berawal dari sajak-sajak puisinya. Suara biola dan selo yang berkolaborasi itu menjadikan malam yang gerah terasa sejuk dan orang-orang menggerakkan kepala, juga tubuhnya pelan seakan juga ikut menggesek-gesekkan biola dan selo.

Jika malam nanti

Aku ada dalam genggam cinta-Mu

Bunuh aku

Walau dengan pedih yang candu

Panji Sakti Konser di Bojonegoro; Melapangkan Jalan Cinta di Malam Syahdu untuk Sembuhlah Sembuh

Wahai Air Mata yang Berlinang

Lagu Wahai Air Mata yang Berlinang yang dibuka dengan puisi milik Jalaluddin Rumi ini menjadi lagu kedua yang dibawakan Panji. Setiap selesai bernyanyi, ia akan mengajak interaksi para penonton dengan membahas lirik-lirik lagunya.

“Bagaima pendapatmu ketika seseorang meminta surga?” Ia melempar tanya dengan senyum yang selalu sama. Dan musikpun menghadirkan syahdu di bilik-bilik jiwa para penonton.

Dan jika suatu saat nanti

Kau ingat malam-malam kita

Tolong Lupakanlah

Mohon maafkanlah

Segala kerendahan adabku

Menurut Rumi, begitu kata Panji, meminta surga itu rendah adabnya, karena masih menginginkan ciptaan-Nya. Jika memang benar cinta, seseorang tidak akan membutuhkan apapun, menginginkan apapun, ia akan berkata aku ingin Bersama-Mu tanpa tapi, tanpa harus ditemani 70 bidadari, dan tanpa harus meminta surga.

Panji juga membahas apakah orang akan suka jika hidup dengan doa yang dikabulkan? Jika ia, maka cintanya masih bersyarat. Orang yang hidup dengan lapang ketika doa-doanya tidak dikabulkan, maka cintanya tidak diragukan.

“Seorang pecinta sejati, saat yang dicintainya menyakitinya, dia akan membiarkannya. Saat doanya tidak terkabul dia akan bersyukur,” ucapnya.

 

Dia Danau

Ingin rasanya aku tenggelam Bersama-Nya

Mensyukuri luka perjalanan cinta

Meski akhir cerita tak sesuai doa dan rencana

Sungguh dia tak pernah menjadi kecewa

“Apapun agama Anda, jika Anda benar-benar mengabdi kepada Dia, tidak ada satu alasan pun yang membuat Anda menjadi kecewa,” tutur Panji usai membawakan lagu Dia Danau.

Menurut Panji, tidak ada takdir sial. “Hilang HP oh takdirku elek e. Pacar tiba-tiba sepatunya ada di depan kost temen kita, ohh,” yang disambut tawa penonton malam itu. Boleh jadi kasus pasangan diambil teman menjadi hal yang banyak terjadi.

Di saat seseorang mendapatkan takdir yang dianggap sial, menurut Panji, yang paling pantas dilakukan adalah bersyukur, karena takdir datang dari tempat yang baik, tempat yang suci. “Jadi, jobdesknya takdir satu aja, menyucikan. Kalau ada barang hilang, kekasih yang pergi, bukan haknya kita,” papar Panji tentang konsep menjadi dan memiliki.

Panji Sakti saat tampil di Bojonegoro/Foto: Nisa

Fragmen Perahu 

Menghembuskan nama-Mu 

Di atas perahu yang Kau lubangi

Aku cemas sendiri

Panji mengulangi lirik di atas setelah musik berhenti. Ia bercerita, bukan Musa yang memukulkan tongkatnya sampai laut terbelah, tapi Aku, kata Tuhan. “Paling gawat itu kalok kita merasa paling baik, paling benar, paling sufi atau suka film.” Tawa Kembali penuh di antara para penonton.

 

Sembuhlah Sembuh

Lagu ini, kata Panji, baru ia bawakan tiga kali ini. Lagu yang akan dirilis pada 8 Agustus mendatang menjadi begitu istimewa karena penonton malam itu berkesempatan menikmatinya lebih awal.

Kesembuhan itu, bagi Panji, tidak melulu ketika sakit itu pergi dan seseorang Kembali sehat, tapi bahkan ketika sakit itu masih ada, seseorang itu sudah bisa sehat saat tahu hikmahnya kenapa sakit.

Demikianlah kita hari ini

Masih Bersama saling mencukupi

Aku yang berjuang

Pun engkau bertahan

Demi hidup yang lebih baik

Sembuhlah sembuh kita semua

“Itu dialog seseorang dengan sakitnya,” tutur Panji usai bernyanyi.

 

Sang Guru

Bolehkan aku menetap di balik pejaman matamu

Menikmati dinginnya mata airmu

Yang tak pernah berhenti jatuh

Ku bawa pulang dan ku simpan

Di kemaraunya mataku

Lagu Sang Guru ini, kata Panji, merupakan musikaliasi puisi dari Panji Jagat.

 

Tanpa Aku

Bantu aku mencintai jalan pulang

Demi bertemu dengan-Mu, Lumbung Keabadian

Bantu aku merindukan-Mu

Tanpa apa, tanpa aku, hanya Engkau

Sebelum membawakan lagu ini, Panji memberi tantangan, bagi siapapun yang bisa menjelaskan makna liriknya sesuai pemahaman masing-masing, mendapat doorprize rokok dari salah satu sponsor dan berkesempatan foto bersama usai acara secara intimate.

Mastumapel.com berkesempatan bertemu langsung dengan Panji Sakti usai konser. Dengan tetap ramah meski malam telah larut, Panji mengungkapkan bahwa lagu ini dibuat di bawah lima menit, dan menjadi lagu favoritnya. “Tujuan dari semua orang tuh meniadakan keakuan. Kalau masih ada akunya, nah, belum berhasil,” ucapnya.

Kepada Noor

Rindu adalah perjalanan mengurai waktu

Menjelma pertemuan demi pertemuan

Catatannya tertulis di langit malam

Di telaga dan di ujung daun itu

Rindu mengekal menyebut nama-Mu

Berulang-ulang

Bagi Panji, yang Istimewa itu adalah perjalanan. Rindu istimewanya ketika seseorang berkata OTW. “Jika pada Subuh orang itu rindu pada Duhur, maka ia akan bertemu Duha,” katanya.

 

Jiwaku Sekuntum Bunga Kemboja

Lagu Jiwaku Sekuntum Bunga Kemboja menjadi penutup pertemuan malam itu. Saat ditanya mengapa Kemboja dan bukan bunga lain, Panji menjawab “Bunganya bisa apa. Yang penting kan isi lagunya. Jiwaku sekuntum bunga mawar, jiwaku sekuntum bunga melati, jiwaku sekuntum bunga kenanga.”

Di lagu itu, kata Panji, tidak ada diksi atau isi yang mengeluh. Segala derita, luka, cerita, direngkuh menjadi cinta.

Jiwaku sekuntum bunga kemboja

Dihempas angin, didera hujan

Disengat matahari, dicekam cerita

Dan aku ‘kan mengingatnya

Sebagai cinta yang memahami

Bagaimanapun akhir cerita kita

Sekuntum jiwa yang tak letih menyerukan rindu

Pada Dia, Pemilik semesta

Jiwaku Sekuntum Bunga Kemboja menggunakan diksi jiwa, bukan hati, diri atau yang lainnya. “Karena hati akan hancur. Diri ya hancur. Kalau jiwa? Kalau jiwa enggak,” begitu katanya.

“Kan kalau dikubur itu kan yang hancur raga, tapi jiwanya enggak,” ujarnya.

Jiwa dan ruh pun bagi Panji berbeda. Ruh bertugas menyalakan jiwa. jika ruh sudah kembali dari tugasnya, ia akan kembali ke tempatnya. Ruh tidak mempertanggungjawabkan apapun, dia hanya alat. Sedangkan jiwa, ia abadi, ia memiliki tanggungjawab.

Lagu yang dibuat pada tahun 2015 itu tidak ada sesuatu khusus yang menginspirasi. Percaya bahwa takdir tidak ada yang buruk itulah yang membuat Panji melahirkan lagu-lagunya.

“Saat kita rugi itu bukan sial, tapi itu cinta. Jadi bukan semoga ada hikmahnya, tapi pasti ada hikmahnya,” jelasnya.

Meminta semoga ada hikmahnya, menurut Panji, tidak boleh, karena pasti selalu ada hikmahnya. “Kalau yang paling boleh itu semoga kita paham hikmahnya. Nah, itu boleh,” sambungnya.

Proses Penciptaan Lagu-lagu Panji Sakti

Jurnalis Mastumapel.com bersama Panji Sakti usai konser di Bojonegoro/Foto: NIsa

Jika segala sesuatu yang dikerjakan membutuhkan inspirasi, tidak begitu dengan lagu-lagu Panji Sakti. Ia menulis di segala kondisi, tidak perlu tempat yang sunyi atau sesuatu yang inspiratif, tidak perlu juga mencari wangsit.

“Aku bekerja sebagai penulis lagu, dan bekerja dalam semua kondisi,” terangnya.

“Kan saya bukan tabib, bukan pendeta juga. Berarti kapanpun kalau pengen nulis lagu, nulis lagu gitu,” sambungnya.

Jika beberapa orang mengalami buntu ide, Panji tidak. Jika ada yang suntuk dan bosan dengan pekerjaannya, Panji juga tidak. “Semuanya menyenangkan. Kalau pekerjaan dicintai, semua rasanya senang, tidak ada yang susah,” terangnya.

Panji pun hanya membutuhkan waktu paling lama setengah hari untuk menyelesaikan satu lagu. Paling cepat ia menulis lagu di bawah 5 menit (Kepada Noor). Lainnya sekitar satu sampai dua jam saja.

“Karena sebenarnya bukan saya yang membuat lagu, tapi Dia,” jelasnya.

Lagu-lagunya, jika ditarik garis besar terinspirasi dari agama yang ia peluk, Islam. Panji pernah ikut mengaji dan ia mendapat ajaran bersedekahlah saat kau tidak punya apa-apa.

“Ternyata ajaran agamaku itu luar biasa. Jadi, aku kecanduan sama agamaku sendiri,” katanya.

Panji yang sudah punya lagu dari kelas 4 SD itu memilih menekuni dunia musik karena menyenangkan. Ke depan, ia ingin lebih banyak menulis lagu-lagu anak untuk industri musik Indonesia.

“Karena anak-anak kan paling murni. Kalau udah punya hawa nafsunya dominan, itu bukan anak-anak lagi,” ungkapnya.

“Lukisan abstrak itu mahal, lukisan yang anak-anak tuh mahal karena mereka murni,” tambahnya.

 

Nun Est Java Tour 2025

Konser yang diinisiasi oleh Loopmintu Space itu merupakan bagian dari Nun Est Java Tour 2025 yang diadakan di 6 kota selama 6 hari berturut-turur, dan Bojonegoro menjadi tuan rumah ketiga setelah Sidoarjo dan Tulungagung. Selanjutnya Panji Sakti akan melakukan konser di Malang, Kediri dan Mojokerto.

“Puanas sih, tapi suka,” begitu Kesan Panji saat singgah di Bojonegoro.

Meski panas, Panji amat suka dengan konser yang dibatasi hanya untuk 300 orang saja dengan harga tiket Rp 55 ribu. “Penonton bagus, penonton banyak. Rokok aman, makanan juga,” katanya.

Nun Est Java Tour sendiri baru pertama kali dilakukan. Menurut Panji, Nun adalah symbol pengetahuan. Bayi pertama kali mendapat pengetahuan adalah dari ibunya, bersumber dari asi ibu yang bentuknya mirip huruf Nun.

Selain sumber pegetahuan, Nun juga merupakan perantara untuk mengenal Tuhan. “Kalau kamu pengen mengenal_Ku, kata Tuhan, datanglah ke tempat yang ada nunnya. Tempat yang ada nunnya apa? Berarti masjid,” papar Panji menjelaskan bahwa kubah masjid berbentuk bulan sabit dengan bintang yang melambangkan huruf nun.

Huruf Nun juga, kata Panji, adalah nama ikan yang menelan Nabi Yunus. “Nabi Yunus juga disebut nabi pemilik huruf nun di dadanya,” katanya.

 

Konser Panji Sakti; Intimate dan Inklusif yang Syahdu

Konser Panji Sakti ini dikonsep sangat dekat dengan penonton. Konser yang biasanya dinikmati dengan berdiri, penonton diberi kursi di depan dan samping panggung, lebih Santai dan dekat dengan Bintang tamu.

Konser juga ramah untuk teman tuli karena setiap lagu, setiap percakapan diterjemahkan dalam bahasa isyarat oleh Ririn. Lagu-lagu Panji bisa dinikmati bahkan oleh mereka yang tidak bisa mendengar.

Pristi Anjartami, salah satu penonton, merasakan konser kali ini berbeda dengan konser-konser yang pernah ia nikmati sebelumnya, intimate dan syahdu. “Karena pembawaan Panji dan iringan biola dan selo, itu pengalaman berbeda menikmati musik,” ujarnya.

Interaksi Panji dengan penonton dan sikap humblenya membuat konser menjadi intimate. Banyaknya metafora yang disajikan Panji dalam lagu-lagunya membuat Pristi dan mungkin juga penikmat yang lain melakukan perenungan mendalam. Lagu favoritnya adalah Kepada Noor dan Jiwaku Sekuntum Bunga Kemboja.

“Meski sebelum ketemu Panji Sakti aku sudah lapang (pada sesuatu yang terjadi), tapi emang (lagunya) bikin rileks,” terangnya.

Bagi Pristi, hidup dijalani dengan lapang agar tidak sesak. “Kita tidak cukup energi untuk memikirkan semua orang dan semua hal. Jadi, harus melapangkan yang di luar kendali kita biar selalu merasa lebih bahagia dan berkelimpahan. Karena bahagia kita ya untuk saat ini, bukan esok atau seterusnya. Makanya ya kita lapang untuk saat ini biar terbiasa untuk seterusnya,” pungkasnya. Entah perjalanan panjang yang membuatnya pandai berkata-kata atau karena efek rampung nonton konser Panji Sakti? Hanya ia dan tuhannya yang tahu.

Tags: BojonegoroKarinah Dapur ArtKonser Panji SaktiMusikPanji Sakti
Previous Post

Tradisi Wiwitan, Syukuran Petani Desa Plesungan Mengawali Masa Panen

Next Post

Obor Sewu: dari Sedulur Sikep Samin untuk Bojonegoro

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Perempuan di Titik Nol; Memeringati Hari Perempuan Sedunia 2026 Melalui Sosok Firdaus

Perempuan di Titik Nol; Memeringati Hari Perempuan Sedunia 2026 Melalui Sosok Firdaus

13/03/2026
Peringati Hari Perempuan Sedunia 2026, AJI Bojonegoro Gelar Aksi Turun Jalan

Peringati Hari Perempuan Sedunia 2026, AJI Bojonegoro Gelar Aksi Turun Jalan

14/03/2026
Riyayan, Tradhisi Atungtum Nilai Agami

Riyayan, Tradhisi Atungtum Nilai Agami

20/03/2026
Menjelajahi Baureno, Ini 3 Destinasi Wisata Gerbang Timur Bojonegoro

Menjelajahi Baureno, Ini 3 Destinasi Wisata Gerbang Timur Bojonegoro

26/03/2026
Posisi Hilal Penentu Awal Syawal 1447 H

Posisi Hilal Penentu Awal Syawal 1447 H

18/03/2026
Makna Jajan Pasar di Tradisi Wetonan atau Tironan

Makna Jajan Pasar di Tradisi Wetonan atau Tironan

02/03/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023