Penulis: Mahmud Gusti Afandi
Kamis 22 Februari 2025. Jurnalistik Trip #2 yang digelar Mastumampel.com, mengunjungi pertanian Djoyo Tani di Desa Bendo, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro. Peserta, yakni mahasiswa dari Unugiri dan IKIP PGRI bertemu dengan founder Djoyo Tani dan melihat langsung inovasi pertaniannya.
Fatkul Ilma bergelar SH. Sering kali orang yang mendengar namanya segaligus gelarnya merasa heran dengan kreatifitas dan inovasinya bidang pertanian. Karena sangat jauh dari latar belakangnya.
Tak hanya sebagai petani milenial, Ilma juga banyak meraih penghargaan diantaranya juara 2 Duta Pemuda Pelopor Muda tingkat nasional bidang inovasi teknologi di tahun 2022, Baginya pemuda pelopor adalah pemuda yang bisa menciptakan ide atau suatu gagasan yang di implementasikan. “Dan perubahan apa yang bisa diterapkan di dalam dunia nyata,” terangnya.
Ilma juga sangat lanyah dalam hal teknologi. Dengan memanfaatkan keahlian inovasinya, ia memanfaatkan teknologi untuk membatu pekerjaannya mengelola pertanian. Dibantu dengan alat internet of thing (IoT) yang ia ciptakan, memudahkanya untuk melihat perkembangan tanaman dari mana saja melaluli aplikasi. Mulai pemupukan, penyiraman, pengaturan suhu, kelembaban dan masih banyak lagi manfaat lainnya.
Kapan memulai gerakan pertaniannya? Ilma bercerita, semua bermula dari keresahan yang dialaminya dulu ketika panen sering kali gagal panen dan keuntungan yang tidak menjanjikan. Akhirnya ia memutuskan terjun ke pertanian dan berusaha melakukan inovasi-inovasi. Kegagalan baginya adalah suatu hal yang wajar justru itu yang membuatnya terus kembali melangkah dan berinovasi.
Kini, ia menanam aneka tanaman produktif. Diantaranya melom,tomat, cabe, sawi, dan seledri. Sebelumnya luas tanah yang dimiliki untuk ditanami cuma 4×6 meter. “Sekarang sudah 1.500 meter persegi,” terangnya.
Seledri berada di samping rumahnya ditanam secara hidroponik. Secara umumnya seledri bisa ditanam diketinggian 1.000 mdpl. Namun, ia membuktikan Bojonegoro yang di bawah itu, seledri tumbuh subur dan produktif. Dengan lahan yang berada di samping rumahnya bisa mengkalkulasikan keuntungan Rp 3 juta hingga Rp 4 juta perbulan. Untuk melon berada di greenhouse area persawahan desa. Dalam satu tahun bisa panen 4 hingga 5 kali. Sekali panen dilahan 500 meter persegi dengan 2.000 tanaman, bisa menghasilkan hingga Rp 30 juta.

P4S Djoyo Tani, menurut Ilma hadir sebagai pusat pelatian petanian pedesaan mulai tahun 2022. Sistem pertanian dengan memanfaatkan IoT dan AI. Sistem itu mengunakan HP android untuk mengatur suhu iklim kelembaban udara, pemberian pupuk secara otomatis, intensifitas cahaya, pendistribusian yang diawasi oleh CCTV.
“Sekarang era 5.0. Dalam artian teknologi bisa membantu menggantikan manusia dalam membuat keputusan. Sistem ini memepermudah saat sedang berada dimanapun,” terangnya.
Ketika saat tanaman membutuhkan pupuk bisa langsung mengunakan aplikasi secara otomatis. Dengan penerapan pertanian modern dan kondisi alam cuaca bisa dikendalikan jadwal tanam hingga masa panen.
Pegendalian hama yang berlebihan juga dapat teratasi lebih mudah lewat pertanian modern. Mulai dalam hal menentukan harga yang kadang naik turun, mengkalkulasikan harga modal dan pengeluaran secara merata. “Petani nanti bisa lebih maju dan lebih makmur,” tuturnya.
Keunggulan pertanian modern juga bisa sebagai sarana untuk belajar dan wisata pertanian. Greenhouse Djoyo Tani sangat terbuka untuk kalangan anak-anak muda yang mau belajar dan berlatih dalam dunia pertanian untuk menciptakan agroindustri bersama di Kabupaten Bojonegoro.
Ilma memegang kata-kata bijak: kita bisa belajar kapanpun dan dimanapun tanpa terbatas oleh ruang dan waktu. Semua tempat adalah sekolah semua orang adalah guru. Ia percaya petani bisa lebih sukses dan bisa menentukan masa depannya.









