Seringkali, saat pagi, saya bertanya kepada ibu “Ada iwel-iwel?” ketika ia pulang belanja dari tukang sayur keliling.
Iwel-iwel lebih sering dikenal dengan sengkulun, kue tradisional berbahan dasar tepung beras ketan dan parutan kelapa atau santan dengan isian gula merah. Sengkulun umumnya hanya ditemukan di acara hajat 40 hari pasca bayi lahir atau selapanan. Kue ini dibungkus daun pisang berbentuk kerucut. Rasanya kenyal, gurih dan ada sensasi moncrot gula merah ketika menggigitnya.
Biasanya, tukang sayur langganan ibu menjual sengkulun dengan harga seribu rupiah per bungkusnya. Tapi sering ibu tidak kebagian kue lumer itu. Hingga saya bertanya pada ibu, seberapa susah membuatnya? Menurut ibu, membuat sengkulun susah, mending beli saja.
Nah, pada siang yang tidak terlalu panas, Rabu (14/1/2026), saya mencoba membuat sengkulun dari ubi kuning. Ternyata bahannya cukup simpel dan memasaknya pun mudah dipraktikkan bagi saya yang masih amatiran.
Bahan-bahan Sengkulun Ubi
Ubi atau telo sering nangkring di piring camilan keluarga kami. Ternyata, ubi bisa dijadikan sengkulun. Namun, sengkulun pada selapanan bayi umumnya hanya berbahan tepung beras ketan tanpa tambahan ubi.
Bahan-bahan membuatnya:
1. Ubi (warna apa saja, saya memakai ubi kuning) kukus 200g
2. Tepung beras ketan 200g
3. Kelapa tua atau cikalan tuwek 200g
4. Gula pasir 50g
5. Gula merah 50g
6. Garam 1/2sdt
7. Margarin secukupnya
Cara Memasak

Saya mengupas ubi dan memotongnya agar lebih cepat empuk ketika dikukus. Lalu ubi saya cuci dan kukus selama 15 menit atau sampai empuk. Sembari menunggu ubi empuk, saya mengupas kelapa tua dari kulit hitamnya agar berwarna putih merata. Selanjutnya kelapa dicuci dan diparut. Kemudian saya memotong gula merah menjadi kecil-kecil bertekstur.
Setelah ubi empuk, saya menaruhnya di wadah agak besar. Sebelum mengadon sengkulun, saya memanaskan dandang atau kukusan agar saat adonan sudah jadi bisa langsung dikukus. Ubi dihancurkan selembut mungkin. Tepung beras ketan dimasukkan dan diaduk dari arah bawah ke atas tanpa ditekan-tekan agar menghasilkan tekstur gerindil-gerindil.
Setelah tercampur, kelapa parut, gula pasir dan garam dimasukkan dan diaduk merata tetap dari arah bawah ke atas. Adonan ini tanpa perlu ditambah lagi dengan air maupun santan, tapi menurut ibu, biasanya adonan sengkulun diberi sedikit air. Kali ini, tergantung keyakinan masing-masing.
Sengkulun ini bisa dibungkus dengan daun pisang atau dicetak menggunakan loyang kue. Saya menggunakan 2 loyang kue ukuran kecil. Loyang terlebih dahulu diolesi margarin agar adonan saat matang gampang dikeluarkan. Adonan sengkulun dimasukkan setengah Loyang, lalu irisan gula merah diletakkan di atasnya, kemudian ditutup lagi dengan adonan hingga loyang penuh. Meski Loyang penuh, nanti ketika matang, adonan akan turun dan melekat.
Ketika dandang sudah panas, sengkulun siap dikukus selama 40 menit dengan api sedang-kecil. Setelah matang, sengkulun sangat mudah copot dari Loyang. Saya menyajikannya di atas piring kayu jati beralas daun pisang. Aroma wangi dari gula merah yang meleleh menguar bersama asap kemebul dari sengkulun, membuat saliva lebih banyak.
Rasa Sengkulun
Ketika dipotong, gula merah langsung lumer keluar daru Tengah-tengah sengkulun. Saat masuk mulut dan menggigitnya, rasa gurih dari kelapa, kenyal dan lembut dari tepung beras ketan dan ubi kukus serta legit yang lumer dari gula merah membuat lidah menari-nari. Manis sengkulun bukan manis yang membuat enek seperti dessert manis lainnya. Jika tidak ingat dua gigi saya yang sudah ditambal, mungkin satu Loyang sengkulun akan habis dalam sekali duduk.







