Berapa jam kita scroll media sosial? Atau berapa kali dalam sehari kita scroll–scroll media sosial?
Akhir-akhir ini, pertanyaan tersebut perlu kita renungkan bersama. Sudah banyak sekali kajian tentang dampak scrollmedia sosial. Brain rot adalah salah satu dampak yang banyak diulas. Brain rot bukan istilah baru. Brain rot menjadi istilah paling populer di awal 2025.
Secara sederhana, brain rot dimaknai sebagai kondisi psikologi berlebihan dalam kehidupan virtual. Hal tersebut dapat menyebabkan masalah besar pada pikiran, emosi, dan fisik. Sejumlah kajian menyebut beberapa efek samping dan risiko yang bisa muncul antara lain:
- Kesulitan mengingat hal-hal baru dan berpikir dengan jernih
- Perubahan mood dan emosi yang tidak stabil, yang bisa menyebabkan depresi atau kecemasan
- Penurunan kemampuan berpikir, seperti kesulitan dalam memecahkan masalah, berpikir logis, dan membuat keputusan
- Kehilangan kemandirian, karena kesulitan dalam melakukan tugas sehari-hari
Dampak Brain Rot bagi Siswa
Scroll-scroll media sosial ini memang membuat kita lupa daratan. Terkadang hendak melakukan aktivitas tertentu harus ditunda gara-gara scroll media. Oleh karena itu, kegiatan ini cukup mengganggu, terutama bagi Kalangan siswa.
Nah, bagi siswa, brain rot dapat menimbulkan konsekuensi serius terhadap prestasi akademik dan perkembangan kognitif mereka. Durasi scroll media sosial yang berlebihan dapat mengganggu konsentrasi belajar, menurunkan kemampuan memahami materi pelajaran, dan memperburuk daya ingat. Siswa mungkin akan kesulitan dalam mengikuti pelajaran di kelas, mengerjakan tugas, atau bahkan memahami instruksi sederhana.
Selain itu, brain rot dapat memicu penurunan motivasi belajar, kecemasan terkait performa akademik, dan kesulitan dalam berinteraksi sosial secara langsung karena terlalu terbiasa dengan interaksi virtual yang dangkal. Kemampuan berpikir kritis dan analitis yang sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran pun dapat tergerus, membuat siswa kesulitan dalam memecahkan masalah kompleks dan membuat keputusan yang tepat.
Membaca Buku untuk Melawan Brain Rot
Salah satu senjata ampuh untuk melawan brain rot adalah dengan kembali membiasakan diri membaca buku. Ya, membaca buku. Aktivitas sederhana memang, tapi patut dicoba. Membaca buku menawarkan stimulasi kognitif yang sangat berbeda dari konsumsi konten media sosial. Ketika membaca buku, otak dipaksa untuk fokus, memproses informasi secara mendalam, membangun narasi, dan membayangkan. Aktivitas ini secara aktif melatih kemampuan konsentrasi, daya ingat, dan berpikir kritis.
Membaca buku juga dapat meningkatkan kemampuan berpikir logis dan pemecahan masalah, karena seringkali buku menyajikan alur cerita atau argumen yang memerlukan pemahaman dan analisis. Lebih jauh lagi, membaca buku dapat memperkaya kosakata, meningkatkan empati dengan memahami berbagai perspektif, dan mengurangi stress serta kecemasan yang seringkali dipicu oleh paparan media sosial berlebihan.
Dengan mengalokasikan waktu untuk membaca buku, kita secara tidak langsung sedang melatih otak untuk kembali pada pola pikir yang lebih dalam, terstruktur, dan produktif, sehingga menjadi benteng pertahanan yang kuat terhadap efek brain rot.









