Pernahkah Anda mendengar istilah Cok Bakal? Jika belum, bolehlah sesekali ke Desa Semanding, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro. Di Desa ini, tradisi Cok Bakal masih banyak dilaksanakan warga yang hendak menggelar upacara pernikahan atau bersih desa.
Cok Bakal sebenarnya berawal dari kata Cikal Bakal dalam bahasa jawa yang artinya asal mula. Cok Bakal di Semanding ini berupa sesaji atau perlengkapan yang digunakan dalam berbagai upacara adat jawa tersebut.
Tentang Cok Bakal, saya tertarik untuk mengangkatnya menjadi sebuah tulisan. Saya pun bertemu narasumber di Desa Semanding Kecamatan Bojonegoro, yang biasa disapa Ibu Jamini.
Siang itu, di awal Juli 2025, saya pergi ke rumah Ibu Jamini. Beliau biasa membuat sesaji Cok Bakal untuk acara-acara pernikahan, khitanan (sunatan), bersih desa dan lain lain. Sosok Ibu Jamini yang ramah, menerima kehadiran saya dengan tangan terbuka. Di rumah sederhana, Beliau sedang duduk bersama cucunya. Waktu saya bertamu, Beliau mempersilakan saya masuk untuk duduk di ruang tamu. Saya memilih duduk lesehan di bawah. Biasanya Ibu Jamini ke sawah, namun pada hari itu beliau sengaja menunggu saya yang akan datang.
Menurut Ibu Jamini, Cok Bakal itu sudah ada secara turun temurun sejak zaman nenek moyang. Jangan sampai generasi setelahnya, yakni kita-kita ini, mengabaikan ritual ini. Para leluhur kita meyakini akan ada sesuatu musibah atau mala petaka jika ritual ini tidak dilaksanakan.
Bu Jamini pun melanjutkan bercerita. Dulu, pernah terjadi di desanya, uang hasil buwuhan diambil gundul (tuyul) dan hilang semua. Ada juga terjadi hujan deras tiada henti. Selain itu ada juga yang jatuh sakit, setelah acara pernikahan selesai. Semua itu karena mengabaikan ritual Cok Bakal. Karena memang sesaji Cok Bakal ini merupakan lambang harapan dan doa tolak bala atau mencegah adanya musibah.
Ngobrol dengan Ibu Jamini memang membuat lupa waktu. Tak terasa sudah satu jam berlalu saya di rumahnya. Sesekali Ibu Jamini mempersilakan minum air teh yang disuguhkan.

Kita lanjut cerita Ibu Jamini. Cara membuat Cok Bakal harus bisa dengan cara belajar dari orang tua orang tua terdahulu. Ibu Jamini sendiri belajar dari Mboknya (ibunya). Beliau berharap agar anaknya belajar membuat Cok Bakal darinya. Sehingga tidak akan putus pada satu generasi nantinya. Ibu Jamini tidak pernah merasa ribet untuk membuat Cok Bakal. Meskipun bagi generasi sekarang mungkin ribet.
Menurut Ibu Jamini, ada tiga jenis sesaji yang harus dibuat. Sesaji untuk yang menunggu beras, sesaji untuk yang menanak nasi dan sesaji untuk yang mengelilingi rumah. Keyakinan masyarakat Semanding masih kental sekali. Jenis sesaji dari masing masing tentu beda beda. Misalnya sesaji untuk penunggu beras berupa takir dari daun pisang, di dalamnya diberi nasi berbentuk bucu dan disamping nasi diberi telur mentah satu butir.
Sedangkan Cok Bakal satu lagi berupa beras dimasukkan dalam takir daun pisang, dan di dalamnya diletakkan jadah dan jenang. Dua jenis sesaji Cok Bakal diletakkan di samping tungku untuk memasak nasi dan penunggu beras. Ada juga ditambah kendi diisi air, kemudian ditutup dengan daun pisang yang dilinting. Sesaji dilengkali dengan sebutir kelapa.
Sedagkan Cok Bakal untuk sesaji mengelilingi rumah, berupa kacang hijau dan beras kuning dan garam kasar di tabur-taburkan mengelilingi pemilik rumah yang ada hajat. Diharapkan tidak ada barang halus seperti gundul, tuyul yang akan masuk ke dalam rumah.
Selain Cok Bakal untuk pernikahan itu, ada juga Cok Bakal untuk menanam padi. Untuk keperluan di sawah ini, sesaji dibuat khusus. “Takir 2 biji, yang satu isine sego bucu kalih telur mentah, daun sirih digulung ditali takir. Yang satunya, isine lombok ijo, brambang, bawang putih, kemiri, gereh asin, koin, terus enten merang dibakar sama menyan ditaruh dipojokan sawah,” katanya.
Jika membuat Cok bakal saat panen sama dengan saat menanam. Bedanya hanya menggunakan cabai merah dan telur matang saat panen. Karena telur matang pertanda padi sudah saatnya matang, siap dipanen.
Ya, ternyata, tradisi Cok bakal atau Cikal bakal memang bisa berbeda-beda di setiap daerah, terutama dalam hal isi dan cara pelaksanaannya. Perbedaan ini mencerminkan keragaman budaya dan kepercayaan lokal di berbagai wilayah Jawa. Meskipun secara umum Cok bakal merujuk pada sesajen atau ubo rampe yang digunakan sebagai simbol awal mula kehidupan dan permohonan kelancaran dalam suatu acara, detail komposisi dan pelaksanaannya bisa sangat bervariasi.
Mengenai isi sesajen perbedaan itu karena di beberapa daerah lain menambahkan elemen elemen tertentuk yang dianggap spesifik di daerah tersebut. Seperti jenis rempah rempah, buah buahan atau makanan tradisonal lainnya. Selain isi yang beda, ada juga perbedaan dalam jumlah dan jenis bunga bunga yang digunakan.
Tidak hanya itu , ada juga perbedaan tata cara menata sesajen , doa doa yang dipanjatkan serta waktu pelaksanaan juga bisa berbeda di setiap daerah. Namun perbedaan ini tidak signifikan sehingga tidak dipermasalakan oleh masyarakat setempat. Mereka bebas memilih sesuai apa yang diyakini. Karena tidak ada aturan baku dari pemerintah desa.
Meskipun ada perbedaan esensi dari Cok bakal , tetaplah sama, yaitu sebagai simbul rasa sukur, permohonan keselamatan serta harapan akan kelancaran suatu acara atau kegiatan.
Cok Bakal melambangkan harapan masyarakat untuk keselamatan, keberkahan dan kesuburan.
Filosofis Cok Bakal sebagai penggambaran kelengkapan dan miniaturnya alam semesta yang dipersembahkan kepada sang penguasa alam, Cikal Bakaling Ana.
_________________
Penulis adalah guru SMAN 2 Taruna Pamong Praja Jawa Timur di Bojonegoro, peserta Kelas Menulis Kearifan Lokal yang digelar Sekolah Menulis Mastumapel









