Perjalanan sejarah di berbagai daerah memang sangat menarik untuk dipelajari. Budaya lokal dan adat istiadat di masa lampau dapat memberikan banyak ilmu untuk pengetahuan generasi masa kini.
Sedekah Bumi adalah tradisi turun-temurun yang melibatkan semua masyarakat. Tak terkecuali di Kelurahan Kepatihan, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro. Warga setempat, terutama yang tinggal di sekitar Makam Sedeng, selalu membuat acara sedekah bumi setiap tahun di malam Jumat Kliwon. Beberapa kegiatan mengiringi sedekah bumi, diantaranya doa bersama, makan bersama, dan pertunjukan seni seperti langen tayub. Sedekah bumi dipusatkan di Makam Sedeng atau Mbah Sedeng.
Makam Mbah Sedeng memiliki keunikan, karena di atas makam tumbuh pohon “palem sadeng” atau “pohon sadeng” yang memiliki nama ilmiah saribus rotundifolius. Pohon ini termasuk dalam jenis palem dan sering dijadikan tanaman hias karena daunnya yang lebar dan berbentuk seperti kipas, serta batangnya yang kokoh.
Bersembunyi di Balik Selembar Daun
Makam Mbah Sedeng berada di area pemakaman umum Kelurahan Kepatihan Kecamatan Bojonegoro. Makam ini menjadi saksi sejarah adanya sedekah bumi yang selalu ramai setiap tahunnya.
Sesuai cerita tutur yang berkembang, pada era masa kerajaan, area makam Sedeng saat ini, merupakan tempat untuk bersembunyi dari kejaran prajurit musuh. Orang-orang yang diburu ini dianggaap tidak sejalan atau melanggar aturan kerajaan, atau setidaknya terjadi perselisihan.
Konon orang-orang pelarian ini diselamatkan oleh batu pipih yang berada di lokasi persembunyian, yakni makam Mbah Sedeng kini. Batu itu milik orang yang menghuni makam Mbah Sedeng, yang sekalus pusakanya. Batu pipih itulah konon yang dipakai sebagai tempat bersembunyi, sebagai tedeng, sebagai aling-aling. Sehingga muncullah istilah tedeng alin-aling. Para pelarian itu dengan pusaka batu pipih tersebut, tidak kelihatan musuh, meski hanya berlindung atau amping-amping di balik selembar daun saja.
Seiring perkembangan zaman, datanglah penjajah Belanda. Makam Sedeng dengan dataran yang cukup tinggi kala itu digunakan sebagai transit pasukan Belanda untuk mengawasi pergerakan pejuang-pejuang yang melintasi penyeberangan Bengawan Solo di Desa Banjarsari dan diberi nama doorvoer verve, tetapi masyarakat sekitar menyebutnya dengan opor wewe karena lidah orang jawa sulit menirukan.
Sutiyono ketua makam sedeng, satu-satunya sumber berita yang masih bisa diwawancarai tentang sejarah Makam Sedeng menjelaskan, pada saat sedekah bumi, banyak kuliner yang disiapkan untuk dimakan bersama. Diantaranya jajan krecek, jadah, kucur, kembang gulo, apem, madu mongso, dan lainnya. Jajanan itu diletakkan di jodang.
Dengan kemajuan zaman, Sutiyono mengajak kepada para anak muda sebagai pewaris sejarah budaya untuk selalu melestarikannya. Dari pengalaman selama ini, anak-anak muda sekitar Makam Sedeng aktif terlibat dalam pelestarian budaya.
_________
Penulis adalah Kepala Sekolah TK ABA Percontohan Bojonegoro, juga peserta Pelatihan Menulis Kearifan Lokal yang digelar Sekolah Menulis Mastumapel.









