Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Destinasi

Wajah Pariwisata Bojonegoro dalam Catatan (Buku) Tahun 1860-an dan 1960-an

Kajar Djati
29/12/2024
Sasradilaga Kobarkan Perang Rakyat Rajegwesi

Peta kuno Bojonegoro, sumber: Fb/Bodjonegorotempodoeloe

Akhir tahun 2024, Anda hendak liburan ke mana? Jika Anda sedang di Bojonegoro, ke mana Anda akan berwisata?

Kabupaten Bojonegoro, tentu saja, sebagaimana daerah-daerah lain, memiliki sederet tempat wisata. Merujuk website wisatabojonegoro yang dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, ada banyak sekali tempat wisata, yakni sekitar 34 tempat wisata.

Tempat itu dikelompokkan ke dalam wisata alam, religi, sejarah, edukasi, agro, geopark, dan wisata buatan. Dan Anda bisa menunjuk mana yang Anda kenali, atau pernah Anda kunjungi.

Jumlah wisatawan yang mampir ke objek wisata di Bojonegoro, rata-rata setiap tahun ditargetkan 1 juta orang. Namun, merujuk data di data.bojonegoro.go.id, per April 2024, jumlah wisatawan baru mencapai 182.505. Untuk data terupdate belum dimunculkan oleh pengelola website.

Namun, tulisan ini bukan hendak membahas objek-objek wisata di Kabupaten Bojonegoro, akan tetapi mencoba menelisik wajah pariwisata Bojonegoro pada masa lampau. Lantaran minimnya literarur yang saya peroleh, maka tulisan ini hanya didasarkan pada dua buku.

Pertama, buku Pedoman Tamasja Djawa Timur Bali yang ditulis Ananda dan diterbitkan oleh Keng Po tahun 1963. Buku ini sebenarnya diterbitkan berseri. Selain Djawa Timur, juga Pedoman Tamasja Djawa Tengah, Djakarta, dan Djawa Barat.

Buku pedoman berpariwisata ini cukup unik. Boleh dibilang, buku ini semacam google maps, atau website-website era digital yang menyajikan pilihan-pilihan wisata, rute perjalanan, hingga oleh-oleh apa saja yang bisa dibeli untuk buah tangan. Nah, buku ini memuat semua, yang tentu saja sesuai dengan zamannya.

Buku Pedoman Tamasja Djawa Timur Bali

Koleksi: Mastumapel.com

Buku seri Jawa Timur ini, dimulai dari rute Rembang hingga Jatirogo (Tuban) sejauh 62 km. Juga memberi alternatif rute Rembang-Lasem-Binangun-Kragen-Tambakboyo-Tuban sejauh 100 km. Perjalanan tamasya sampai ke Surabaya, Malang, Madiun, Ponorogo, Pacitan, hingga daerah tapal kuda seperti Probolinggo dan Situbondo.

Dalam buku ini, Bojonegoro hanya disebut selintas saja. Artinya bukan menjadi tujuan wisata yang direkomendasikan. Hanya masuk rute dari Lasem ke Jatirogo, lalu ke Bojonegoro.

“Dari sini (Djatirogo,red) djika diteruskan bisa sampai ditempat pemandian jang diberi nama Dander (dari Bojonegoro kira2 25km); dekat tempat pemandian tersebut terdapat tanah jang siang/malam menjalahkan api”. (hal:3).

Sepertinya, hanya paragraf itulah yang menggambarkan Bojonegoro dari buku setebal 160 halaman. Di halaman 4, Padangan disebut, akan tetapi di dalamnya tak ada kalimat atau gambaran tentang Padangan.

Buku Perjalanan Arya Purwalelana

Koleksi mastumapel.com

Buku ini judul lengkapnya Perjalanan Arya Purwalelana Mengelilingi Jawa (1860-1875), Kisah Perjalanan Pertama yang Ditulis oleh Orang Jawa dengan Gaya Prosa. Buku ini merupakan kumpulan tulisan karya R.M.A.A. Candranegara V. Dalam bahasa Indonesia, buku ini pertama kali diterbitkan Sinar Hidoep pada Juli 2024. Arya Purwalelana merupakan nama pena saja dari R.M.A.A. Candranegara V, seorang bangsawan yang pernah menjadi Bupati Kudus dan Brebes.

Arya Purwalelana menjelajahi 18 dari 23 karesidenan yang ada di pulau jawa. Salah satunya, sebagaimana termuat di bagian “Perjalanan Ketiga” sub Kisah di Karesidenan Rembang (hal: 225-234). Waktu itu, Kabupaten Bojonegoro masuk wilayah karesidenan Rembang.

Perjalanan Arya Purwalelana ke Bojonegoro ini dari Ngawi. Disebutkan perjalanan menyeberangi sungai dari Ngawi ke pos Ngrau (Ngraho). Perjalanan menggunakan kereta kuda tidak bisa lancer, karena ada banyak batu-batu gamping berukuran besar.

Arya Purwalelana kemudian tinggal beberapa hari di Padangan. Di disitrik Padangan inilah, ia mengunjungi beberapat tempat. Diantaranya, disebutkan “istana” demit atau makhluk halus bernama Putri Trenggonowulan. Lokasinya ada di 10,5 km dari sebelah timur pos Ngrau.

Ada beberapa nama, yang-mohon maaf-karena keterbatasan pengetahuan saya, sulit mencarinya kini. Misal hutan bago, gunung gembiralaya, atau sebuah desa bernama Kedawak di distrik Padangan dan rumah pos di tepi jalan dinamakan Kaligede.

Singkat kisah, beberapa tempat yang dikunjungi Arya Purwalelana saat berada di Padangan, lebih banyak tempat yang masih berupa alam yang asli, seperti hutan, petilasan, atau tempat pertapaan.

Setelah di Padangan, ia kemudian mengunjungi Pelayangan Latu yang kini lebih dikenal dengan Kayangan Api di distrik Ngumpak. Digambarkan api menyala dengan suara bergemuruh. Artinya api itu cukup besar, dan bahkan ia memprediksi tinggi api mencapai 4,5 meter. Berarti setinggi rumah warga sekarang.

Waktu itu, ada mitos warga sekitar Pekayangan Latu, bahwa jika api menyala, berarti akan ada wabah penyakit atau malapetaka.

Perjalanan kemudian dilanjut ke Bojonegoro (kota). Sayang, kesan dari Arya Purwalelana saat di kota Bojonegoro tak menyenangkan. Digambarkan alun-alunnya luas. Di sisi utara jarang dilewati orang, karena tak terurus, dan ditumbuhi Semak belukar.

Ia mencatat: “…pohon beringin kurung di alun-alun terlihat sangat kurus. Maka para pelancong yang datang ke tempat itu kurang begitu senang. Bahkan mereka yang suka blak-blakan bisa mencela dan menyebutnya kota pelosok”. (hal:231).

Kesimpulan

Dua buku yang saya sebutkan di atas, sebenarnya memberi gambaran bagaimana pariwisata Bojonegoro di masa lampau. Tidak menarik, kotanya tak terawat, dan kondisi jalan tak sebagus daerah lain.

Akan tetapi, tentu saja itu dulu. Kini, Anda bisa menilainya sendiri. Bojonegoro mempunyai APBD cukup besar, insfrastruktur jalan dibangun hingga ke pelosok desa, dan beberapa tempat wisata mulai bermunculan. Meski, tentu saja Anda bisa membandingkan dengan daerah lain.

Nah, menurut Anda, bagaimana pariwisata Bojonegoro kini?

Tags: Arya PurwalelanaPariwisata BojonegoroSejarahTamasyaTempo Doeloe
Previous Post

DULU ADA: Koran Masuk Desa Dimulai pada Pelita III Tahun 1979

Next Post

Cerita Panggung Seni di Bojonegoro Tempo Doeloe, Terkenang Ketoprak di Utara Alun-alun

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Oprak Sahur Kepungkur Lan Sakiki

Oprak Sahur Kepungkur Lan Sakiki

21/02/2026
Boleh Gaya Asal Suka Baca Bareng Lapak Buku dan Baca Mastumapel di CFD Bojonegoro

Boleh Gaya Asal Suka Baca Bareng Lapak Buku dan Baca Mastumapel di CFD Bojonegoro

11/02/2026
Sunan Gunung Jati dan Benang Merah Sejarah Demak, Cirebon, dan Banten

Sunan Gunung Jati dan Benang Merah Sejarah Demak, Cirebon, dan Banten

08/02/2026
29 Kosakata Jawa Paling Populer di Bojonegoro Masa Lalu, Bagaimana Kini?

29 Kosakata Jawa Paling Populer di Bojonegoro Masa Lalu, Bagaimana Kini?

09/02/2026
Kue Tradisional Apem Khas Megengan, Simbol Tradisi dan Pengharapan

Kue Tradisional Apem Khas Megengan, Simbol Tradisi dan Pengharapan

23/02/2026
Konser Intimate Banda Neira Berjalan Lebih Jauh, Melangkah untuk Sembuh

Konser Intimate Banda Neira Berjalan Lebih Jauh, Melangkah untuk Sembuh

06/02/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023