“Panggung itu besar, ada di alun-alun sisi utara. Itu panggung terbuka bagi seniman. Panggungnya megah,” kata Gatot mengenang masa-masa ia sering menonton aneka pertunjukan.
Waktu itu, era tahun 1980 an. Ia tinggal di Kecamatan Soko-Tuban, sebulan sekali menonton pertunjukan. Di sisi utara alun-alun, juga sering ada panggung dadakan, tanah lapang dipagari dengan gedek. Di situlah ketoprak Siswo Budoyo tampil dan memukau penonton. “Apalagi kalau sudah muncul Jorono dan Jogelo. Wah pentonton pasti bersorak, tertawa terpingkal-pingkal,” kenang Gatot.
Ya, panggung pertunjukan di pojok alun-alun utara Bojonegoro menjadi magnet bagi seniman dan pencinta seni waktu itu. Sayangnya, panggung itu harus digusur. Dibongkar dan dibubarkan. Informasi yang beredar, panggung itu sering digunakan mes*m oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Sekitar tahun 1991 panggung itu digusur.
Yuli Zedeng, salah satu seniman Bojonegoro punya cerita. Menurut dia, pada tahun 1980-1990 an, panggung seni itu bernama Gedung Olahraga dan Kesenian (OKe). Penyelenggara pertunjukan beragam. Dari sanggar teater, sanggar musik tradisional maupun modern. Saat itu, panggung seni sangat ramai dan menarik bagi masyarakat. Tidak hanya para orang tua, muda-mudi juga banyak dan suka menyaksikan seni pertunjukan tradisional seperti wayang, tayub, ludruk, dan lain sebagainya.
“Pada tahun itu banyak warga menantikan panggung hiburan sebagai rekreasi keluarga,” ungkap Yuli yang ditemui di awal Desember 2024.
Menurut Yuli, pada tahun 2000, panggung seni masih sering digelar. Salah satunya di Gedung Perak, yang tak jauh dari lokasi terminal lama yang kini menjadi Taman Rajegwesi. Juga ada panggung terbuka di depan kantor RKPD yang kini berubah nama menjadi Radio Malowopati FM. Namun sekarang, panggung seni itu sudah tidak ada lagi.
Satu persatu panggung seni di Bojonegoro hilang. Hingga kini, tidak ada lagi panggung yang dibangun dan digelar. “Faktor sosial, ekonomi, dan politik memengaruhi panggung seni tidak seeksis dulu lagi,” terangnya.
Menurut Yuli, sudah saatnya Bojonegoro memiliki panggung seni yang sesuai standar. “Syukur-syukur bisa memiliki panggung dengan standar nasional,” ujarnya.
Ruang berkarya bagi seniman-seniman Bojonegoro, saat ini masih memprihatinkan, Yuli mendesak agar di Bojonegoro segera dibangun sarana dan prasarana kegiatan, apresiasi, dan edukasi untuk seni.
Meski beberapa seniman mengekspos karya-karya mereka di media sosial, bagi Yuli, itu tidak cukup sebagai ajang pagelaran seni. Seniman tetap membutuhkan panggung yang layak dan audiens sebagai bentuk apresiasi dan pelestarian seni di Bojonegoro.
Perencanaan pembangunan Pusat Kebudayaan pernah direncanakan di Bojonegoro. Yanto mengaku pernah ikut serta dalam rembuk budaya pada tahun 2016 tentang pembangunan pusat budaya.
Tahun 2019, kata Yanto, seharusnya Pusat Kebudayaan sudah terbangun megah di kota yang sering disebut Kota Anglingdharma ini. Pembebasan lahan pun sudah dilakukan pada tahun 2017-2018 di depan markas Kodim 0813 Bojonegoro.
Namun rencana pembangunan itu kandas. Beberapa hal menjadi penyebab gagalnya pembangunan, diantaranya soal akses dan bergantinya pemangku kebijakan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Lahan itu pun kini hanya diuruk dan dikelilingi pagar seng.
Bagi Yuli, Yanto, dan para seniman di Bojonegoro, keberadaan Pusat Kebudayaan menjadi sangat penting. Mereka membayangkan, di sana nantinya ada panggung pertunjukan, ruang pameran, museum dan kebutuhan seni lainnya.
“Seperti yang kita tahu, benda-benda sejarah (museum) itu berceceran. Perlu adanya tempat untuk menampung yang layak,” papar Yanto.
Ia berharap kepada kepala daerah yang terpilih dalam Pilkada 2024 bisa mewujudkan kebutuhan utama pembangunan Pusat Kebudayaan. Gedung itu akan menjadi mercusuar bagi Bojonegoro. Gedung itu akan menjadi identitas yang menceritakan banyak sejarah tentang kota yang saat ini berusia 347 tahun itu.
Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro Ahmad Supriyanto menuturkan, memang sudah saatnya Bojonegoro memiliki pusat kebudayaan. Pihaknya terus mendorong pemerintah daerah untuk segera merealisasikan. “Kami mendorong Bojonegoro memiliki gedung kesenian sendiri,” tegasnya.
Mas Pri, sapaan akrabnya, menjelaskan, potensi seni budaya Bojonegoro perlu terus dilestarikan. Dengan adanya pusat kesenian, pasti akan berpengaruh pada pelestarian kesenian asli Bojonegoro. “Kita akan masukkan perencanaan di APBD 2025,” tegasnya.









