Pada 22 Juni 1958, Djawatan Penerangan (Djapen) RI Kabupaten Bojonegoro menggelar pertunjukan wayang. Bukan wayang kulit, melainkan wayang suluh. Pertunjukan ini dihadiri sekitar 1.500 warga yang memadati tempat pertunjukan di Desa Padang, Kecamatan Bojonegoro.
Masngoet, pegawai Djapen Kabupaten Bojonegoro menulis laporan tersebut yang dimuat di Mimbar Penerangan no 12 Desember 1958. Dilaporkan oleh Masngoet, ada lima pesan yang disampaikan Kepala Djapen Kecamatan diantaranya kewajiban nasional, pentingnya persatuan, kesaradaran bernegara, pembangunan desa, dan gotong royong.
Wayang suluh menjadi salah satu cara komunikasi pemerintah dalam menyampaikan program-programnya. Semisal semangat membangun koperasi, juga semangat persatuan. Setelah pertunjukan di Padang, wayang suluh juga hadir di beberapa desa di Kecamatan Purwosari. Terakhir pada 3 Juli 1958, tampil di Desa Gapluk, Purwosari.
Apa itu wayang suluh? Wayang ini menggunakan wayang dari bahan kulit. Namun, tokohnya dan ceritanya didesain “kekinian” dengan lakon sosialisasi program pemerintah. Wayang suluhsecara resmi mulai diperkenalkan sejak tanggal 10 Maret 1947 oleh karyawan Djapen Madiun bernama Sukemi.
Bahkan Departemen Penerangan, pada era tahun 1950-an, diinstruksikan kepada setiap Kantor Djapen tingkat kabupaten diwajibkan memiliki seperangkat peralatan kesenian wayang suluh termasuk dalangnya. Namun, wayang suluh ini kemudian meredup, lantaran minimnya dalang yang memainkannya.
Akan tetapi, di Kabupaten Bojonegoro muncul dalang bernama S. Godoatmojo yang juga pernah bertugas di Djapen Kabupaten Bojonegoro. Godoatmojo inilah yang kemudian menghidupkan kembali wayang suluh. Godatmojo memang lahir dari keluarga dalang. Bapaknya, Supandi Kromomihardjo juga dalang wayang kulit. Saudara laki-lakinya, Wiknjosupardjo juga dikenal sebagai dalang wayang kulit.
Wayang suluh ini menjad garda terdepan dalam upaya pemerintah di bawah kepemimpinan Soekarno untuk mensosialisasikan persatuan dan meningkatkan kemakmurah, terutama bagi masyarakat desa. Bahkan, ketika rezim berganti di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, wayang suluh Bojonegoro masih terus eksis. Meski wayang suluh ini sempat menghilang.
Oleh S Godoatmojo, wayang suluh coba dihidupkan, dengan tujuan ikut mengampanyekan program pembangunan Orde Baru. Pada tanggal 11 Agustus 1975, dalang Godoatmojo mementaskan wayang suluh di Taman Ismail Mardjuki (TIM) dan dilanjutkan pentas di aula Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, JI. Kimia 20 Jakarta. Setelah itu, juga pentas di Museum Negeri Propinsi Jawa Timur Mpu Tantular, tepatnya pada tanggal 19 Nopember 1991.
Tentang wayang suluh Bojonegoro ini, diulas secara mendalam oleh Drs. Bandi dkk. dalam buku Wayang Suluh Bojonegoro yang diterbitkan oleh Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman 1993/1994.
Salah satu mantan pegawai Departemen Penerangan Kabupaten Bojonegoro menjelaskan Godoatmojo memang dikenal sebagai dalang suluh. Hanya saja, Godoatmojo beserta istri sudah lama meninggal. Pasangan suami istri ini dulu tinggal di Jalan Basuki Ramhat.









