Buku berjudul Langgar Bercahaya baru saja selesai saya baca. Buku ini merupakan kumpulan cerpen karangan Nanang Fahrudin, terbitan tahun 2018. Terdapat 12 cerpen di dalamnya.
Cerita pertama berjudul Surat. Lalu berlanjut ke judul Langgar Bercahaya, Bulan Menggantung di Langit, Buku Catatan Peri Kecil, Perempuan, Tamu, Penyair Raja Ikan, Perkumpulan Orang-orang Pintar, Srengganawati, Janggleng, Barongan, dan judul terakhir Pesta Para Pencuri.
Sebagai pembaca, saya menikmati betul setiap alur ceritanya. Dalam cerita mencerminkan kedalaman, kepekaan dan kesederhanaan penulisnya. Saya merasakan suasana lingkungan pedesaan terutama di Bojonegoro lengkap nuansa Bengawan Solo-nya.
Ada sudut pandang berbeda yang ditampilkan dengan gaya mendalam namun sederhana, mengulas berbagai persoalan kehidupan sehari-hari dengan nilai spiritual. Seperti isu-isu sosial, politik, budaya, lingkungan, yang lumrah ditemui di masyarakat sekitar. Terkadang, hal-hal yang bertentangan dan tidak seharusnya menjadi wajar di masyarakat, bisa terjadi dan tanpa disadari. Pesan yang ditampilkan lewat cerita-ceritanya mengalir. Beruntung dan bersyukur apabila bisa menyertakan rasa ketika membaca buku ini.
Ketika membaca cerpen berjudul “Buku Catatan Peri Kecil”, mengingatkan saya semasa kecil dulu. Menggambarkan sebuah rasa kesenangan kanak-kanak, bisa menikmati keindahan alam sekaligus menulisnya di buku. Sederhana, alam yang indah, hijau nan sejuk. Barangkali sekarang ini kita jarang menemukan suasana yang seperti itu.
Cerpen “Langgar Bercahaya” yang menjadi judul utama kumpulan cerpen ini, menceritakan suasana pedesaan dulu yang hangat. Langgar yang dipenuhi anak-anak mengaji dan bermain di sore hari. Yach, jadi ingat masa-masa bermain bersama di masjid dulu. Masihkah kini masjid dan langgar ramai dengan anak-anak?
Sedangkan cerita berjudul “Tamu”, ceritanya menyapa dengan imajinasi yang kental. Tidak ketinggalan cerpen “Srengganawati”, cerita tentang kisah Angling Dharma yang akrab bagi warga Bojonegoro. Sedikit serius ketika membaca cerita Srengganawati. Seru, namun saya sedikit lama memahaminya.
Saya paling tertarik dengan cerita yang berjudul “Bulan Menggantung di Langit”. Barangkali kita sering tidak mempedulikan bagaimana perjuangan masyarakat desa di tengah-tengah kemodernan. Masyarakat kecil hanya bisa mengalah dan menyetujui para elit. Hidup mereka sederhana dan tidak aneh-aneh.
Satu pesan yang cukup penting menurut saya, kita tidak perlu terlalu takut untuk dianggap berbeda, jika itu sudah sesuai nilai yang kita yakini. Namun di sisi lain, tidak membuat kita menutup diri. Dari sini kita belajar menyaring apa saja yang perlu diambil dan ditinggalkan serta cukup mengetahui saja. Hal ini relevan dengan kehidupan sekarang ini. Yang tidak semua kita harus mengikuti. Seperti kutipan Jawa “Angeli Ananging Ora Keli”. Kebebasan dan kemampuan kita untuk mengubah dan membentuk arah kehidupan, bukan menjadi tenggelam di dalam derasnya arus kehidupan.









