Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Pendidikan

29 Kosakata Jawa Paling Populer di Bojonegoro Masa Lalu, Bagaimana Kini?

Mukaromatun Nisa
09/02/2026
29 Kosakata Jawa Paling Populer di Bojonegoro Masa Lalu, Bagaimana Kini?

Warga Bojonegoro dulu menggunakan Bahasa Jawa sebagai komunikasi sehari-hari. Bahkan Bojonegoro memiliki dialek Bojonegaran sebagai ciri khas Kota Ledre tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, bahasa lokal mulai tergerus, tergantikan bahasa modern yang lebih sering didengar dan diucapkan.

Tidak sedikit saya mendengar percakapan muda-mudi di kedai atau warung kopi yang berbincang dengan kosakata campuran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris seperti maybe (mungkin), better (lebih baik), kalcer (sesuatu yang sedang tren atau keren), flexing (pamer) dan sebagianya.

Saya juga sering mendengar para orang tua muda di sekitar rumah berkomunikasi dengan sang anak menggunakan Bahasa Indonesia. Si anak yang terbiasa, otomatis membuat kakek dan nenek ikut berbincang juga menggunakan Bahasa Jawa yang keindonesiaan seperti “Jangan mlayu nanti tiba“.

Bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa tentu amat bagus untuk dikenalkan dan dipakai sehari-hari. Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional juga perlu dilatih diucapkan sehari-hari agar tidak kagok ketika suatu saat perlu berbahasa asing. Namun, Bahasa Jawa sebagai bahasa warisan lokal tentu perlu untuk tetap dilestarikan.

Berikut ini 29 kosakata Jawa beserta arti dan contohnya yang populer di Bojonegoro:

1. Genyo: kenapa

Contoh: Mbah e kok mrengut wae genyo nu? (Nenek kok manyun terus kenapa?)

2. Beno: biarkan

Contoh: Beno wae (biarkan saja)

3. Gawok: heran

Contoh: Anak e Kar kok pinter men, nganti gawok aku (Anaknya Kar kok pintar banget, sampai heran aku)

4. Petel: ambil

Contoh: Ndhuk petelno sarunge bapak! (Nak, ambilkan sarungnya bapak!)

5. Tunggalan: makan sepiring bersama

Contoh: Mangane tunggalan wae (Makannya sepiring bersama saja)

Ilustrasi tunggalan/Sumber: Aflo Images-Canva

6. Nayoh: mudah

Contoh: Soal Matematika iki nayoh (Soal Matematika ini mudah)

7. Jatukman: harusnya

Contoh: Jatukman aku nyalon presiden yo (Harusnya aku nyalon presiden ya)

8. Jengkeran: ngobrol

Contoh: Lek Man kaleh Lek Pardi jengkeran nok kursi (Lek Man dan Lek Pardi ngobrol di kursi)

Ilustrasi jengkeran/Sumber: MUHAMAD ALIP FABIO MANDAKA-Canva

9. Tenguk: duduk

Contoh: Aku tenguk nok kloso (Aku duduk di tikar)

10. Njumbul: kaget

Contoh: Mbah e njumbul roh tikus mati (Nenek kaget melihat tikus mati)

11. Ngadek/nganjer: berdiri

Contoh: Aku ngadek nok ngarep lawang (Aku berdiri di depan pintu)

12. Inceng: intip

Contoh: Aku dikon mak e nginceng tamu enek piro (Aku disuruh ibu mengintip tamu ada berapa)

13. Mumbruk: banyak

Contoh: Aku oleh jajan mumbruk (Aku dapat jajan banyak)

14. Kancing: kunci

Contoh: Lawange kancing (Pintunya kunci)

16. Marah: mengundang saat akan punya acara pernikahan atau khitan

Contoh: Wingi Yu Kar marah ape mantu (Kemarin Mbak Kar memberi undangan mau menikahkan anaknya)

17. Lebi: tutup

Contoh: Lawange lebi (Pintunya tutup)

18. Mengo: buka

Contoh: Lawange mengo (Pintunya terbuka)

Ilustrasi mengo/Sumber: Truecreatives-Canva

19. Santinem: menurutmu

Contoh: Santinem aku ra ayu e? (Menurutmu aku tidak cantik kah)

20. Porak: terserah

Contoh: Porak to (Terserah dong)

21. Munggohno: seumpama

Contoh: Munggohno aku nyalon bupati piye yo? (Seumpama aku nyalon bupati gimana ya?)

22. Rendeng: musin hujan

Contoh: Wis rendeng, wayahe tandur pari (Sudah musim hujan, waktunya menanam padi)

23. Ketigo: musim kemarau

Contoh: Ketigo iki panas e eram (Musim kemarau kali ini panas banget)

24. Mengi: sesak napas

Contoh: Mbah e nak kademen mengi (Nenek jika kedinginan sesak napas/asma)

Ilustrasi mengi/Sumber: Satjawat Boontanataweepol’s-Canva

25. Mingkem: menutup mulut

Contoh: Mingkem ojo ndoweh wae (Tutup mulutnya jangan melongo terus)

26. Mangap: membuka mulut

Contoh: Mangap tak dulang (Buka mulutnya kusuapi)

27. Angop: menguap

Contoh: Adik angop mergo ngantuk (Adik menguap karena mengantuk)

28. Ladeng, pangot, gaman: pisau

Contoh: Petelno ladeng (Ambilkan pisau)

29. Kloso: tikar

Contoh: Klosone gelar (Tikarnya bentangkan)

Di atas adalah 29 kosakata Bahasa Jawa yang akrab di telinga warga Bojonegoro tempo dulu, apakah di desa pembaca Mastumapel kosakata tersebut juga masih digunakan?

Tags: bahasa lokal bojonegoroKosakata bahasa jawa
Previous Post

Sunan Gunung Jati dan Benang Merah Sejarah Demak, Cirebon, dan Banten

KONTEN POPULER

Konser Intimate Banda Neira Berjalan Lebih Jauh, Melangkah untuk Sembuh

Konser Intimate Banda Neira Berjalan Lebih Jauh, Melangkah untuk Sembuh

06/02/2026
Sunan Gunung Jati dan Benang Merah Sejarah Demak, Cirebon, dan Banten

Sunan Gunung Jati dan Benang Merah Sejarah Demak, Cirebon, dan Banten

08/02/2026
Menonton Nausicaa, Belajar Welas Asih pada Semua Makhluk

Menonton Nausicaa, Belajar Welas Asih pada Semua Makhluk

24/01/2026
Berburu Sehat dengan Joging, Tren Anak Muda Bojonegoro

Berburu Sehat dengan Joging, Tren Anak Muda Bojonegoro

24/01/2026
Tradhisi Nisfu Sya’ban lan Megengan, Sawijining Akulturasi Budaya

Tradhisi Nisfu Sya’ban lan Megengan, Sawijining Akulturasi Budaya

02/02/2026
Nonton Konser, Terapi Psikologis Atau Fomo Aja?

Nonton Konser, Terapi Psikologis Atau Fomo Aja?

15/01/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023