Warga Bojonegoro dulu menggunakan Bahasa Jawa sebagai komunikasi sehari-hari. Bahkan Bojonegoro memiliki dialek Bojonegaran sebagai ciri khas Kota Ledre tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, bahasa lokal mulai tergerus, tergantikan bahasa modern yang lebih sering didengar dan diucapkan.
Tidak sedikit saya mendengar percakapan muda-mudi di kedai atau warung kopi yang berbincang dengan kosakata campuran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris seperti maybe (mungkin), better (lebih baik), kalcer (sesuatu yang sedang tren atau keren), flexing (pamer) dan sebagianya.
Saya juga sering mendengar para orang tua muda di sekitar rumah berkomunikasi dengan sang anak menggunakan Bahasa Indonesia. Si anak yang terbiasa, otomatis membuat kakek dan nenek ikut berbincang juga menggunakan Bahasa Jawa yang keindonesiaan seperti “Jangan mlayu nanti tiba“.
Bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa tentu amat bagus untuk dikenalkan dan dipakai sehari-hari. Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional juga perlu dilatih diucapkan sehari-hari agar tidak kagok ketika suatu saat perlu berbahasa asing. Namun, Bahasa Jawa sebagai bahasa warisan lokal tentu perlu untuk tetap dilestarikan.
Berikut ini 29 kosakata Jawa beserta arti dan contohnya yang populer di Bojonegoro:
1. Genyo: kenapa
Contoh: Mbah e kok mrengut wae genyo nu? (Nenek kok manyun terus kenapa?)
2. Beno: biarkan
Contoh: Beno wae (biarkan saja)
3. Gawok: heran
Contoh: Anak e Kar kok pinter men, nganti gawok aku (Anaknya Kar kok pintar banget, sampai heran aku)
4. Petel: ambil
Contoh: Ndhuk petelno sarunge bapak! (Nak, ambilkan sarungnya bapak!)
5. Tunggalan: makan sepiring bersama
Contoh: Mangane tunggalan wae (Makannya sepiring bersama saja)

6. Nayoh: mudah
Contoh: Soal Matematika iki nayoh (Soal Matematika ini mudah)
7. Jatukman: harusnya
Contoh: Jatukman aku nyalon presiden yo (Harusnya aku nyalon presiden ya)
8. Jengkeran: ngobrol
Contoh: Lek Man kaleh Lek Pardi jengkeran nok kursi (Lek Man dan Lek Pardi ngobrol di kursi)

9. Tenguk: duduk
Contoh: Aku tenguk nok kloso (Aku duduk di tikar)
10. Njumbul: kaget
Contoh: Mbah e njumbul roh tikus mati (Nenek kaget melihat tikus mati)
11. Ngadek/nganjer: berdiri
Contoh: Aku ngadek nok ngarep lawang (Aku berdiri di depan pintu)
12. Inceng: intip
Contoh: Aku dikon mak e nginceng tamu enek piro (Aku disuruh ibu mengintip tamu ada berapa)
13. Mumbruk: banyak
Contoh: Aku oleh jajan mumbruk (Aku dapat jajan banyak)
14. Kancing: kunci
Contoh: Lawange kancing (Pintunya kunci)
16. Marah: mengundang saat akan punya acara pernikahan atau khitan
Contoh: Wingi Yu Kar marah ape mantu (Kemarin Mbak Kar memberi undangan mau menikahkan anaknya)
17. Lebi: tutup
Contoh: Lawange lebi (Pintunya tutup)
18. Mengo: buka
Contoh: Lawange mengo (Pintunya terbuka)

19. Santinem: menurutmu
Contoh: Santinem aku ra ayu e? (Menurutmu aku tidak cantik kah)
20. Porak: terserah
Contoh: Porak to (Terserah dong)
21. Munggohno: seumpama
Contoh: Munggohno aku nyalon bupati piye yo? (Seumpama aku nyalon bupati gimana ya?)
22. Rendeng: musin hujan
Contoh: Wis rendeng, wayahe tandur pari (Sudah musim hujan, waktunya menanam padi)
23. Ketigo: musim kemarau
Contoh: Ketigo iki panas e eram (Musim kemarau kali ini panas banget)
24. Mengi: sesak napas
Contoh: Mbah e nak kademen mengi (Nenek jika kedinginan sesak napas/asma)

25. Mingkem: menutup mulut
Contoh: Mingkem ojo ndoweh wae (Tutup mulutnya jangan melongo terus)
26. Mangap: membuka mulut
Contoh: Mangap tak dulang (Buka mulutnya kusuapi)
27. Angop: menguap
Contoh: Adik angop mergo ngantuk (Adik menguap karena mengantuk)
28. Ladeng, pangot, gaman: pisau
Contoh: Petelno ladeng (Ambilkan pisau)
29. Kloso: tikar
Contoh: Klosone gelar (Tikarnya bentangkan)
Di atas adalah 29 kosakata Bahasa Jawa yang akrab di telinga warga Bojonegoro tempo dulu, apakah di desa pembaca Mastumapel kosakata tersebut juga masih digunakan?








