Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Bojonegoro Selatan

Gunung Pandan, Puncak Tertinggi Bojonegoro dan Sejarah yang Tersembunyi

Mukaromatun Nisa
30/05/2025
Gunung Pandan, Puncak Tertinggi Bojonegoro dan Sejarah yang Tersembunyi

Gunung Pandan

Mastumapel.com – Jika Anda ingin berada di atas bumi paling tinggi di Kabupaten Bojonegoro, Anda bisa datang ke sini: Gunung Pandan. Tak cuma tinggi, gunung ini juga diselimuti hutan jati. Apalagi, jika pagi atau sore hari, Anda bisa merasakan hangat cahaya matahari yang menerobos di sela-sela daun jati.

Gunung Pandan berada di bagian selatan Kabupaten Bojoengoro, bagian utara Kabupaten Madiun dan Kabupaten Nganjuk. Gunung ini benar-benar menjadi destinasi tersembunyi. Tapi, sebenarnya enggak tersembunyi banget, karena para pendaki gunung sudah banyak yang menjelajahinya. Salah satunya berkumpul di Instagram @gunungpandan. Akun yang beroperasi pada 2021 lalu ini, banyak memposting kegiatan alam sebanyak 371 postingan. Artinya, telah begitu banyak orang melakukan pendakian di gunung setinggi 897 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini. Banyak aktivitas inspiratif yang dilakukan para penjelajah gunung ini lewat unggahan di media sosial @gunungpandan.

Gunung Pandan bisa didaki melalui dua jalur. Jalur Klino (Kecamatan Sekar) dan jalur Watu Bayang, Klangon (Kabupaten Madiun). Dua jalur ini sudah mudah dilalui, dan di tahun-tahun terakhir banyak dijelajahi. Seperti yang dilakukan Komunitas Bumi Budaya Bojonegoro, komunitas yang bergerak pada penelitian peninggalan kuno.

Komunitas Bumi Budaya mendaki Gunung Pandan pada 2 November 2024 lalu melalui jalur Klino. Empat orang berangkat dari Bojonegoro kota pada pukul 14.00 WIB dan sampai di Desa Klino sekitar pada pukul 16.30 WIB. Hanya membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam untuk menuju puncak Gunung Pandan. Waktu yang relatif cepat dan ramah bagi pendaki yang belum terbiasa melakukan pendakian. Komunitas Bumi Budaya sendiri melakukan pendakian untuk meneliti situs kuno yang terdapat di Gunung Pandan yang saat ini masih dalam tahap kajian.

Gunung Pandan, jika dijangkau lewat jalur Klino menggunakan motor, maka sepanjang perjalanan, mata kita akan disuguhi pemandangan hijau yang menyegarkan dari daun-daun pohon jati, padi, jagung, dan tanaman lain. Sesampainya di Gunung Pandan, motor cukup diparkir di halaman rumah warga dengan membayar parkir seikhlasnya.

Jalur pendakian Gunung Pandan lewat Klino ini terbilang cukup landai dan menyenangkan. Sehingga para pendaki lebih santai menikmati pemandangan di kanan-kiri. Luas jalurnya pun cukup untuk 3-4 orang. Udara yang masih segar terasa segar keluar masuk paru-paru. Pemandangan sangat asri begitu menyedapkan mata. Apalagi yang terbiasa sehari-sehari memandang gadget saja atau melihat kawasan perkotaan yang itu-itu saja. Kondisi puncak juga sangat trategis untuk didirikan tenda dan melakukan perkemahan.

Dengan potensi alam yang begitu kaya, juga akses yang sangat mudah, sangat cocok Gunung Pandan dijadikan wisata alam seperti gunung-gunung lainnya. Terlebih, riwayat sejarah Gunung Pandan yang begitu memukau, sangat cocok jika gunung ini menjadi destinasi wisata alam yang berpusat pada edukasi lingkungan dan sejarah.

Gunung Pandan sebagai Pusat Spiritual

Gunung Pandan, yang kini non-aktif merupakan titik tertinggi dari Pegunungan Kendeng. Dalam catatan sejarah, Gunung Pandan juga dikenal sebagai Gunung Pugawat, sebuah nama yang disebut dalam Prasasti Pucangan berbahasa Sanskerta (Kern, Verspreide Geschriften, 1917, hal. 96).

Bagi masyarakat sekitar, Gunung Pandan memiliki aura sakral yang kuat. Tradisi lokal menyebut gunung ini sebagai tempat bersemayamnya sosok Eyang Derpo, yang dipercaya sebagai tabib dari masa Keraton Solo. Meskipun narasi ini kuat dalam budaya lisan, literatur sejarah lebih banyak mengaitkan Gunung Pandan dengan jejak spiritual Hindu-Buddha masa klasik, jauh sebelum munculnya mitos-mitos lokal tersebut.

Prasasti Pucangan dari abad ke-11 mencatat bahwa Maharaja Airlangga (990–1049 M) membangun lokasi pendharmaan di atas Gunung Pugawat. Kawasan ini digambarkan sebagai tempat yang indah, dipenuhi banyak pohon jambe (pinang), yang menambah suasana kesakralannya. Lokasi ini dipilih secara khusus untuk ritual pendharmaan-sebuah upacara keagamaan untuk melepas roh ke alam baka, yang menjadi bagian penting dari tradisi Hindu aliran Brahma di Jawa.

Pendakian ke Gunung Pandan/Foto: Koleksi Pribadi

Catatan lain datang dari abad ke-19. Dalam laporan yang dimuat dalam Nederlands Oost Indie (1857), Roorda Eysinga melaporkan bahwa Gunung Pandan kala itu masih dipenuhi banyak arca Brahminian. Ia bahkan mencatat adanya sebuah patung raksasa setinggi 14 meter di puncak gunung. Arca dikelilingi oleh delapan pohon jambe. Patung ini dikenal oleh masyarakat sebagai “Kiai Derpo,” memperkuat kesan sakral gunung tersebut. Sayangnya, menurut laporan pada tahun 1882, patung raksasa beserta arca-arca lain di kawasan itu dilaporkan hilang.

Penguatan peran spiritual Gunung Pandan berlanjut hingga era Majapahit. Prasasti Pamintihan dari tahun 1473 M menyebutkan bahwa Bhre Pandansalas, seorang bangsawan dari Kerajaan Majapahit, melakukan pendharmaan di tempat ini. Pada masa ini pula diperkirakan munculnya nama “Gunung Pandan,” menggantikan sebutan lama Gunung Pugawat.

 

Gunung Pandan sebagai Pusat Ekonomi Masyarakat Dulu

Jika melihat pola sejarah di Jawa dan kawasan lain di Nusantara, ketika suatu tempat dijadikan pusat spiritual (seperti pendharmaan atau tempat ibadah besar), tak bisa dilepaskan dari sisi ekonomi masyarakat sekitarnya. Peradaban berkembang cukup bagus di sekitarnya. Sehingga, kemungkinan besar, secara historis, kondisi ekonomi masyarakat sekitar Gunung Pandan saat itu cukup dinamis.

Pertama, karena aktivitas dukungan keagamaan. Masyarakat sekitar banyak yang terlibat dalam aktivitas pendukung seperti menyediakan makanan, membuat sesaji, menyiapkan tempat tinggal untuk peziarah, dan menjaga tempat-tempat sakral. Ini sama seperti di sekitar candi-candi besar atau pusat ritual lain di masa klasik Jawa.

Kedua, perdagangan lokal meningkat. Ketika banyak orang dari berbagai tempat datang untuk upacara keagamaan atau ziarah, kebutuhan akan bahan makanan, kain, minyak, dupa, dan barang-barang ritual lain meningkat. Ini menciptakan peluang perdagangan bagi penduduk lokal.

Ketiga, pengelolaan alam yang berkelanjutan. Kawasan Gunung Pandan yang pada masa itu dianggap suci, masyarakat cenderung menjaga ekosistem sekitar, seperti hutan jambe. Mereka mungkin mengambil hasil alam (seperti pinang, kayu, rempah) dengan cara yang lestari, karena tempat itu dianggap “keramat” dan tidak boleh dirusak.

Keempat, relasi sosial dan politik. Tempat spiritual besar sering dilindungi atau dikelola oleh elite kerajaan atau bangsawan (seperti raja-raja Medang atau Majapahit yang disebut di prasasti). Ini artinya, masyarakat sekitar Gunung Pandan mungkin mendapat perlindungan khusus atau insentif dari penguasa, baik berupa pajak lebih ringan atau proyek-proyek pembangunan.

Singkatnya, Gunung Pandan yang menjadi tempat pendharmaan kemungkinan besar dulu berfungsi sebagai pusat ekonomi kecil berbasis spiritual yang mana aktivitas keagamaan mendatangkan manusia, manusia mendatangkan transaksi, dan transaksi menghidupkan ekonomi lokal.

 

Gunung Pandan sebagai Tempat Persembunyian di Masa Perang

Selain menyimpan nilai spiritual dan sejarah masa klasik, Gunung Pandan juga memainkan peran penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dalam peristiwa-peristiwa kritis pasca Agresi Militer Belanda II (1948–1949), kawasan pegunungan ini menjadi salah satu tempat strategis bagi pasukan gerilya dan unsur pemerintahan sipil untuk bertahan dan menyusun perlawanan.

Wilayah di utara Gunung Pandan, termasuk sekitar Waduk Pacal, menjadi lokasi vital karena menjadi tempat kedudukan komando dan unsur kepemimpinan teras, baik militer maupun sipil. Belanda yang menyadari pentingnya kawasan ini berulang kali berusaha menyerang dan menguasainya.

Sebagai pusat pengendali pemerintahan dan militer di Bojonegoro, Desa Temayang yang terletak di jalur yang menembus Gunung Pandan, memegang peranan strategis dalam mempertahankan kemerdekaan, khususnya bagi Brigade Ronggolawe. Dari sisi militer, jalur ini menjadi hubungan terdekat antara wilayah pantai utara dan daerah Nganjuk, sehingga menjadikan Temayang dan pegunungan Pandan sebagai target utama serangan Belanda.

Namun, berbagai upaya Belanda untuk menguasai wilayah ini selalu berakhir dengan kegagalan. Tercatat setidaknya enam kali serdadu Belanda melancarkan operasi besar di kawasan Temayang dan Gunung Pandan antara Maret hingga Agustus 1949, tetapi tidak pernah berhasil menangkap unsur pimpinan pemerintahan militer Karesidenan Bojonegoro. Setiap gerakan yang dilakukan, baik dengan mengepung Desa Deling, menyerang Dukuh Kalibedah, hingga menggeledah rumah-rumah penduduk di Temayang dan sekitarnya, berakhir dengan hasil minim atau nihil.

Dalam salah satu serangan, Belanda bahkan harus menghadapi serangan balasan dari pasukan gerilya yang sudah siaga di dataran tinggi Gunung Pandan. Beberapa korban pun jatuh di kedua belah pihak, termasuk di antaranya masyarakat sipil yang menjadi korban kekejaman serdadu Belanda. Namun, kegigihan pasukan rakyat, dibantu kondisi geografis Gunung Pandan yang berbukit, berhutan, dan sulit ditembus, menjadi benteng alami yang efektif.

Peristiwa-peristiwa ini memperlihatkan bahwa Gunung Pandan tidak hanya berperan sebagai benteng perlindungan fisik, tetapi juga menjadi simbol ketahanan, keberanian, dan kecerdikan rakyat Bojonegoro dalam mempertahankan kemerdekaan.

 

Potensi Wisata Alam Gunung Pandan sebagai Pusat Edukasi Lingkungan dan Sejarah

Melihat latar belakang yang begitu menakjubkan, Gunung Pandan memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah dan alam. Tidak hanya menawarkan keindahan lanskap dan nilai spiritual yang dalam, Gunung Pandan juga menyimpan jejak-jejak perjuangan kemerdekaan yang penuh heroisme.

Wisata sejarah berbasis alam dapat menjadi daya tarik unik bagi wisatawan, terutama generasi muda, untuk lebih mengenal peristiwa masa lalu sambil menikmati kekayaan alam Bojonegoro. Dengan pengelolaan yang tepat, Gunung Pandan bisa menjadi ruang edukasi terbuka tentang nilai-nilai perjuangan, pelestarian lingkungan, serta kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Beberapa rekomendasi bisa menjadi poin penting untu dipertimangkan semua pemangku kebijakan terkait potensi wisata alam Gunung Pandan sebagai pusat edukasi lingkungan dan sejarah.

Pertama, ruang terbuka edukasi sejarah di basecamp. Di area basecamp bawah, dapat dibangun ruang terbuka atau taman edukasi yang dilengkapi dengan papan informasi, mural, atau banner interaktif. Materinya mengangkat sejarah ringkas Gunung Pandan, mulai dari jejak spiritual masa Airlangga, peran strategis dalam perang kemerdekaan, hingga kekayaan biodiversitas yang ada. Konsep ini akan menghidupkan Gunung Pandan sebagai destinasi wisata belajar (edutrip), menarik bagi pelajar, mahasiswa, guru, hingga komunitas sejarah.

Kedua, outbound berbasis pelestarian alam Selain menjadi jalur pendakian, kawasan Gunung Pandan bisa dimanfaatkan untuk kegiatan outbound yang berfokus pada pelestarian lingkungan. Program seperti penanaman pohon lokal (alpukat, kelengkeng, matoa, atau Nangka) dapat dirancang dalam paket wisata. Aktivitas ini tidak hanya memperkaya pengalaman wisata, tetapi juga memberi kontribusi nyata terhadap konservasi hutan Gunung Pandan.

Ketiga, camping jurnalistik dan pelatihan lapangan. Gunung Pandan juga ideal untuk kegiatan camping jurnalistik, di mana peserta diajak berkemah sambil melakukan liputan atau observasi lapangan. Mereka dapat menggali berbagai topik, mulai dari flora-fauna lokal, potret kehidupan warga sekitar, hingga kisah sejarah lisan tentang Gunung Pandan. Aktivitas ini tidak hanya memperkuat keterampilan reportase, tetapi juga memperkaya dokumentasi tentang kawasan ini.

Keempat, wisata alam dan aktivitas edukatif. Selain pendakian reguler, ditawarkan pula program edukatif lain seperti:

  • Jelajah ekosistem (flora-fauna endemic sekitar Gunung Pandan)
  • Pelatihan konservasi sederhana (mengenali jejak satwa, menjaga sumber air)
  • Workshop bertema sejarah lokal di alam terbuka
  • Simulasi mitigasi bencana alam sederhana sebagai bagian dari edukasi kesiapsiagaan

Kelima, keterlibatan masyarakat lokal. Seluruh aktivitas di atas akan lebih kuat dampaknya jika melibatkan masyarakat sekitar sebagai pemandu lokal, pengisi materi sejarah, atau fasilitator kegiatan konservasi. Ini bukan hanya memperkuat keaslian pengalaman wisatawan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga sekitar Gunung Pandan.

Dengan pengelolaan yang terarah dan kolaboratif, Gunung Pandan berpeluang besar untuk tidak hanya menjadi destinasi pendakian populer, tetapi juga pusat edukasi alam dan sejarah yang berkelanjutan di Bojonegoro.

 

Potensi yang Masih Tersembunyi

Meski berpotensi besar menjadi wisata alam, sayangnya, potensi tersebut hingga saat ini belum dikelola secara maksimal. Dilansir dari radarbojonegoro.jawapos.com, pengembangan wisata Gunung Pandan terkendala persoalan izin, sebab kawasan ini berada di bawah pengelolaan Perhutani.

Hingga kini, belum ada pihak, baik dari jalur Klino maupun Banyu Kuning, yang resmi mengajukan izin pengelolaan. Aktivitas pendakian yang marak belakangan ini, terutama setelah Gunung Pandan viral di media sosial seperti TikTok dan Instagram, masih sebatas inisiatif masyarakat, tanpa ada pengelola resmi. Pendaki hanya membayar parkir di rumah-rumah warga sekitar.

Menurut Abdillah Mahardika, anggota Bidang Search and Rescue (SAR) MDMC Bojonegoro, pembukaan jalur pendakian baru berangkat dari kecintaan para pecinta alam terhadap potensi Gunung Pandan. Ia berharap kawasan ini tidak dibiarkan mangkrak dan dapat dikembangkan, setidaknya menjadi basecamp resmi via jalur Banyu Kuning. Namun, mengingat status kawasan sebagai hutan negara, pengelolaan wisata membutuhkan perencanaan matang serta koordinasi dengan pemerintah desa, pemerintah kabupaten, dan Perhutani.

Sunyoto, Kepala Sub Seksi Hukum dan Kepatuhan KPH Bojonegoro, menyatakan bahwa hingga pertengahan Januari 2025 belum ada pengajuan izin resmi dari pihak manapun terkait pengelolaan wisata Gunung Pandan. Pihaknya sendiri tengah merancang program pelestarian kawasan dengan melakukan penanaman pohon-pohon produktif seperti alpukat, kelengkeng, nangka, dan matoa untuk menjaga ekosistem sekitar Gunung Pandan tetap lestari.

Dari sisi regulasi, baik KPH Bojonegoro maupun Perhutani menyatakan keterbukaan untuk bekerja sama dengan pihak-pihak yang berminat mengelola kawasan ini, sepanjang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Bahkan, pihak Perhutani berharap adanya inisiatif konkret dari pemerintah desa atau swasta agar potensi Gunung Pandan dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Desa Klino, Dwi Nurjayanti, mengakui bahwa meskipun pendakian ke Gunung Pandan semakin ramai, hingga saat ini belum ada rencana konkret dari pihak desa untuk mengelola kawasan tersebut.

Jika kelak izin pengelolaan dapat dirumuskan dengan baik, Gunung Pandan tidak hanya menjadi destinasi wisata biasa, tetapi berpeluang menjadi pusat edukasi lingkungan yang mengajarkan pentingnya konservasi alam, sekaligus ruang terbuka untuk memperkenalkan sejarah lokal Bojonegoro kepada generasi muda dan wisatawan lebih luas.

Referensi

Andrea, Muhammad. (2024, 4 Oktober). Gunung Pandan: Mitos VS Literatur Sejarah. Diakses pada 27 April 2025, dari https://jurnaba.co/gunung-pandan-mitos-vs-data-literatur-sejarah/.

BPS Kota Surabaya. (2021, 30 Januari). Proyeksi Penduduk 2015-2025 (Perempuan+Laki-Laki) (Jiwa), 2020. Diakses pada 27 April 2025, dari https://surabayakota.bps.go.id/id/statistics-table/2/MjgjMg==/proyeksi-penduduk-2015-2025-perempuan-laki-laki-.html.

Diskominfo Bojonegoro. (2020, 30 Desember). Pemkab Upayakan Pemanfaatan Potensi Lahan Hutan di Bojonegoro. Diakses pada 27 April 2025, dari https://dinkominfo.bojonegorokab.go.id/berita/baca/848#:~:text=Hal%20ini%20saya%20harapkan%20dimanfaatkan,40%25%20luas%20wilayah%20kabupaten%20Bojonegoro.

Ramadhana, Yuan Edo. (2025, 12 Januari). Pengelolaan Wisata Gunung Pandan Masih Terkendala Izin Kawasan Hutan. Diakses pada 27 April 2025, dari https://radarbojonegoro.jawapos.com/life-style/715517831/pengelolaan-wisata-gunung-pandan-masih-terkendala-izin-kawasan-hutan.

Ramadhana, Yuan Edo. (2025, 16 Januari). KPH Bojonegoro: Belum Ada Pihak Mengajukan Izin Kelola Gunung Pandan. Diakses pada 27 April 2025, dari https://radarbojonegoro.jawapos.com/politik-pemerintahan/715533610/kph-bojonegoro-belum-ada-pihak-mengajukan-izin-kelola-gunung-pandan.

Sasmito, Parto. (2017, 23 Agustus). Serdadu Mengobrak-abrik Lereng Gunung Pandan. Diakses pada 27 April 2025, dari https://blokbojonegoro.com/2017/08/23/serdadu-mengobrakabrik-lereng-gunung-pandan/?m=0.

Sasmito, Parto. (2017, 31 Agustus). 6 Kali Belanda Gagal Masuk Temayang dan Gunung Pandan. Diakses pada 27 April 2025, dari https://kumparan.com/bloktuban/6-kali-belanda-gagal-masuk-temayang-dan-gunung-pandan.

Wikipedia. (2024, 3 Oktober). Gunung Pandan. Diakses pada 27 April 2025, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Pandan.

Wikipedia. (2025, 4 April). Kabupaten Bojonegoro. Diakses pada 27 April 2025, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Bojonegoro.

 

Tags: BojonegoroDestinasi WisataGunung PandanPendakianWisata Alam
Previous Post

Komunikasi Sambung Rasa di Era Mati Rasa Sosial

Next Post

Ngaji Jati Diri bersama Fahrudin Faiz di Bojonegoro: Belajar Ketenangan Hidup dari Stoikisme

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Bukan Mobil Tua, Hanya Beda Tahun Saja

Bukan Mobil Tua, Hanya Beda Tahun Saja

05/02/2026
Wawancara Khusus dengan John Tobing Pencipta Lagu Darah Juang, Lagu Wajib Para Demonstran 

Wawancara Khusus dengan John Tobing Pencipta Lagu Darah Juang, Lagu Wajib Para Demonstran 

26/02/2026
Majapahit Berusia 184 Tahun, Ini Urutan Nama Raja-Rajanya Sesuai Tahun

Majapahit Berusia 184 Tahun, Ini Urutan Nama Raja-Rajanya Sesuai Tahun

19/02/2026
Boleh Gaya Asal Suka Baca Bareng Lapak Buku dan Baca Mastumapel di CFD Bojonegoro

Boleh Gaya Asal Suka Baca Bareng Lapak Buku dan Baca Mastumapel di CFD Bojonegoro

11/02/2026
29 Kosakata Jawa Paling Populer di Bojonegoro Masa Lalu, Bagaimana Kini?

29 Kosakata Jawa Paling Populer di Bojonegoro Masa Lalu, Bagaimana Kini?

09/02/2026
Kue Tradisional Apem Khas Megengan, Simbol Tradisi dan Pengharapan

Kue Tradisional Apem Khas Megengan, Simbol Tradisi dan Pengharapan

23/02/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023