Bagi saya, Atas Angin Vol 6 tahun 2014 adalah arsip penting. Terbitan-terbitan lain, mungkin saja ada tersimpan, tapi ketlisut entah di mana.
Atas Angin merupakan jurnal (atau majalah?) yang diterbitan oleh Sindikat Baca, sebuah komunitas gerakan membaca di Kabupaten Bojonegoro. Lokasi Bojonegoro, bisa dicek di Maps. Sekitar 100 km dari Surabaya, perbatasan dengan Cepu, Ngawi, Nganjuk, dan Lamongan.
Tahun 2014 berarti 12 tahun telah lewat. Dan jurnal Atas Angin sepertinya hanya sampai di vol 7 saja. Setelah itu, berhenti terbit. Di edisi 2014 ini mengambil judul besar: Membaca Wayang. Saya lupa kenapa mengambil topik itu. Saya sendiri yang menulis untuk tulisan dengan judul yang digunakan sebagai judul besar Atas Angin.
Untuk daftar isi edisi ini adalah:
Redaksi: Tegak Lurus
Sepoi-Sepoi
- Muda Itu Ngepopuler/ Vera Astanti
- Membaca Wayang/ Nanang Fahrudin
Kesiur
- Menulis Adalah Menderita / Wawancara Martin Aleida
Semilir
- Keluarga Sosomulyo/ Ainun Najib
- Pedro/ Alex R. Nainggolan
- Enam Mili Detik/ Deborah Bundy
- Malam Kesekian/ M Noeris Anwar
- Janur, Labuh/ Lia Nur Aini
- Intadhirha/ Mahmoud Darwis
Semburat
- Atas Angin Literary/ Tulus Addarma
- Di Bawah Celana Jokpin/ Mohamad Tohir
- Kerja Sunyi Kearsipan/ A. Danial Arifudin
Gerimis
- Jawa yang Luwes dan Yang Marah/ Anas AG
- Disabilitas Cinta (komik)/ Sarwo M Djantur
Salah satu isi dari Atas Angin Vol 6 tahun 2014 adalah wawancara dengan penulis Martin Aleida. Kebetulan, pewawancara adalah saya sendiri. Proses wawancara tersebut, tentu bukan bersua langsung, melainkan lewat online. Yakni chat di inbox Facebook.
Sebenarnya saya tidak mengenal secara pribadi dengan Pak Martin, hanya beberapa judul bukunya, saya memilikinya semisal Liontin Dewangga, juga Mati Baik-baik Kawan. Saya juga membacai cerpen-cerpennya yang sering nongol di Harian Kompas. Di suatu waktu, saya memberanikan diri membuka percakapan lewat messanger Facebook. Syukurlah, Pak Martin menyanggupi wawancara secara tertulis. Saya pun menyiapkan sekitar 10 pertanyaan yang dijawabnya dengan kesanggupan menjawab, meski jawaban akan dikirim satu persatu. Bukan sekali waktu.
Setelah semua pertanyaan dijawab, saya pun menyusunnya menjadi sebuah laporan wawancara dengan judul “Menulis Adalah Menderita”. Setelah Atas Angin cetak, saya kirim ke alamat rumahnya dengan perasaan sangat senang. Tentu saya senang, karena ia sangat mengapresiasi hadirnya media kecil di sebuah daerah yang bukan kota besar. Ketika saya kabarkan bahwa Atas Angin sudah saya kirim, ia menjawab: Alhamdulillah, terimakasih, kutunggu.
Tak hanya Martin Aleida, pada edisi ini, juga diturunkan tulisan reportase dan wawancara dengan penyair (almarhum) Joko Pinurbo atau yang lebih akrab dengan nama Jokpin. Penulisnya adalah Mohamad Tohir yang kini lebih banyak berkegiatan urusan desain sampul dan tata letak isi buku. Tulisan ini berjudul “Di Bawah Celana Jokpin”.
Tulisan ini merupakan reportase Tohir saat menghadiri acara Jokpin di Gresik. Namun, kemudian dilanjutkan dengan wawancara sendiri. Kita bisa merasakan bagaimana Tohir bisa sampai melakukan reportase, naik bus dari Bojonegoro ke Gresik (terminal Bunder), lalu naik angkutan ke lokasi acara.
Oh ya, seingat saya, di edisi lain, Atas Angin juga pernah menurunkan tulisan wawancara dengan Remy Silado. Tapi entah di edisi tahun berapa, saya lupa. Dan info gembiranya: meski Atas Angin sudah tidak terbit lagi, namun grup WhatsApp nya masih “hidup”.








