Apa yang ditulis Agustinus Wibowo dalam buku Garis Batas (Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah), memang tentang kisah perjalanan pribadinya. Dan tentu banyak sekali buku catatan perjalanan ke seluruh penjuru dunia, seperti apa yang ditulis Agustinus. Tapi, kenapa buku Garis Batas ini tetap menarik untuk dibaca?
_______
Identitas Buku:
Judul: Garis Batas, Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah / Penulis: Agustinus Wibowo / Penerbit: Gramedia, 2011 / Tebal: 510 halaman
______
Bagi saya, ada beberapa alasan kenapa buku setebal 510 halaman ini penting untuk dibaca. Pertama, buku ini mengajak kita menjelajahi negeri-negeri Asia Tengah bekas jajahan Uni Soviet dengan bahasa sastrawi. Cara penggambaran perjalanan, kondisi alam, dan ketegangan-ketegangan dalam setiap perjalanan begitu terasa “nyata”. Seakan-akan kita ikut dalam perjalanan itu.
Kedua, cara pemaknaan yang dipakai Agustinus begitu dalam. Filosofis dengan usaha menyingkap makna dari apa yang tampak. Perjalanan yang sekilas tampak seperti traveling biasa ini, menjadi catatan menyingkap makna-makna mendasar tentang nasionalisme, kemanusiaan, perbedaan ras, komunisme, hingga makna Islam. Judul Garis Batas tak lain dipakai untuk menggambarkan betapa di mana-mana ada garis batas, entah itu kasat mata ataupun hanya imajiner.
Garis batas negara-negara adalah garis di mana muncul aneka korupsi, pemalakan, dan aksi-aksi kekejian dengan mengatasnamakan aturan sebuah negara. Ras dan suku merupakan garis batas lain lagi yang bisa menentukan nasib manusia. Di mana-mana ada garis batas yang telah ada atau diciptakan baru oleh manusia. Agustinus melakukan banyak riset yang bisa terbaca dalam buku Garis Batas ini. Termasuk ketika ia menceritakan siapa dirinya.
Ketiga, mengikuti kisah dalam buku ini, membawa imajinasi bagaimana catatan-catatan tersebut dibikin. Jika Anda seorang penulis, atau menyukai reportase, maka akan terbayang bagaimana Agustinus memulai perjalanan, mencatat hal-hal “penting”, mengasah ingatan, dan bahkan bertaruh nyawa. Karena, negara-negara yang dikunjungi bukanlah negara yang damai, namun negara-negara yang penuh konflik dan perang. Dan catatan perjalanan ke negara-negara konflik masih jarang ditemui, sehingga buku ini bak arsip yang perlu dikoleksi. Di samping kita bisa belajar bagaimana cara menulis catatan perjalanan yang baik.
Sekilas tentang Agustinus Wibowo
Memang tak ada “biografi penulis” di sampul belakang atau di bagian akhir halaman buku, sebagaimana umumnya buku. Namun, tentang siapa Agustinus Wibowo, kita bisa mengetahuinya dari apa yang ditulis secara acak di beberapa bagian buku.
Salah satunya ketika Agustinus berkisah tentang Kota Bishkek-Kirgiztan. Di Kota ini terdapat warga suku Dungan, pendatang dari China ke Kirgiztan. Mereka adalah minoritas yang seringkali terpinggirkan. Sebagaimana kisah Agustinus yang lahir di Lumajang-Jawa Timur. Ia bercerita, ayah dari ibunya lahir di Provinsi Hokkien, Tiongkok tahun 1921. Perang Jepang membawa kakeknya merantau hingga ke Indonesia (waktu itu belum bernama Indonesia). Neneknya adalah anak dari saudagar penarakan Tionghoa.
Ayah dari neneknya adalah pendiri vihara Budha terbesar di Lumajang. Sedang ayah dari ibunya (kakek) adalah kepala sekolah Tionghoa. Tahun 1966 rezim Soeharto mengukuhkan diksriminasi pada etnis Tionghoa, dan keluarga Agustinus merasakannya. Ibunya tak lulus SD, teman-teman ibunya semua hampir tidak bisa berbahasa Tionghoa. Keluarganya tidak diakui sebagai warga negara Indonesia.
Agustinus sendiri baru mendapat Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) ketika diterima kuliah di kampus negeri. Cerita-cerita tentang dirinya dan keluarga beberapa kali muncul dalam lipatan cerita yang disampaikan dalam buku ini. Secara personal, ia sempat bingung dengan identitasnya. Apakah Indonesia, di mana ia merasa dikucilkan, atau menjadi China tempat leluhurnya? Lagi-lagi Agustinus mengingatkan pada garis batas tersebut.
Pesan Makna “Garis Batas”
Penggunaan judul buku ini: Garis Batas, tentu bukan tanpa makna. Garis Batas adalah fakta yang sulit untuk ditolak. Kita sering terjebak pada garis batas. Sebuah garis pemisah dengan orang lain, kelompok lain, negara lain, partai politik lain, dan gari-garis batas pemisah lainnya. Garis itu terkadang terbentuk secara alami, tapi seringkali diciptakan oleh manusia atas manusia lain untuk menemukan identitas.
Perang Iran vs Amerika dan Israel, bukankah karena ada garis batas dalam konteks berbeda? Ini contoh garis batas paling ekstrem. Ada garis batas-garis batas lain yang sifatnya abu-abu, yang selalu membuat lubang jarak antar manusia. Segala macam garis batas itulah yang coba digaungkan oleh Agustinus Wibowo sebagai pengingat, bahwa kita seringkali melakukan itu, sadar atau tanpa sadar. Dan seringkali garis batas itupun dibuat dengan dalih kemanusiaan, kemenangan, kebaikan, dan dalih-dalih pembenar lainnya.
Perspektif ini senada dengan pikiran Amartya Sen dalam bukunya berjudul Kekerasan dan Ilusi tentang Identitas. Menurut Sen, identitas sebenarnya adalah ilusi yang dicipatakan oleh manusia untuk membedakannya dengan manusia lain. Namun seringkali identitas itu ditabrakkan dan menimbulkan kekerasan. Padahal, identitas tidak mungkin tunggal. Kita punya identitas sebagai ayah, tapi juga sebagai orang Indonesia, penyuka klub sepak bola MU, dan berlapis-lapis identitas yang tersemat pada diri kita.
Sehingga, identitas tunggal sebenarnya sebuah kemustahilan. Karena sebenarnya kita selalu memiliki kesamaan identitas dengan orang lain. Garis batas itu memang ada, tapi tidak selalu untuk dipertentangkan. Identitas tunggal adalah ilusi. Dan ilusi itu akan terus memunculkan kekerasan yang tak berkesudahan.
Tapi, membaca buku Garis Batas ini, tentu Anda bebas memiliki perspektif sendiri. Boleh jadi Anda akan berbeda memaknainya. Karena membaca buku sebenarnya adalah menangkap makna-makna yang berlapis, yang disuguhkan oleh penulis melalui kata dan kalimat yang berlembar-lembar. Selamat membaca! Izinkan saya beranjak ke buku selanjutnya, berjudul Selimut Debu, perjalanan ke Afghanistan.









