Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Bojonegoro Kota

Perahu Kuno di Bojonegoro: Bukti Ekonomi Transportasi Air Bengawan Solo pada Abad XVII

Kajar Alit Djati
05/06/2025
Perahu Kuno di Bojonegoro: Bukti Ekonomi Transportasi Air Bengawan Solo pada Abad XVII

Ilustrasi perahu kuno by AI

Mastumapel.com – Di sudut Dusun Padang, Desa Padang, Kecamatan Trucuk, Bojonegoro, Jawa Timur, terhampar sebuah kisah kuno yang nyaris terkubur waktu. Bukan sekadar tanah persawahan di tepi Bengawan Solo, melainkan saksi bisu peradaban maritim masa lalu. Pada September 2005, warga setempat menemukan sebuah perahu kuno, teronggok terlantar di alur sungai terpanjang di Jawa itu. Sebuah temuan yang menjanjikan, seolah ingin bercerita tentang gemuruh roda ekonomi transportasi air Bengawan Solo di abad XVII

Perahu itu, yang diperkirakan berasal dari tahun 1617, memiliki jejak-jejak masa lalu yang samar. Pada bagian gadingnya, masih terlihat sisa-sisa gambar yang menyerupai bunga teratai, meski sudah sangat memudar dimakan usia dan waktu. Temuan ini langsung memicu pertanyaan: Seberapa pentingkah Bengawan Solo sebagai jalur nadi ekonomi di masa lalu?

Prasasti Canggu dan Jejak Pelabuhan Kuno di Bojonegoro

Dugaan bahwa Bengawan Solo adalah pusat roda ekonomi transportasi air pada masa itu diperkuat oleh sebuah bukti historis tak terbantahkan: Prasasti Canggu tahun 1358 M. Prasasti ini, yang berasal dari era Kerajaan Majapahit, secara jelas menyebutkan keberadaan desa-desa penambangan di seluruh wilayah kekuasaan Pulau Jawa. Menariknya, banyak di antara desa-desa penambangan ini terletak di tepi Bengawan Solo.

Sederet nama tempat muncul dalam prasasti itu, seperti Temon, Parajengan, Wunglu, Banumredu, Tambak, Pujut, Dmak, Klung, Pagedangan, Randu Gowok, Wahas, Jeruk, Madanten, Waringin Wok, Bajrapura, Sambo, Balawi, Katapang, Kamudi, Parijik, Parung, Pasiwuran, Bhangkal, Widang, Pakbohan, Lowara, Duri, Raci, Rewun, Sumbang, Malo, Kawangen, Sudah, Balun, Marebo, Jipang, Ngawi, Wangkalang, Penuh, Barang, Wareng, Amban, Kembu, dan Wulayu, adalah bukti nyata betapa sibuknya lalu lintas sungai ini.

Salah satu nama kuno yang disebutkan dalam Prasasti Canggu adalah Malo. Nama ini tak asing bagi warga Bojonegoro, karena Malo adalah nama salah satu kecamatan di Bojonegoro yang terletak di sebelah utara Bengawan Solo. Ternyata, Malo diduga sudah eksis sejak tahun 1358 M, bahkan disebut sebagai desa perdikan yang kepala desanya bertugas menyediakan jasa penyeberangan perahu tambangan.

Hal ini menegaskan bahwa daerah ini telah menjadi pusat aktivitas perdagangan dan transportasi air sejak masa Kerajaan Majapahit, jauh sebelum perahu kuno di Padang tenggelam.

Nur Efendi dan Septina Alrianingrum dari Universitas Negeri Surabaya, dalam sebuah studi yang diunggah di jurnal Avatara Volume 2, No. 3, Oktober 2014 menyebutkan bahwa temuan-temuan yang ada menegaskan bahwa Bengawan Solo telah berfungsi sebagai tempat aktivitas perdagangan lokal dengan tembikar sebagai salah satu komoditi perdagangannya. Aktifitas indutri penduduk lokal di sekitar aliran Bengawan Solo telah maju dengan menghasilkan berbagai alat kehidupan sehari-hari. Dapat diketahui pula bahwa sebagian penduduk di sekitar aliran Bengawan Solo.

Kondisi Perahu Kuno

Saat ditemukan pada Oktober 2005, perahu sepanjang 25 meter dengan lebar empat meter ini sudah dalam kondisi yang sangat rapuh. Seluruh bagian badan kayu nyaris hancur. Penelitian menunjukkan, sebagian besar perahu ini terbuat dari kayu jati (Tectona grandis-Verbenaceae), namun pasaknya menggunakan kayu Jambu Jine (Flindersia sp- Rutaceae). Temuan kayu Jambu Jine ini menarik, sebab kayu jenis ini hanya ditemukan di kawasan Timur Indonesia hingga Australia. Ini mengindikasikan bahwa perahu tersebut tidak dibuat di Jawa, melainkan kemungkinan besar berasal dari Sulawesi Tenggara, termasuk Muna, yang kaya akan pohon jati alam.

Diperkirakan, perahu ini telah mengarungi lautan pada masa Kerajaan Gowa dan Mataram, sebelum akhirnya menyusuri Bengawan Solo pada abad ke-17 M dan karam di perairan tersebut. Dugaan bahwa penggunaan pasak dari kayu Jambu Jine yang berkelas awet rendah menjadi salah satu penyebab kerusakan dan karamnya perahu.

Kepala Bidang Pengembangan dan Pelestarian Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro Saptatik, mengungkapkan bahwa perahu tersebut tidak dilengkapi pelindung. “Kerusakan perahu terjadi akibat tidak dilengkapi pelindung, sehingga kalau panas akan kepanasan, kalau hujan akan kehujanan,” katanya.

Tags: Abad XVIIPerahu Bengawan SoloPerahu Kuno BojonegoroSejarah
Previous Post

Ngaji Jati Diri bersama Fahrudin Faiz di Bojonegoro: Belajar Ketenangan Hidup dari Stoikisme

Next Post

Kurban Kawuri Lan Jaman Sakiki

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Baca SERUNI, Suguhan Terbaru Perpustakaan dan UKMP Griya Cendekia Unugiri  

Baca SERUNI, Suguhan Terbaru Perpustakaan dan UKMP Griya Cendekia Unugiri  

16/05/2026
Dari Warisan Keluarga, Kerupuk Klenteng Bojonegoro jadi Warisan Budaya Tak Benda

Dari Warisan Keluarga, Kerupuk Klenteng Bojonegoro jadi Warisan Budaya Tak Benda

23/05/2026
Jurnalistik Trip #5: Cerita Jejak Rasa Kerupuk Klenteng Bojonegoro

Jurnalistik Trip #5: Cerita Jejak Rasa Kerupuk Klenteng Bojonegoro

17/05/2026
Cerita Strategi Anton Indarno Merawat Bisnis Kerupuk Klenteng, Warisan Keluarga Sejak 1929

Cerita Strategi Anton Indarno Merawat Bisnis Kerupuk Klenteng, Warisan Keluarga Sejak 1929

19/05/2026
Membaca Wigati, Membaca Batin Perempuan Jawa Pesantren

Membaca Wigati, Membaca Batin Perempuan Jawa Pesantren

31/05/2026
ESAI BUKU: Membaca yang Merambat

ESAI BUKU: Membaca yang Merambat

30/05/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023