Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Mitos & Sejarah

Musik Oklik Bojonegoro, Sejarah Singkat dan Dua Maestronya

Eni Puspita Sari
11/11/2025
Musik Oklik Bojonegoro, Sejarah Singkat dan Dua Maestronya

Oklik Bojonegoro/Sumber: Bojonegorokab

Kamu pernah nonton Oklik Bojonegoro? Jika belum, mari simak penjelasan singkat tentang Oklik Bojonegoro.

Kesenian tradisional musik Oklik menggunakan alat musik dari bambu. Alat musik ini juga digunakan di daerah lain, yakni Angklung dari Jawa Barat, Tongkek dari Lombok, Kongkil dari Ponorogo, kenthongan dari Banyumas dan alat musik Bhegu dari Nusa Tenggara Timur, yang semuanya memiliki komponen musik bambu di dalamnya.

Bentuk alat musik Oklik sama dengan alat komunikasi daerah dahulu yaitu kenthongan. Alat musik pukul yang dipukul bersamaan secara bergantian. Oklik biasanya dipertunjukkan di beberapa acara yang ada di Bojonegoro. Baik saat bulan Ramadhan, atau perayaan hari-hari penting.

Oklik Bojonegoro Dimainkan secara Kelompok

Permainan musik Oklik memiliki ritmis (bunyi beraturan) yang sama dan dilakukan pengulangan beberapa kali. Dalam pementasannya dilakukan secara bersahut-sahutan antara instrumen (alat musik) Oklik satu dan yang lainnya. Sehingga menghasilkan nada yang bagus dan penuh semangat mengiringi lagu.

Musik Oklik terdapat 4 jenis yaitu Thintil Kerep, Thintil Arang, Gedhug, dan Thur/Klur. Thintil Kerep dan Thintil Arang bentuknya hampir sama. Thintil Arang memiliki suara lebih tinggi daripada Thintil Kerep. Keduanya menjadi peran utama dalam permainan musik Oklik. Sedangkan Gedhug cara memainkannya dengan cara digedhug atau dihentakkan ke tanah. Gedhug berfungsi sebagai penyela dalam permainan musik Oklik. Adapun Thur/Klur memiliki suara paling rendah dalam musik Oklik.

Sejarah Singkat Oklik Bojonegoro

Salah satu poster kegiatan Oklik Bojonegoro

Kesenian Oklik tercipta dari sebuah peristiwa sejarah, kemudian menyebar dan semakin dikenal di seluruh daerah Bojonegoro. Sejarah musik oklik tercipta karena adanya pagebluk (wabah/penyakit) yang melanda Desa Sobontoro, Kecamatan Balen, Bojonegoro. Hal ini dikuatkan oleh penelitian yang dilakukan Karyawanto dkk, dari penuturan Darminto, pegiat Oklik di Desa Sobontoro mengenai sejarah Oklik.

Bahwa Desa Sobontoro kala itu terjangkit wabah yang mematikan, setiap hari warga meninggal sebab wabah ini. Selain itu juga sering terjadi perampokan. Adanya kejadian ini membuat warga desa resah. Pada saat itu terdapat tokoh masyarakat yang ingin menolong, mengatasi keresahan warga Desa Sobontoro dengan  melakukan meditasi (menyendiri) untuk mencari petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Akhirnya tokoh ini mendapat petunjuk seperti berikut: mengimbau agar warga desa membuat bunyi-bunyian dari bambu kemudian dimainkan bersama-sama keliling desa pada malam hari, warga desa wajib membuat ting (lampu teplok) di masing-masing rumah. Warga juga diminta melakukan lima hal: menebangi semak belukar; mengalirkan air sungai, air selokan dan saluran air lain; menanam empon-empon (tumbuhan obat keluarga); berdoa meminta keselamatan; dan terakhir warga dihimbau membuat cakruk (pos kamping) yang dijaga secara berganti.

Setelah beberapa hari melakukan pesan tersebut, perampokan berhenti dan wabah mulai berkurang. Walaupun wabah telah berkurang, warga tetap berkeliling desa membunyikan bambu-bambu. Pada saat itu, perkumpulan beberapa penjaga cakruk memainkan bambu bersama-sama, kelompok warga bagian selatan dan utara memainkan bambu bertemu kelompok bagian timur dan barat di satu titik. Terjadi perbincangan dan merasa musik bambu ini seperti perkusi. Bunyi bambu terdengar “klek..klek..klek..” dari sinilah musik bambu ini dinamakan Oklik.

Kemudian ada warga yang pandai bersyair dan menembang, menyuarakan sambil memainkan Oklik. Jadilah musik Oklik digunakan sebagai pengiringnya. Darminto mengatakan, pertunjukan musik Oklik dulunya disuguhkan dengan dagelan (lawak), tari dan penyanyi, namun hal itu disesuaikan kebutuhan, karena tidak ada aturan paten jumlah pemainnya. Pada perkembangan permainan Oklik Bojonegoro, awalnya syair dibunyikan dahulu, tanpa iringan musik, baru gedhuk dipukul. Perkembangan selanjutnya syair dibunyikan kemudian diberi suara gong dari mulut pemain musik. Dengan cara salah satu warga yang menyanyikan syair, diikuti suara kata “gong” dari mulut pemain musik, barulah gedhuknya dimainkan.

Mengutip dari beberapa sumber, waktu itu Bojonegoro masih berbentuk keresidenan. Sehingga diduga masyarakat setempat masih dalam peralihan masa kerajaan dan kepercayaan terhadap kekuatan yang ada pada suatu hal atau benda masih kuat. Masyarakat setempat kala itu mempercayai musik oklik sebagai ritual pengusir roh jahat dan penyakit. Yang mana ketika musik Oklik mulai dimainkan lampu ting dinyalakan, sebagai tanda sebuah kehidupan, menerangi kegelapan supaya perampokan dan penyakit tidak datang lagi.

Musik Oklik Jadi Sarana Pemersatu Warga

Juga saat permainan musik oklik berlangsung, penyanyi menyanyikan lagu yang di dalamnya terdapat syair. Syair ini memiliki makna, sebagai pengusir roh dan penyakit, juga untuk menasehati masyarakat serta mengungkapkan keluh kesah masyarakat terhadap pejabat-pejabat tinggi. Selain itu musik Oklik digunakan sebagai sarana pemersatu masyarakat untuk berkumpul dan bercengkrama, alat membangunkan sahur ketika Bulan Ramadhan, juga dipentaskan masyarakat, sebagai hiburan pada kegiatan sedekah bumi, maupun mengisi acara hajatan.

Seiring dengan berjalannya waktu, musik Oklik mulai dikenal masyarakat daerah sekitar Desa Sobontoro. Musik Oklik mulai diundang untuk mengisi acara-acara, termasuk dalam  kegiatan di pemerintah kabupaten Bojonegoro. Hal ini menggambarkan proses Oklik dari yang menjadi alat komunikasi dan sarana ritual pengobatan warga, serta keagamaan berubah menjadi kesenian.

Dua Maestro Oklik Bojonegoro

Musik Oklik sekarang telah dikembangkan menjadi berbagai versi. Di Bojonegoro terdapat dua maestro Oklik yakni Darminto dan almarhum Djagat Pramujito. Seperti mengutip dalam penelitian Anggraeni dkk. pengembangan pada alat musik Oklik, yang awalnya berupa kenthongan, alat musik pukul tanpa nada dikembangkan jadi memiliki nada. Instrumen Oklik Thintil Arang dan Thintil Kerep diekspor (dipelajari) agar dapat menghasilkan nada-nada diatonis (tangga nada) yang disusun secara berurutan.

Pada proses penyajiannya, yang awalnya musik Oklik membawakan tembangan atau kidungan daerah, sekarang bisa menyajikan lagu-lagu modern. Pengembangan ini dibersama oleh para generasi muda dan seniman di Bojonegoro. Menjadi bentuk upaya untuk tetap melestarikan budaya musik Oklik di masa sekarang, sebagai kesenian musik khas Bojonegoro.

 

 

Tags: OklikOklik BojonegoroSeni PertunjukanSeni TradisionalSeninam
Previous Post

Mbah Kramat Dandang: Panyebar Islam di Bojonegoro Timur

Next Post

Melihat Kampung Kalongan dari Dekat, Permukiman Tengah Hutan Jati Bojonegoro

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Kolaborasi Pemuda Seni Bojonegoro, Suarakan Isu Sosial Melalui Panggung Pertunjukan

Kolaborasi Pemuda Seni Bojonegoro, Suarakan Isu Sosial Melalui Panggung Pertunjukan

30/05/2026
ESAI BUKU: Membaca yang Merambat

ESAI BUKU: Membaca yang Merambat

30/05/2026
Aku, Kerupuk Klenteng, dan Cerita Rasa

Aku, Kerupuk Klenteng, dan Cerita Rasa

20/05/2026
Membaca Wigati, Membaca Batin Perempuan Jawa Pesantren

Membaca Wigati, Membaca Batin Perempuan Jawa Pesantren

31/05/2026
Menjaga Warisan 1929, Filosofi Adaptasi dan Keteguhan di Balik Renyahnya Kerupuk Klenteng

Menjaga Warisan 1929, Filosofi Adaptasi dan Keteguhan di Balik Renyahnya Kerupuk Klenteng

18/05/2026
Jurnalistik Trip #5: Cerita Jejak Rasa Kerupuk Klenteng Bojonegoro

Jurnalistik Trip #5: Cerita Jejak Rasa Kerupuk Klenteng Bojonegoro

17/05/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023