Saya tiba bersama seorang teman di Bojonegoro Creative Hub (BCH) Jl. Pemuda Bojonegoro sekitar pukul 8 malam. Di lantai 2, pertunjukan seni digelar dalam acara Bojonegoro Circle Art, Jumat (29/5/2026).
Berbagai pertunjukan seni disuguhkan. Ada tampilan monolog dari Tetaer Lorong Putih SMAN 1 Bojonegoro, drama dari Teater Lintang Giri Unugiri, sandur dari Sedhet Sepret Collaboration, dan monolog dari Teater Ruang Hening Solo Jawa Tengah.
Sebuah drama berjudul HP Anyar yang dibawakan Teater Lintang Giri, saya nikmati dengan ringan. Topik dramanya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kisah seorang ibu yang tiap hari selalu sibuk, tangannya menyapu, mulutnya berpuisi panjang perihal lelah tentang anak, kebutuhan sehari-hari dan krisis hidup.
“Tan, Intan! Nduwe anak wedok yo gak gelem ngiwangi mbok e,” teriak sosok Mak memanggil anak pertamanya.
Baginya, perempuan ya harus seperti dirinya. Selelah apapun, pekerjaan domestik harus dituntaskan. Adik Intan, si Agus, turut pula kena omelan. Setidaknya sebagai anak laki-laki ia harus bisa mengurus sapi. Terbersit tanya di benak saya, ke mana bapaknya si Intan ya?
Di tengah keributan itu, Intan mencoba merayu ibunya, ingin dibelikan HP baru. HP dengan kamera jernih agar live tiktoknya semakin bersahaja. Supaya baju-baju yang ia tawarkan terjual lebih banyak dari biasanya.
Telfon berdering, emak Intan mengangkat panggilan dari seorang teman. Berkeluh kesah soal kebutuhan anak, pekerjaan rumah yang tiada habisnya dan masalah ekonomi yang tak kunjung usai. “Sak jok enek MGB kantin yo kukut to, Jeng,” curhatnya. “Buroh tandur nganti sikil rangen yo tak alami,” tambahnya.

Mungkin kebanyakan ibu memang seperti emak Intan, meski mengeluh, lelah dan berat, tetap berjuang bagaimanapun terjal jalan kerja yang ditempuhnya.
Pada akhirnya, persoalan hidup terlalu kompleks. Agus yang judol hingga rumah mereka akan disita padahal emak baru saja membelikan HP baru usai mendapat arisan, diam-diam menjual anak sapi emaknya.
Emak yang bebannya sudah sangat berat itu, meraung-raung mendapati hanya tali kembala yang tersisa di kandang sapinya. Lalu mati dengan beban yang masih bertumpuk di bahunya.
Pertunjukan kemudian beralih ke Sandur. Seni pertunjukan dengan judul Salah Paham ini juga cerita ringan sebenarnya. Bagaimana Cawik sebagai tokoh perempuan membuat Balong kekasihnya salah paham. Namun, di cerita yang ringan itu, pemuda-pemuda Bojonegoro membungkus narasi-narasi yang menyuarakan isu-isu sosial.
Balong yang bekerja pada Wak Tangsil seperti potret buruh saat ini. Di saat libur dan ingin kencan dengan Cawik, ia ditelfon untuk bekerja. Jika tidak datang, ia dipecat. Malang sekali nasib buruh seperti Balong.
Ketika sampai, ia hanya digaji Rp 30 ribu saja sebagai pekerja sound horeg meski kata Wak Tangsil itu event pemerintah, yang kata orang, tentu banyak gajinya. Balong menerima dengan terpaksa upah tidak layak tersebut, dari pada dipecat dan lontang-lantung. “Siapa tahu habis event ini benar ada 19 juta lapangan pekerjaan itu, Wak,” harap Balong. Penonton pun tertawa dengan dialog itu, meski kemudian ada yang mengumpat.

Wak Tangsil pun menjelaskan event pemerintah adalah lomba kopok atau budek. Siapapun yang tidak mendengar sound horeg dengan nada tinggi, ia pemenangnya.
“Nak kui sing menang yo wis pasti to, Waaak,” ucap Balong dengan nada panjang di akhir kalimat sebagai ciri khas dialog sandur.
Wak Tangsil yang kebingungan pun bertanya, siapa peserta yang menurut Balong bakalan mebang itu. “Yo pemerintah e dewe to, Waaak. Kan selama iki suara-suara rakyat ora didengar to, Waaak.”
Riuh tawa penonton kembali terdengar. Di antara masalah yang menghimpit, orang Indonesia selalu berhasil menciptakan komedi di sela-selanya.









