Sudah sejak dulu, bahasa menjadi alat komunikasi dan menjadi pembeda antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok lain. Bahasa pula yang membentuk karakter masyarakat. Namun, yang masih jarang diresapi adalah bahasa menjadi identitas daerah, yang jika dikelola dengan baik, maka akan berkembang menjadi bisnis kreatif. Semua kembali kepada manusianya. Penuturnya.
Masyarakat Bojonegoro, dalam kesehariannya menggunakan bahasa jawa. Tapi dialeknya memiliki ciri khas. Bagi para penuturnya, mungkin dialek itu biasa-biasa saja. Akan tetapi jika ditelisik secara mendalam, maka akan terasa perbedaan-perbedaan, semisal dibanding dengan Surabaya atau bahasa jawa di Surakarta maupun Yogyakarta.
Yang sangat terasa, bahasa Bojonegoro (basa Bojonegaran), adalah kosakata yang dipakai sehari-hari, sering kita mendengar ada akhiran “em”. Misal Pakem dari kata Pak dan akhiran em yang artinya bapakmu. Atau bukem (buk dan em), Hapenem (hape dan em), dan seterusnya. Em memiliki makna kepunyaanmu.
Dalam konteks basa Bojonegaran ini, ada satu buku yang menarik menjadi bahan diskusi. Buku ditulis oleh Puspa Ruriana, diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2013. Buku tersebut berjudul Bahasa Jawa di Kabupaten Bojonegoro (Kajian Dialektologis).
Buku ini cukup menarik. Karena merupakan hasil penelitian, yang merupakan sambungan dari penelitian-penelitian Balai Bahasa sebelumnya, yang dilakukan di daerah lain. Apalagi ternyata, untuk bahasa jawa di Jawa Timur ternyata menjadi bahasa daerah dengan jumlah penutur terbanyak karena penduduk Jawa Timur mayoritas adalah suku jawa. Para penuturnya, memiliki logat yang berbeda-beda. Logat sendiri merupakan istilah untuk dialek atau subdialek.
Pada 2009-2010, Balai Bahasa Jawa Timur melakukan penelitian terhadap bahasa jawa di daerah Tapal Kuda dan Pesisir Utara. Hasilnya ada beberapa subdialek, yakni Tengger, Lumajang-Jember, Bondowoso, Situbondo, Pasuruan, Probolinggo, Surabaya-Sidoarjo, Gresik, Lamongan, dan Tuban.
Nah, pada level satu daerah, ternyata juga memiliki subdialek yang berbeda-beda. Warga Bojonegoro tentu bisa merasakan perbedaan itu. Terutama bahasa warga yang tinggal di Kecamatan Margomulyo, dengan bahasa yang digunakan warga Kecamatan Baureno. Perbedaan subdialek itu, terjawab dalam penelitian yang dilakukan oleh Puspa Ruriana (2013) sebagaimana disebutkan di atas.
Proses penelitian Puspa membagi daerah pengamatan (DP) sebagai obyek penelitian, menjadi lima DP. Secara detail, DP tersebut adalah:
- DP 1 di Desa Geneng, Kecamatan Margomulyo
- DP 2 Desa Dengue, Kecamatan Padangan
- DP 3 Desa Pagerwesi Kecamatan Trucuk
- DP 4 Desa Drajat Kecamatan Baureno
- DP 5 Desa Puguhrejo Kecamatan Gondang
Hasilnya, di wilayah Kabupaten Bojonegoro terdapat tiga subdialek. Pertama adalah subdialek Margomulyo-Padangan. Pada DP 1 dan 2 ternyata, warga mempunyai logat dan bahasa yang mirip. Basa Bojonegaran yang digunakan warga di wilayah Kecamatan Margomulyo-Padangan (dan kemungkinan juga Tambakrejo, Ngraho, dan sekitarnya) ini ada kemiripan dengan bahasa yang digunakan di Solo. Boleh jadi, ini dipengaruhi dari kesejarahan juga, bahwa kerajaan Jipang erat kaitannya dengan Kerajaan Mataram. Bahkan, wilayah Bojonegoro juga pernah menjadi bagian dari Kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.
Subdialek kedua adalah Basa Bojonegaran di Kecamatan Trucuk. Basa Bojonegaran yang dipakai warga Trucuk ternyata berbeda dibanding wilayah-wilayah lain. Hal ini dimungkinkan karena terpengaruh bahasa Pantura Tuban. Karena letak Trucuk berbatasan dengan Kabupaten Tuban.
Sedang, Basa Bojonegaran subdialek ketiga adalah subdialek Baureno-Gondang. Kecamatan Baureno berbatasan dengan Kabupaten Lamongan. Sedang Kecamatan Gondang berbatasan dengan Kabupaten Ngawi dan Madiun. Namun ternyata di Baureno dan Gondang punya kesamaan subdialek. Kemungkinan, subdialek ini diperngaruhi Lamongan atau basa Surabaya.
Basa Bojonegaran yang dituturkan dengan tiga subdialek tersebut hingga kini masih lestari di masyarakat. Meski, tentu menemui tantangannya masing-masing. Salah satu tantangan adalah keengganan anak-anak muda untuk menggunakan Basa Bojonegaran dalam kehidupan sehari-hari. Dan ini perlu mendapat perhatian bersama. Bahwa menggunakan Basa Bojonegaran adalah sesuatu yang wajar dan menyenangkan. Perspektif itu perlu untuk ditanamkan ke anak-anak muda.
Selain itu, tantangan lain adalah dunia digital yang menggiring semua orang untuk menjadi seragam. Sama dalam gaya pakaian, sama dalam cara berpikir, dan sama dalam bertutur kata. Sehingga pada titik inilah, lokalitas adalah kekayaan nyata yang perlu untuk dipertahankan.
Salam!
__________
Penulis adalah pegiat literasi kearifan lokal di Bojonegoro








