“Rawuh Panjenengan sami dados terapi kulo”. Begitu pesan singkat yang saya terima. Pengirimnya adalah JFX Hoery, penulis sastra jawa yang tinggal di Padangan, Bojonegoro. Pesan itu dikirim usai kami berkunjung di rumahnya, Sabtu (27/4/2026) dalam sebuah event Jurnalistik Trip yang digelar Mastumapel.
Kami, tujuh orang bertamu di rumahnya yang asri di Padangan. Gang masuk ke rumahnya agak sempit, hanya cukup satu mobil jalan. Tak jauh dari rumahnya, sekitar 100 meter, tepatnya di sekitar perempatan, berdiri kokoh bangunan masa kolonial Belanda. Satu bangunan besar kini menjadi markas Polsek Padangan, dan tepat di sampingnya kini menjadi Padangan Herritage yang dimiliki Pemkab Bojonegoro. Padangan memang kota tua.
Rumah JFX Hoery cukup luas. Namun, penuh oleh barang-barang seperti komputer, tumpukan buku, dan majalah. Di dinding rumahnya terpajang banyak pigura yang berisi piagam penghargaan dari level kabupaten hingga tingkat nasional. Sedang di lantai dua, penuh dengan koleksi majalah dan buku. Untuk majalah berbahasa jawa, boleh dibilang, koleksinya (mungkin) paling lengkap.
Mulai majalah Jaya Baya, Panjebar Semangat, Djoko Lodang, Mekarsari, dan lainnya. Majalah-majalah ibu dibundel dengan cukup rapi, diletakkan di almari kayu, dan ditutup kelambu untuk menghindari debu. Jika ada tamu, kelambu itu akan dibuka. Bundelan majalah itu telah diberi penanda edisi dan tahun di punggungnya, sehingga, memudahkan siapapun yang mencarinya.
“Saya langganan majalah-majalah ini, dan saya kumpulkan. Ada yang dari tahun 1970,” katanya dengan penuh semangat. Kita bisa membayangkan betapa tekunnya beliau. Betapa cintanya beliau dengan koleksinya. Lantai dua rumahnya adalah juga rumah bagi buku dan majalahnya.
Hoery memang banyak menghabiskan waktunya dengan menulis, terutama sastra jawa. Pada tahun 1962, waktu duduk di bangku SMP, ia sudah mulai menulis di majalah dinding. Lalu menulis cerita di majalah Taman Putro. Sejak itu kecintaannya menulis semakin menebal dan terus menulis hingga usia 81 tahun kini. Di rumah, beliau tinggal bersama istrinya, pensiunan guru. Sedang anak-anaknya telah berumah tangga dan tinggal terpisah.
“Waktu malam, ketika susah tidur, saya memilih menulis. Usia tua, itu memang sudah mulai susah tidur di malam hari. Daripada waktu terbuang sia-sia, saya menulis saja,” katanya kepada kami.
Saya mendengar tiap apa yang disampaikan beliau dengan penuh kekaguman. Karena, dunia yang dijalaninya, mirip dengan jalan yang saya lalui. Sama-sama menyukai koleksi buku. Meski tentu saja, saya tidak ada apa-apanya dibanding beliau.
Saya mengenal nama JFX Hoery dari sabahat saya, Anas AG (almarhum). Anas sering menyebut namanya. Itu terjadi kisaran tahun 2009, ketika saya dan Anas sama-sama menjadi jurnalis dan mendirikan Sindikat Baca. Sebelum kegiatan Jurnalistik Trip kali ini, saya juga sudah pernah ke rumah beliau untuk tujuan podcast dariNOL. Selain bertemu di rumahnya, saya juga beberapa kali bertemu beliau di beberapa acara diskusi maupun kegiatan PSJB (Pamarsudi Sastra Jawa Bojonegoro) yang didirikannya bersama beberapa temannya.
Kiprah Hoery di dunia sastra jawa membentang panjang. Kini beliau sedang menyiapkan
Setaip kali bertemu, kesan saya sama: sosok penuh semangat. Ketika kami berkunjung, beliau begitu bersemangat, tak pelit ilmu. Apa saja yang ditanyakan oleh kami, dijawabnya dengan panjang lebar. Bahkan, kami mendapat oleh-oleh buku untuk kami bawa pulang.
Terimakasih!









